Minggu, 13 Juni 2021

mengurus Sertifikat Tanah

LANGKAH - LANGKAH MEMBUAT SERTIPIKAT TANAH MURAH TANPA PAKAI NOTARIS . . . 

Banyak orang berkata membuat sertipikat tanah itu ribet, susah menghabiskan jutaan rupiah dan lama . . . !!!

Sudah menjadi mainset atau kebiasaan di masyarakat, bahwa membuat sertipikat tanah itu harus lewat notaris dengan biaya mahal dan lama jadinya.

Padahal sudah banyak kasus orang membuat sertipikat tanah mempercayakan kepada notaris selain biayanya mahal, juga lama sekali jadinya sertipikat dari berbulan-bulan sampai bertahun-tahun.

Aslinya membuat sertipikat tanah maju urus sendiri tanpa pakai Notaris, itu bisa sangat mudah dan biaya juga sangat murah.

Jika anda disibukkan oleh faktor pekerjaan, dagang, bisnis dan lainnya yang membuat waktu anda tidak memungkinkan untuk membuat sertipikat tanah maju sendiri.

Berikan kuasa kepada saudara anda atau tetangga anda yang masih menganggur atau orang yang menurut anda bisa dipercaya untuk mendaftarkan sertipikat tanah anda.

Kemudian datanglah ke kantor BPN untuk menanyakan persyaratan pendaftaran, biaya dan waktu selesainya sertipikat tanah sesuai dengan riwayat tanah yang akan anda buatkan sertipikat.

Riwayat sertipikat tanah itu macam-macem yaitu pembuatan sertipikat baru, balik nama waris, hibah, jual beli, sertipikat hilang dan lainnya.

Kemudian jika sudah datang ke Bagian Pendaftaran BPN dan masyarakat yang akan mendaftar maju sendiri ditolak dan diarahkan harus pakai atau melalui notaris.

Maka bisa diduga oknum pegawai BPN itu bermain dengan oknum Notaris dalam bisnis pendaftaran sertipikat tanah.

Sebab tidak ada dasar hukum dan melanggar hukum jika pegawai BPN menolak masyarakat maju sendiri mendaftar sertipikat tanah.

Dan tak usah bingung ketika ketemu kasus seperti itu, di google banyak sekali informasi tentang syarat-syarat berkas yang dibutuhkan untuk pendaftaran sertipikat tanah, dan tinggal ketik di pencarian sesuai riwayat tanah anda maka akan terbuka banyak informasi.

■ Berapa sih biaya pembuatan sertipikat tanah di BPN ketika diurus sendiri ?

1. Pendaftaran awal dari Letter C ke Sertipikat = Rp. 800.000an

2. Pecah atau Split = Rp. 400.000an

3. Balik nama = Rp. 300.000an

4. Pecah dan Balik Nama = Rp. 800.000an

5. Dan lain-lainnya.

Dasar hukum :

(Peraturan Pemerintah No 128 Tahun 2015)

■ Berapa sih waktu pembuatan sertipikat tanah di BPN ?

1. Pendaftaran awal dari Letter C ke Sertifikat = 98 hari

2. Pecah atau Split = 15 hari

3. Balik Nama = 5 hari

4. Dan lain-lainnya.

Dasar hukum :

(Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 1 Tahun 2010)

Dan apa sih yang membuat mahal dalam pembuatan sertipikat tanah itu?

Yang membuat mahal adalah urusan melengkapi berkas persyaratan dari mulai mengurus surat di Desa, Kecamatan dan Dinas dan pembuatan Akta di PPATS (Pejabat Pembuat Akta Tanah Sementara) atau PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah) swasta atau non pemerintah.

Biaya pengurusan berkas persyaratan bisa menghabiskan biaya dari Rp. 500.000 sampai 2 juta.

Baik untuk biaya bolak-balik mengeluarkan bensin, makan, rokok, membayar kebutuhan berkas sesuai peraturan yang harus dibayar.

Kadang juga banyak oknum-oknum baik perangkat desa, camat dan lainnya yang meminta uang tips untuk diuruskan berkas persyaratannya dari uang rokok Rp. 50.000 sampai Rp. 100.000.

Belum lagi jika harus ada berkas persyaratan yang diurus di PPATS di Kecamatan atau PPAT yaitu pembuatan Akta baik Akta Jual Beli, Hibah dan Waris.

Banyak kasus di Kecamatan ketika masyarakat ingin membuat Akta di PPATS itu harus membayar mahal sampai berjuta-juta.

Jika menemukan kasus seperti itu maka mintalah bukti pembayaran (Kuitansi), pasti mereka tidak akan berani memberikan bukti pembayaran tersebut.

Itu artinya mereka mau menipu dan memeras masyarakat, karena aslinya itu sangat murah tidak sampai berjuta-juta.

Dan ingat selain membuat Akta di PPATS Kecamatan, yaitu membuat Akta di PPAT, maka anda akan datang ke kantor PPAT yang biasanya menemukan plang bertuliskan PPAT / Notaris, artinya PPAT itu merangkap sebagai Notaris.

Ketika sudah datang ke kantor cukup minta dibuatkan akta saja, tidak perlu dipasrahkan atau percayakan kepada Notaris untuk diurus membuat sertipikat tanah sampai jadi dengan biaya mahal dan lama jadinya hingga bertahun-tahun.

Sebab urusan sertipikat tanah itu yang dibutuhkan hanya dengan PPAT yaitu membuat Akta dan tidak membutuhkan notaris sama sekali.

PPAT dan Notaris itu berbeda, dan Notaris itu tidak ada urusan sama sekali dengan kebutuhan persyaratan pendaftaran sertipikat tanah.

Benarkah membuat Akta di PPAT itu mahal sampai berjuta-juta ?

Sangat tidak benar sama sekali, biaya pembuatan Akta bisa dari 500.000 sampai 2 juta bahkan lebih tergantung nilai transaksi tanah yang tercantum dalam akta.

Dan biaya yang harus dikeluarkan untuk membuat akta di PPAT adalah 1% dari nilai transaksi tanah yang tercantum dalam akta.

Contoh :

Nilai transaksi jual beli tanah adalah Rp. 200 juta, maka biaya pembuatan Akta di PPAT adalah Rp. 2 juta.

Hitungan :

1 / 100 x 200.000.000 = 2 juta.

Semakin murah nilai transaksi tanah, maka semakin murah biaya pembuatan Akta, begitu juga sebaliknya semakin mahal nilai transaksi tanah maka semakin mahal biaya pembuatan Akta di PPAT.

Dan bukti pembayaran untuk pembuatan akta harus diminta, jika ternyata tidak sesuai peraturan yaitu 1% dari nilai transaksi yang tercantum dalam akta, maka bisa dilaporkan oknum PPAT yang berusaha menipu dan memeras masyarakat.

Dasar Hukum :

(Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2016)

Setelah Akta di PPAT selesai, ada biaya lain yang harus dikeluarkan yaitu pajak, yang bisa menghabiskan biaya berjuta-juta.

Saat Pajak sudah ditaksir oleh PPAT berapa yang harus dibayarkan, maka mintalah bukti pembayaran pajak yang harus dibayarkan (Brilling) dan bayarlah sendiri pajaknya ke bank atau kantor Pos.

Jika sudah mendatangi kantor PPAT dan menanyakan masalah biaya membuat Akta itu tidak sesuai peraturan dan bukti pajaknya tidak mau diberikan ke masyarakat untuk dibayarkan sendiri.

Atau juga jika anda ingin membuat Akta dan kemudian ditolak karena tidak mau sebatas membuat Akta saja.

Tapi pendaftaran sertipikat tanah semuanya harus diurus oleh Notaris dengan biaya mahal dan lama jadinya sampai bertahun-tahun, itu jelas melanggar hukum dan memaksa masyarakat.

Maka carilah PPAT lainnya di daerah anda yang masih murah dan jujur dalam memberikan pelayanan kepada anda sesuai dengan aturan biaya pembuatan Akta dan urusan Pajak kepada masyarakat.

Sebab masih banyak PPAT di daerah yang jujur dan terbuka dan melayani anda dengan baik apa adanya kepada masyarakat.

Setelah urusan Akta dan Pajak di PPAT selesai dan semua urusan berkas persyaratan lainnya juga sudah lengkap diurus.

Datanglah kembali ke kantor BPN untuk mendaftarkan sertipikat tanah.

Jika membuat sertipikat tanah dipasrahkan ke notaris, maka anda tidak memegang bukti tanda terima pendaftaran sertifikat dan SURAT PERINTAH SETOR dari BPN.

Jadi ketika sertipikat lama sekali jadinya, padahal sudah bayar mahal, maka anda hanya bisa pasrah menunggu ketidakjelasan atau ketidakpastian dari Notaris.

Berbeda jika anda mendaftarkan sertipikat tanah maju sendiri ke BPN, maka akan menerima tanda bukti pendaftaran dan tanda bukti SURAT PERINTAH SETOR yang tercantum biaya pembuatan sertipikat tanah yang ternyata sangat murah.

SURAT PERINTAH SETOR adalah bukti yang tidak akan pernah diberikan kepada masyarakat, dan akan disembunyikan atau dirahasiakan.

Sebab jika masyarakat tahu SURAT PERINTAH SETOR, maka akan terbongkar biaya asli yang sangat murah, sedangkan biaya pembuatan sertipikat tanah ketika masyarakat mempercayakan ke Notaris itu sangat mahal.

Kemudian setelah mendaftarkan sertipikat tanah di BPN dan pelayanan di BPN buruk dan lama diproses jadinya sertipikat tanah tidak sesuai standar pelayanan waktu dan biaya, maka bisa dilaporkan tentang buruknya pelayanan BPN ke Menteri Agraria dan ditembuskan ke Ombudsman Republik Indonesia.

Demikian sedikit uraian dari saya tentang langkah-langkah yang harus dilakukan saat akan mendaftarkan sertipikat tanah.

Yuuuuuk buat sertipikat tanah dan buktikan sendiri murahnya . . . !!!

Terimakasih dan salam

Selasa, 01 Juni 2021

Khasiat Kelor

Moringa Oelivera

Di Eropa dan Amerika sedang happening sekali disebutnya Miracle Tree

Ternyata itu di Indonesia namanya *pohon KELOR*
Khasiatnya Tidak Ada Yang Menandingi...

Kandungan Vitamin dan Mineralnya *daun KELOR* Tertinggi diantara buah atau sayuran.
- Vit C nya dalam daun KELOR kadar yang sama adalah 3x buah Jeruk.
- Proteinnya 3x
- Kalsiumnya 7X dibanding Susu

Di Jerman di jual Ekstraknya dalam kapsul Sangat Mahal... namanya Kapsul Mohinga.

Hanya dengan makan *daun KELOR* saja semua kebutuhan nutrisi telah terpenuhi dan mudah terserap tubuh karena pada dasarnya manusia dari struktur pencernaan adalah *HERBIVORA/ pemakan daun2an*.

Murah dan menyembuhkan segala penyakit, diantaranya :

-Kanker Stadium 4
-Jantung
-Diabetes
-Kolesterol
-Asam Urat
-Penyakit Degeneratif lain dan hebatnya nikmat dimakan.

Pohon yang mudah ditanam dan karena khasiatnya luar biasa, maka alangkah baiknya ditanam dirumah, di kantor, di taman umum langsung di tanah atau di pot.

Ketika di konfirmasi kebenaran konten ini kepada *Prof. Rudy Purwanto (IPB)*, Beliau membenarkan konten ini. Beliau katakan bahwa *daun KELOR* merupakan tanaman yang istimewa untuk obat.

Ternyata untuk sehat tidak harus mahal tidak perlu perawatan kesehatan keluar negeri bukan ?

Bisa dimulai dari pekarangan rumah kita 
*MORINGA OLIVERA* udah diakui oleh FAO

*POHON AJAIB KELOR* telah dinobatkan oleh *WHO* sebagai pohon ajaib

Seiring berjalannya waktu penelitian ilmiah tentang manfaat *daun KELOR* yang didengungkan sejak dahulu pun diteliti secara ilmiah. Seorang ahli obat tradisional, Gunter Harnisch dalam pengantar buku mengenai kejaiban *pohon kelor* menyebutkan keunggulan tanaman kelor berdasarkan beberapa penelitian seperti diungkapkan *Peneliti Senior Bidang Etnobotani Pusat Penelitian Biologi-LIPI, Eko B. Walujo dalam Seminar Ilmiah Tanaman Obat daun Kelor di Kantor Badan POM, Jakarta*.

Berikut keunggulan tanaman kelor dibandingkan sayuran yang lain :

- 2X lebih banyak dari protein pada kedelai.

- 6X lebih banyak dari Vitamin C pada jeruk. 

- 4X lebih banyak dari Vitamin A pada wortel.

- 4X lebih banyak dari kalsium pada susu. 

- 7X lebih banyak dari kalium pada pisang. 

- 7X lebih banyak dari vitamin B1 dan B2 pada ragi. 

- 6X lebih banyak dari polifenol pada anggur merah. 

- 4X lebih banyak dari asam folat pada hati sapi.

- 4X lebih banyak dari vitamin E pada gandum. 

- 2X lebih banyak dari serat pada gandum.

- 1,5X lebih banyak dari asam amino esensial pada telur.

- 25X lebih banyak dari zat besi pada bayam. 

*Manfaat Daun Kelor :*

1. Menurunkan tekanan darah tinggi

2. Mengurangi kolesterol 

3. Meningkatkan kinerja jantung 

4. Menurunkan kadar gula dlm darah/diabetes

5. Sebagai Antioksidan, mengeluarkan racun dlm tubuh
 
6. Anti kanker, tumor

7. Mencegah kerusakan hati dan ginjal 

8. Mengatasi ke *man* dulan 

9. Menyembuhkan penyakit
SPLENOMEGALI yaitu terjadinya pembengkakan pada limpa
 
10. Mempercepat produksi sel darah merah (baik diminum 
untuk ibu2 pasca melahirkan)

11. Memperkuat *Rahim*

12. Membantu meringankan sakit pegal karena asam urat 
dan rematik

Jangan pelit berbagi. 
Semoga bermanfaat dan silahkan share ke Grup lain. Amin ๐Ÿ™

Rabu, 26 Mei 2021

Cara Mandi yg Benar

*Cara Mandi Bagi SENIOR,* 
*Usia diatas 55 Tahun*


Pertama:

●Pada waktu masuk Kamar Mandi sebaiknya *Pintu kamar mandi nya tidak diKunci*.
Agar jika anda terjatuh or alami serangan jantung, stroke, segera mendapat pertolongan.

●Kasih petunjuk bahwa Kamar Mandi *sedang "DIPAKAI".*

●Masuk ke Kamar Mandi *tidak tergesa-gesa, tetap menjaga keseimbangan tubuh.*

Kedua:

*●Tidak memakai Sendal Usang & Licin yg rawan terpeleset* ketika masuk Kamar Mandi.

*●Jika lantai kamar mandi licin terkena air sabun, segera guyur* lantai itu supaya tidak licin.

Ketiga:

*●Ketika melepas celana atau memakai celana setelah selesai mandi, hendaknya Berpegang pada dinding kamar mandi*
untuk menghindari kehilangan keseimbangan.

Keempat:

*●Jika mandinya harus duduk, Jangan gunakan Kursi Plastik.* Karena kaki kursi plastik mudah slip sehingga bisa terjatuh.

Kelima:

*●Cara Mandi yg benar, harus berurutan dari bawah ke atas.* 
Jangan terbalik dari atas ke bawah, karena rawan terkena serangan jantung dan stroke !!

●Pertama *Siramlah bagian Telapak Kaki dulu.* 

●Kemudian berturut turut siram bagian *Betis, bagian Paha, bagian Perut & bagian Pundak.*

●Setelah itu *Berhenti sejenak sekitar 5 sampai 10 detik.*
Saat itu kita akan *merasakan seperti uap atau angin keluar dari ubun-ubun,* bahkan terasa merinding pada tubuh.

*●Setelah itu baru dilanjutkan mandi seperti biasa....*
( Cara demikian diperkuat oleh Penelitian Dokter & Praktisi Chi kung ).

*●Pola Mandi seperti itu baik bagi semua umur.* 

*●Terutama bagi orang yg mempunyai Penyakit :*

"Diabetes,
 Hipertensi, 
 Kolestrol,
 Migran".

Keenam:

*●Jika mau Berenang, sebaiknya Jangan langsung Menyelam;* tapi lakukan juga tahapan seperti Pola Mandi di atas.

Ketujuh:

*●Kalau baru tiba dari bepergian jauh, kemudian setelah beristirahat sejenak mau Mandi;*

*●Sebaiknya Tidak memakai Air Dingin, tapi gunakan Air Hangat.*

Karena jika setelah selesai 
Mandi Air Dingin bisa kedinginan, dan nafasnya menjadi tersengal-sengal.

*●Hal ini berisiko bagi Penderita Sakit Jantung.*

_*Semoga bermanfaat. ๐Ÿ™*_

*Silahkan diinfokan ke ortu - family - kerabat, juga bisa disimpan, berguna utk usia 50 keatas*......

Selasa, 04 Mei 2021

Ahok dimata Islam

Minggu 25 mei 2021.๐Ÿ™❤️๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉProf.KH.Nasaruddin Umar :
“ Ahok dan Aksi Bela Islam “

AHOK DIPENJARA KARENA KITA TERLALU MUNAFIK”

Prof. KH Nasaruddin Umar : 
Ahok Jalankan Tugasnya Dengan Ajaran Islam, Namun Tidak Ada Aksi Bela Islam Yang Membelanya

Ahok menutup komplek pelacuran terbesar di Kalijodo, Islam melarang pelacuran. Hukumnya sangat pasti dan tegas. adakah aksi atas nama Islam untuk mendukungnya?

Ahok menutup diskotik Stadium dan Milles yang menjadi sarang peredaran narkoba, Islam melarang Narkoba. adakah aksi atas nama Islam yang mendukungnya?

Ahok bergelut kekeuh tidak mau toleran dengan bancakan proyek-proyek APBD yang biasanya dilakukan oknum-oknum serakah, islam melarang korupsi, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Ahok secara ketat memerintahkan semua pegawai Pemda DKI untuk bekerja melayani rakyat, sebab gaji mereka selama ini dibayar oleh duit rakyat, Islam mewajibkan orang melaksanakan amanah. adakah aksi atas nama Islam yang mendukungnya?

Ahok membangun mesjid di Balaikota dan Mesjid Raya Jakarta di Daan Mogot, Islam memerintahkan membangun rumah ibadah. adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Ahok mengeruk kali-kali dan membersihkan sampah agar Jakarta terhindar dari banjir, Islam mengajarkan kebersihan, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Ahok setiap pagi meluangkan waktu menyelesaikan masalah semua orang yang datang ke Balai Kota, dengan menggunakan dana operasional Gubernur, Islam mengajarkan seorang yang diamanahkan memegang jabatan untuk memperhatikan semua warganya. adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Ahok menggunakannya untuk membantu banyak orang, dan ketika masih tersisa diakhir tahun, dana itu dikembalikan ke kas negara. Padahal jika dia membawa pulang, itu bukan pelanggaran hukum. Itu sudah menjadi hak pemangku jabatan Gubernur. Islam mengajarkan berhati-hati saat mencari rezeki. Gubernur DKI mendapat dana operasional Rp 60 milyar setahun. Dana itu bisa diambil untuk diri sendiri. Adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Ahok konsisten membagikan KJP dan angka putus sekolah di DKI nyaris 0%, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Ahok punya pasukan Biru, Orange dan Ungu Ketika kini angka pengangguran di DKI menurun drastis (salah satunya karena program pasukan Biru, Oranye, Ungu), Islam mementingkan kesejahteraan. adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mementingkan pengembangan psikologi anak-anak. Salah satunya dengan ruang bermain yang sehat. Ketika Ahok membangun ratusan ruang bermain hijau untuk anak-anak Jakarta, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mengajarkan memuliakan wanita dan memperhatikan anak-anak. Ketika Ahok dalam banyak fasilitas publik (bus, ruang laktasi, RTPA) memperhatikan kaum wanita, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mengajarkan bicara yang baik. Ketika Ahok terpeleset omongan di P. Seribu, dan sudah meminta maaf, banyak orang tergerak untuk membela agamanya. Publik juga tahu omongan itu viral salah satunya karena teks yang diedit. Polisi juga sudah mengusut kasusnya, tapi pembela-pembala agama itu tidak cukup puas. Mereka ingin Ahok dipenjara.

Dipenjara karena tindakan jahatnya? Atau karena korupsi? Atau karena mengabaikan amanah? Bukan Juga Karena Penistaan Agama ..!!

Ahok harus dipenjara karena Kita Terlalu Munafik..!

Sumber: Facebook @Pirania Marlina Lumbanraja

https://www.harianindonesia.id/opini/prof-kh-nasaruddin-umar-ahok-dan-aksi-bela-islam.html

Senin, 08 Februari 2021

Cara Merawat Organ tubuh

*TIPS SEDERHANA*

_1. Jika anda merawat jantung,  hindari kelebihan garam._

_2. Jika anda merawat hati,  hindari makanan berlemak._

_3. Jika anda merawat perut,  hindari makanan dingin._

_4. Jika Anda merawat usus, ganti junk food dengan sayuran._

_5. Jika anda merawat pankreas,  hindari makan kenyang._

_6. Jika anda merawat Ginjal,  minumlah banyak air di siang hari,  minum lebih sedikit air di malam hari,  kosongkan kandung kemih anda sebelum tidur._

_7. Jika anda merawat Otak,  tidurlah selama delapan jam._

_8. Jika anda merawat jiwa,  miliki hubungan yang Intim dengan Sang Pencipta,  Allah Yang Maha Kuasa._

_Hidup itu sederhana,_ 
_yang rumit itu pikiran kita._

_Hidup itu murah,_ 
_yang mahal itu gengsi kita ..._

_Marilah kita menjadi orang yang pandai bersyukur._

Senin, 01 Februari 2021

Masa Depan

https://www.kabartujuhsatu.news/2021/01/ignasius-jonan-selamat-datang-masa.html
*SELAMAT DATANG MASA DEPAN* 

Tulisan Ignasius Jonan mantan menteri SDM  tentang prediksi masa depan.  Kondisi tentang masa depan itu bukan "akan terjadi". Tapi sedang terjadi.  Di Jakarta misalnya, PLN berencana akan membuat 1143 SPLU, Stasiun Pengisian Listrik Umum. Peluncuran ini untuk menyambut  kendaraan berbasis listrik secara masal di Indonesia.
Prediksi yg terjadi :

*1.*   Bengkel perbaikan kendaraan akan hilang.

*2.*   Mesin yg menggunakan bensin memiliki 20.000 bagian. Mesin listrik hanya memiliki 20 bagian. 
Mobil listrik dijual dgn garansi seumur hidup dan hanya diperbaiki oleh dealer. Hanya perlu waktu 10 menit untuk  mengganti mesin  listrik.

*3.*  Mesin listrik tidak diperbaiki di dealer tetapi dikirim ke bengkel  regional utk diperbaiki dgn robot.

*4.*   Mesin listrik yg gagal fungsi  ditunjukkan oleh lampu yg menyala, lalu anda akan pergi ke tempat yang menyerupai mesin cuci mobil, dan mobil akan ditarik sementara anda ngopi dan mesin mobil akan diganti dgn yg baru.

*5.*   SPBU  akan hilang.

*6.*   Meter parkir akan diganti oleh dispenser listrik. 
Banyak perusahaan akan memasang stasiun isi ulang listrik.

*7.*  Kebanyakan pabrik kendaraan (yang cerdas telah mengalokasikan uangnya  membangun pabrik  mobil listrik.

*8.*  Industri batu bara akan hilang. 
Perusahaan minyak dan gas akan hilang. Pengeboran minyak akan hilang.  selamat tinggal kepada OPEC.

*9.*   Rumah2 akan menghasilkan dan menyimpan energi listrik di siang hari dan akan menggunakan serta menjualnya listriknya ke grid. 
Grid akan menyimpan dan menyalurkannya ke industri yg banyak menggunakan listrik. Apakah anda sudah melihat atap Tesla?

*10.*   Masa depan mendekati kita lebih cepat daripada yg kita kira.

*11.* Di tahun 1998 Kodak punya 170.000 pegawai dan menjual 85% foto kertas di seluruh dunia.
Hanya dalam beberapa tahun model bisnis mereka hilang dan bangkrut. Siapa yg mengira itu akan terjadi?

*12.*   Apa yg terjadi pada Kodak dan Polaroid akan terjadi di kebanyakan industri dalam 5-10 tahun yg akan datang.

*13.*  Apakah pada tahun 1998 anda mengira bahwa 3 tahun setelahnya tidak akan pernah lagi ada foto menggunakan film?. Dengan gadget, siapa yg masih memiliki kamera dgn film?

*14.*  Kamera digital ditemukan tahun 1975. Barang pertama hanya memiliki 10.000 piksel, tetapi mengikuti hukum Moore. 
Dgn perkembangan teknologi yg eksponensial, barang yg semula mengecewakan menjadi super dan menjadi mainstream dalam waktu singkat.

*15.*  Hal itu terjadi lagi (tapi jauh lebih cepat) dgn kecerdasan buatan (artificial intelligence), kesehatan, kendaraan listrik, pendidikan, pencetakan 3D, agrikultur dan lapangan pekerjaan.

*16.*  Lupakan buku 'Kejutan Masa Depan',  sambutlah Revolusi Industri keempat.

*17.*   Software telah dan akan terus mengacaukan banyak industri tradisional. dlm 5-10 tahun mendatang.

*18.*  Uber (seperti halnya Gojek di Indonesia) hanya piranti software, mereka tidak memiliki mobil, tapi sekarang mereka adalah perusahaan taksi terbesar di dunia! Supir taksi tidak  mengira hal itu akan terjadi.

*19.*   Airbnb sekarang adalah perusahaan hotel terbesar di dunia, walaupun mereka tidak memiliki properti apapun. 
Tanyakan pada hotel Hilton apakah dulu mereka mengira hal itu akan terjadi.

*20.*   Artificial Intelligence: komputer akan menjadi lebih baik secara eksponensial. 
Tahun ini, komputer mengalahkan pemain game terbaik di dunia, 10 tahun lebih cepat daripada yg diperkirakan.

*21.*  Di USA, pengacara muda sudah tidak punya pekerjaan. 
Berkat Watson IBM, anda bisa memperoleh nasehat hukum dalam hitungan detik (untuk hal-hal dasar), dgn akurasi 90% dibandingkan 70% akurasi bila dilakukan manusia. 
Jadi jika anda belajar hukum, berhentilah segera. Kebutuhan pengacara akan berkurang 90%, hanya spesialis serba tahu yg masih bs bertahan.

*22.*   Watson telah membantu dokter mendiagnosa kanker, 4 kali lebih akurat dibandingkan dokter manusia.

*23* . Facebook sekarang memiliki software pengenal pola yg dapat mengenali wajah jauh lebih baik daripada manusia. Pada tahun 2030 komputer akan lebih cerdas dari manusia.

*24*   Kendaraan otomotif: Pada tahun 2018 mobil tanpa supir pertama sudah muncul.
Dalam waktu 2 tahun ke depan seluruh industri akan dikacaukan. 
Anda tidak perlu supir lagi karena anda akan memanggil mobil dgn telepon , mobil itu akan muncul di lokasi, dan mengantarkan anda ke tempat tujuan. 
Tidak perlu bingung memarkir mobil itu, anda hanya akan membayar jarak tempuh dan anda dapat tetap produktif selama naik mobil. Anak-anak  tak perlu punya sim dan tak pernah be back homev CV memiliki mobil.

*26.*   Hal itu akan mengubah kota2 kita, karena kita hanya perlu mobil 90-95% lebih sedikit.  Lahan2 parkir bs adi taman kota.

*27.*   Sekitar 1,2 juta orang meninggal karena kecelakaan tiap tahun, termasuk yg disebabkan berkendara sambil mabuk.
Sekarang kita memiliki satu kecelakaan tiap 60.000 mil;   Nanti dgn kendaraan tanpa supir angka itu akan turun menjadi 1 kecelakaan tiap 6 juta mil. Ini akan menyelamatkan jutaan nyawa tiap tahunnya.

*28.*  Kebanyakan perusahaan mobil tak diragukan lagi akan menjadi bangkrut.
Perusahaan mobil tradisional hanya mencoba pendekatan evolusioner dan hanya berusaha membuat mobil yg lebih baik, sementara perusahaan teknologi (Tesla, Apple, Google) melakukan pendekatan revolusioner dan membangun komputer di atas roda.

*29.*   Lihat apa yg dilakukan Volvo sekarang; tidak ada lagi mesin pembakaran internal di kendaraan mereka mulai tahun ini untuk model 2019, semua menggunakan listrik atau hybrid, dgn maksud nantinya akan melenyapkan model2 hybrid.

*28.*   Banyak ahli-ahli teknik di Volkswagen dan Audi takut terhadap Tesla, dan memang seharusnya begitu. 
Lihat semua perusahaan yg menawarkan mobil listrik. Beberapa tahun lalu keberadaan mereka tidak bisa dirasakan.

*29.*   Perusahaan asuransi akan mengalami kesulitan masif; tanpa kecelakaan, biaya akan menjadi lebih murah. Model bisnis asuransi mobil akan hilang.

*30.*  Real estate akan berubah. Jika orang bisa bekerja pulang-pergi, mereka akan tinggal di tempat yg jauh untuk hidup di lingkungan yg lebih terjangkau dan lebih menyenangkan.

*31.*   Mobil listrik akan menjadi mainstream pada tahun 2030 an. Kota menjadi tidak berisik karena semua mobil baru akan menggunakan listrik.

*32.*   Kota juga akan memiliki udara yg lebih bersih.

*33.*   Listrik akan menjadi sangat murah dan bersih.

*34.*   Produksi listrik tenaga surya telah mengalami kurva pengembangan eksponensial selama 30 tahun, tetapi sekarang perkembangan itu sedang dipacu lebih kencang lagi.

*35.*   Perusahaan energi fosil sedang berusaha mati2an membatasi akses ke grid utk mencegah munculnya pesaing dgn instalasi listrik tenaga surya di rumah-rumah, tetapi upaya itu tidak akan bisa berlanjut - teknologi tidak akan bisa dibendung.

*36.*   Kesehatan: Harga Tricorder X akan diumumkan tahun ini. 

*37.*  TV dan Koran akan  mati dgn sendirinya,  siapa yg sekarang baca koran atau siapa yg sekarang melihat TV ? Hanya sebagian kecil orang-orang diatas 50 tahun. Millenial  beralih ke Youtube dan sejenisnya lebih cepat.

*38.*   Layanan Perbankan dan Ticketing sudah  swa Mandiri  tidak perlu Customer Service atau Teller akan ada jutaaan profesi pekerjaan yg hilang 10-20 tahun kedepan. Sudah siapkah kita 
Banyak perusahaan akan membuat perangkat medikal (yg disebut 'Tricorder' dalam film Star Trek) yg bekerja dgn telepon anda, yg akan memindai retina anda, sampel darah anda, dan napas anda. 
Lalu dia akan menganalisa 54 bio-marker yg akan meng identifikasi hampir  semua jenis penyakit. Saat ini sudah terdapat lusinan aplikasi telepon untuk tujuan kesehatan.

*Inilah prediksi keadaan  MASA DEPAN .. yg bisa lebih cepat ....*

Note , tambahan dari saya :
Untuk yang menyukai tantangan berinvestasi saham, kemungkinan mulai sekarang bisa melirik perusahaan2 berbasis IT, Industri Kelistrikan seperti Tesla atau perusahaan2 yang menjual teknologi kelistrikan, tenaga surya dll, Start up Portal penunjang masa depan (macam uber, airbnb dll) dan teknologi perbankan dan telekomunikasi , bisa sangat sangat2 di perhitungkan ๐Ÿ‘๐Ÿ˜€

Cheers n salam for better future ❤️

Selasa, 26 Januari 2021

Autophagi

Riset tentang konsep *Autophagi* yang di implentasikan dalam bentuk lapar ( *PUASA* ) telah membuahkan *NOBEL* bagi peneliti Jepang

*AUTOPHAGI*
Konsep autophagi adalah, bahwa ketika tubuh seseorang lapar, maka sel-sel tubuhnya pun ikut lapar dan akan memakan sel-sel dirinya yang sudah tidak beguna lagi atau sel-sel yang telah rusak (sel mati) agar tidak menjadi sampah dalam tubuh yang bisa membahayakan tubuh atau dengan kata lain tubuh orang yang berpuasa akan membersihkan dirinya sendiri!!!..

Seorang ilmuwan telah membuktikan dan telah menemukan bahwa ketika seseorang lapar (PUASA) dalam jangka waktu tidak kurang dari 8 jam dan tidak lebih dari 16 jam, maka tubuh akan membentuk protein yang khusus yang disebut *autophagisom* diseluruh bagian tubuh. *Autophagosom* tersebut bisa dianalogkan sebagai suatu sapu raksasa yang mengumpulkan sel-sel yang tidak berguna (sel-sel mati) dan ternyata juga sel-sel lain yang membahayakan tubuh, seperti sel kanker serta sel berbentuk kuman (virus atau bakteri) penyebab penyakit, lalu protein *autophagisom* tersebut menganalisanya dan memakan sel-sel berbahaya tersebut.

*Kesimpulan dari riset tersebut, menyarankan agar seseorang bisa menjalani praktek melaparkan diri (PUASA) dua atau tiga kali dalam seminggu.*

Penelitian ini telah memenangkan penghargaan *NOBEL KEDOKTERAN* kepada dokter Jepang, yaitu Yoshinori Ohsumi atas riset yang ia namakan *AUTOPHAGI.*



https://www.nobelprize.org/prizes/medicine/2016/press-release/

Sabtu, 05 Desember 2020

Tentang Tiongkok 2020

Sebuah artikel yg sgt bagus walaupun pjg yg hrs dibaca oleh semua kturunan China yg bangga menyebut diri mrk org China utk memahami sejarah China drpd dicuci otak oleh propaganda Barat.

Mohon diteruskan stlh diterima:

China tlh berdagang dgn Malaysia slm 2000 tahun. Pd tahun² itu, mrk tlh berkali² menjadi kekuatan terbesar dunia.  Tdk pernah sekalipun mrk mengirim pasukan utk merebut tnh kami.  Laksamana ZhengHo dtg ke Malaka lima kali, dgn armada raksasa, dan kapal unggulan 8 kali lbh besar dr kapal induk Christopher Columbus, Santa Maria.  Dia bs saja merebut Malaka dgn mudah, tp dia tdk melakukannya.  
Pd 1511, Portugis dtg. 
Pd 1642, Belanda dtg. 
Pd abad ke-18 Inggris dtg. Kami dijajah satu per satu.

Ketika China menginginkan rempah² dr India, mrk berdagang dgn orang India.  Ketika mrk menginginkan permata, mrk berdagang dgn Persia. Mrk tdk mengambil tanah.  Satu²nya wkt Tiongkok berkembang melampaui perbatasan mrk saat ini adlh pd Dinasti Yuan, ketika Jenghis dan keturunannya Ogedei Khan, Guyuk Khan & Kubilai Khan menaklukkan Tiongkok, Asia Tengah dan Eropa Timur.  Ttpi Dinasti Yuan, meskipun berbasis di Tiongkok, adlh bagian dr Kekaisaran Mongolia.

Kemudian tibalah Century of Humiliation.  Inggris menyelundupkan opium ke Cina utk membius penduduk, sebuah strategi utk membalikkan defisit perdagangan, stlh Inggris tdk dpt menemukan cukup perak utk membayar Dinasti Qing dlm perdagangan teh dan porselen mrk.  Stlh gudang opium dibakar dan pelabuhan ditutup oleh China utk mengekang opium, Inggris memulai Perang Opium I, yg hilang dr China.  Hong Kong dipaksa utk menyerah kpd Inggris dlm pembicaraan damai (Perjanjian Nanjing).  Inggris memiliki 90% pasar opium di China, slm wkt itu, Ratu Victoria adlh baron narkoba terbesar di dunia. Sisa 10% dimiliki oleh pedagang Amerika dari Boston. Banyak institusi Boston dibangun dgn keuntungan dr opium.

Stlh 12 tahun Perjanjian Nanjing, Barat mulai menjadi sgt rakus.  Inggris menginginkan pemerintah Qing:
1. Membuka perbatasan China utk memungkinkan barang keluar masuk dgn bebas, dan bebas pajak.
 2. Membuat opium legal di Cina.
Permintaan gila, pemerintah Qing mengatakan tdk.  Inggris dan Prancis, dgn dukungan dr AS dan Rusia dr blkg, memulai Perang Candu II dgn Tiongkok, yg lg² Tiongkok kalah.  Militer Anglo-Prancis menyerbu Istana Musim Panas, dan mengancam akan membakar Istana Kekaisaran, pemerintah Qing dipaksa membayar dgn pelabuhan, zona bisnis gratis, 300.000 kilogram perak dan Kowloon dirampas.  Sejak itu, sumber daya China mengalir dgn bebas melalui zona bisnis dan pelabuhan ini.  Dlm amandemen perjanjian berikutnya, org Tionghoa dijual ke luar negeri utk dijadikan tenaga kerja.

Pd thn 1900, Tiongkok mengalami serangan oleh 8-National Alliance (Jepang, Rusia, Inggris, Prancis, AS, Jerman, Italia, Austria-Hongaria).  Warga sipil Tionghoa yg tdk bersalah di Peking (Beijing skrg) dibunuh, bangunan dihancurkan & wanita diperkosa.  Istana Kekaisaran digerebek, dan harta karun disimpan di museum spti British Museum di London dan Louvre di Paris.

Akhir tahun 1930-an Cina diduduki oleh Jepang pd PD II.  Jutaan org Cina tewas slm pendudukan.  300.000 org Cina tewas dlm Pembantaian Nanjing saja.

 Mao menyatukan kembali Cina dari kekacauan. Ada kedamaian dan persatuan utk bbrp wkt.  Ttpi pemerintahan Mao kemudian melihat penderitaan dan kematian akibat kelaparan dan perebutan kekuasaan.

 Kemudian muncullah Deng Xiao Ping dan kisah “kucing hitam dan kucing putih”nya yg terkenal.  Preferensi dlm pragmatisme drpd ideologi tlh mengubah Cina.  Pemikiran ini memungkinkan China berkembang sepanjang wkt utk beradaptasi dgn kebutuhan aktual di negara tersebut, alih² terikat scr kaku pd ideologi.  Ini jg menandakan kematian Komunisme yg sbnrnya dipraktikkan di Tiongkok.  Model Sosialisme + Meritokrasi + Ekonomi Pasar saat ini cocok dgn org Cina spt sarung tangan, dan itu mendorong kebangkitan Cina. Singapura memiliki model yg serupa, dan bs dibilang lbh sukses drpd Hong Kong. Hong Kong yg menjadi pintu gerbang ke China, mengalami ledakan ekonomi di China, sementara Singapura tdk memiliki siapa pun utk diuntungkan.

 Hanya dalam 30 tahun, BPK tlh memindahkan 800 juta org keluar dr kemiskinan.  Laju pertumbuhan blm pernah terjadi sblmnya dlm sejarah manusia.  Mrk tlh membangun jaringan seluler terbesar, sejauh ini jaringan rel kecepatan tinggi terbesar di dunia, dan mrk tlh menjadi raksasa di bidang infrastruktur.  Mrk menjadikan sebuah desa nelayan bernama Shenzhen menjadi pusat teknologi terbesar kedua di dunia stlh Silicon Valley.  Mrk tumbuh menjadi pembangkit tenaga teknologi.  Ia memiliki sistem pembayaran e-commerce dan non-tunai plg rumit di dunia. Mrk tlh meluncurkan penjelajahan ke Mars.  Org Cina menjalani kehidupan yg baik dan Cina tlh menjadi slh satu negara teraman di dunia. Tingkat patriotisme di negara ini tlh mencapai ketinggian yg blm pernah terjadi sblmnya.

 Utk semua pencapaian, Barat tdk punya hal baik utk dikatakan tentang itu.  China menderita krn propaganda anti-China yg intens dari Barat.  Media Barat menggunakan kata kunci "Komunis" utk menanamkan ketakutan dan kebencian thdp China.
 Semua yg dilakukan China dilaporkan scr negatif.

Mrk mengklaim China menggunakan tenaga kerja budak dlm membuat iPhone. Sebenarnya, Apple adlh perusahaan yg paling menguntungkan di dunia, mengambil sebagian besar keuntungan, menyerahkan sebagian ke Foxcom (perusahaan Taiwan) dan sedikit tenaga kerja.

 Mrk mengklaim China tdk manusiawi dgn kebijakan satu anak. Pd saat yg sama, mrk menuduh Cina mencemari bumi dgn jmlh penduduk yg sgt besar.  Faktanya, org Cina hanya mengonsumsi 30% energi per kapita dibandingkan dgn AS.

 Mrk mengklaim China menjalani pembersihan etnis di Xinjiang.  Faktanya, China memiliki kebijakan yg mengutamakan etnis minoritas.  Utk wkt yg lama, etnis minoritas diizinkan memiliki dua anak dan mayoritas Han hanya mengizinkan satu anak.  Minoritas diperbolehkan mendptkan skor yg lbh rendah utk penerimaan universitas.  Ada 39.000 masjid di China, dan 2.100 di AS.  China memiliki sekitar 3 kali lbh banyak masjid per muslim dibandingkan AS.
 Ketika serangan teroris terjadi di Xinjiang, Tiongkok memiliki dua pilihan:
1. Mendidik ulang ekstremis Uighur sblm mrk menjadi teroris.
2. Biarkan mrk, stlh mrk melancarkan serangan dan membunuh org yg tdk bersalah, mengebom rmh mereka.
China memilih utk menyelesaikan mslh dr akarnya dan tdk melakukan pembunuhan. Bgmn AS mengatasi terorisme?  Tembakkan rudal dr kapal perang, jatuhkan bom dr langit.

 Selama pandemi,
 Ketika China mengambil tindakan ekstrim utk mengunci orang², mrk dituduh tdk manusiawi.
Ketika China pulih dgn cpt krn tindakan ekstrem, mrk dituduh berbohong tentang jmlh sbnrnya.
 Ketika kasus China menjadi sangat rendah sehingga mrk dpt memberikan dukungan medis ke negara lain, mrk dituduh bermotivasi politik.
 Media Barat selalu punya alasan utk menyerang China.

 Sama spt negara manapun, ada orang² yg tdk bertanggung jwb dr China yg melakukan hal² buruk dan kotor, ttpi pemerintah China secara keseluruhan tlh melakukannya dgn sgt baik.  Tp sy mendengar komentar ini berulang kali oleh orang² dr Barat: Saya suka org China, tp BPK itu jahat.  Yg mrk inginkan sbnrnya adlh orang Cina mengubah pemerintahan, krn yg skrg terlalu bagus.

Untungnya China bknlah negara demokrasi multi partai, sebaliknya partai oposisi di China akan didukung oleh LSM terkenal (Non-Government Organization) AS, seperti NED (National Endowment for Democracy), utk menggulingkan partai yg berkuasa.  AS dan Inggris tdk dpt memecahkan China Daratan, jd mrk bekerja di Hong Kong.  Dr semua bekas negara kolonial Inggris, hanya warga Hong Kong yg ditawari BNO oleh Inggris.  Krn Inggris ingin org Hong Kong berpikir bhw mrk adlh warga negara Inggris, bkn org China.  Strategi bagi-dan-taklukkan, yg sering mrk gunakan dlm Revolusi Warna di seluruh dunia.

 Mereka menggunakan trik kotor rendah seperti menahan CFO Huawei & melarang Huawei.  Mrk mengobarkan perang dagang konyol yg tdk menguntungkan siapa pun.  Defisit perdagangan selalu terjadi antara negara berkembang dan negara maju.  AS seperti penjual mobil mewah yg bertanya kpd petani: mengapa sy selalu membeli sayuran Anda dan Anda belum membeli mobil sy?

 Ketika org Cina membuat kaus kaki utk dunia 30 thn yg lalu, dunia membiarkannya.  Ttpi ketika Cina mulai membuat produk teknologi tinggi, seperti Huawei dan DJI, itu menyebabkan peringatan merah. Krn ketika produk Barat dan Jepang setara dgn China dlm hal teknologi, mrk tdk akan pernah bs menyamai harga China.  Negara² dunia pertama ingin China trs membuat kaus kaki.  Alih-alih meningkatkan diri mrk sendiri, mrk ingin menjatuhkan China.

Gerakan AS melawan China belakangan ini memiliki latar blkg yg sgt penting.  Ketika Libya, Iran, dan China memutuskan utk membuang dolar AS dlm perdagangan minyak, Khadafi dibunuh oleh AS, Iran diberi sanksi oleh AS, dan skrg giliran China.  AS tlh mencetak uang dr ketiadaan. Satu²nya alasan mengapa Dolar AS msh diterima secara luas, adlh krn itulah satu²nya mata uang yg diperbolehkan utk memperdagangkan minyak.  AS memiliki kesepakatan dgn Saudi bhw minyak hrs diperdagangkan HANYA dlm dolar AS.  Tanpa status bensin-dolar, dolar AS akan tenggelam, dan Amerika akan jatuh.  Oleh krn itu siapapun yg mencoba utk tdk mematuhi perintah ini akan disingkirkan.  China akan segera menggunakan mata uang kripto yang didukung emas, alarm di Gedung Putih berbunyi spt gila.

 Prestasi China diperoleh dgn kerja keras. Bkn dgn menjarah dunia.

 Sy memiliki simpati yg dlm utk Tiongkok atas semua penderitaan, ttpi skrg sy merasa bahagia utk mrk.  China tdk sdg bangkit, mrk akan kembali ke tmpt asalnya.

Kamis, 26 November 2020

Menteri Panutan bangsa Indonesia - Sutami

http://www.fokuslintas.com/2020/06/21/kisah-menteri-termiskin-sepanjang-sejarah-republik-indonesia-kesayangan-soekarno-dan-soeharto/
www.fokuslintas.com
SEJARAH BUDAYA 
*Kisah Menteri Termiskin Sepanjang Sejarah Republik Indonesia, Kesayangan Soekarno dan Soeharto*
Juni 21, 2020 
fokuslintas.com 
0 Komentar 
FOKUSLINTAS.com – Ketika sedang takjub menyaksikan ada beberapa (tidak semua) pihak yang tega menyalahgunakan jabatan dan kekuasaan untuk mengeruk harta benda bagi diri sendiri pada masa rakyat sedang menderita pagebluk Corona, saya memperoleh kiriman sebuah naskah dari mahaguru kearifan Jawa saya, mas Darminto M. Sudarmo alias mas Odios. Ia berkisah tentang Menteri termiskin sepanjang sejarah Republik Indonesia.
*Menteri Pekerjaan Umum*
Delapan kali dilantik jadi menteri tetapi hidupnya tetap saja miskin. Nama aslinya Ir. Sutami adalah Menteri Pekerjaan Umum yang menjabat selama 4 x sejak tahun 1965 sampai dengan 1978. Mengabdi pada Kabinet Dwikora l Era Presiden Soekarno dan masih ditugaskan di bawah pimpinan Presiden Soeharto di Kabinet Pembangunan II .
Sutami selama menjadi Menteri, memimpin berbagai mega proyek, meski demikian pria kelahiran Surakarta, Jawa Tengah 19 Oktober 1928 itu tidak lantas memanfaatkan jabatan dan kekuasaan untuk korupsi dan memperkaya diri.
Di bawah pengawasannya, proyek raksasa seperti: Gedung DPR, Jembatan Semanggi, Waduk Jatiluhur, Bandara Ngurah Rai, Jembatan Musi, Palembang. Semua karyanya hingga kini masih berdiri kokoh.
Sutami adalah menteri yang termiskin di Indonesia mungkin sampai hari kiamat nanti, karena Sutami adalah manusia yang langka karena jujur dan amanah.
*Sederhana*
Jika hari lebaran tiba, para tamu pun bersilaturahmi. Namun betapa terkejutnya mereka saat menginjakkan kaki di rumah Menteri Sutami. Bukan kemewahan yang ada, namun rumah sederhana yang atapnya bocor di mana-mana.
Bahkan suatu ketika Perusahaan Listrik Negara (PLN) mencabut listrik di rumahnya karena Sutami telat bayar listrik. Sebenarnya sebagai pejabat negara yang menangani proyek-proyek besar, Menteri Sutami bisa saja hidup bergelimang kemewahan.
Contohnya banyak menteri dan Gubernur sekarang ini semuanya memiliki rumah mewah, mobil mewah dari hasil di luar gaji karena mereka tidak memiliki sifat jujur di hatinya.
Sosok Sutami ini sangat pendiam dan sederhana. Rumahnya beralamat di Jalan Imam Bonjol, beliau membeli rumah secara mencicil dan baru lunas menjelang pensiun. Tak pernah ia menggunakan fasilitas negara di luar pekerjaannya.
Saat pensiun, semua ia kembalikan, termasuk mobil dinasnya. Seorang pengusaha pernah ingin memberinya mobil karena tahu mobil dinas Sutami akan dikembalikan. Namun sang Menteri menolak dengan halus.
*Tidak Punya Udel*
Sebagai insinyur sipil lulusan Institut Teknologi Bandung, ia sangat menyukai pekerjaan lapangan. Wartawan kerap memanggilnya ‘Menteri tidak punya udel’. Sutami mampu jalan kaki puluhan kilometer untuk meninjau daerah terpencil.
Jika ada ojek, ia naik. Jika tidak ada, maka menteri sederhana ini akan berjalan kaki hingga bertemu masyarakat sekitar. Dialah satu satunya menteri sepanjang zaman sebagai orang yang paling terjujur dan mengerti tentang Akhirat.
Saking terlalu rajin berkerja dia sampai tidak memikirkan diri sendiri. Hingga kemudian dia jatuh sakit dan kekurangan gizi. Namun Sutami tak mau ke rumah sakit, dia takut diketahui bahwa Menteri yang bersahaja itu tidak punya uang untuk membayar rumah sakit.
Baru setelah Pemerintah turun tangan, Sutami mau diopname, Namun semua itu terlambat, Sutami meninggal dunia di Jakarta 13 November 1980 pada usia 52 Tahun.
*Hidup Bersih*
Meski jasanya banyak untuk Bangsa Indonesia, Sutami sempat mengungkapkan bahwa dia tidak mau dimakamkan di Makam Pahlawan Kalibata, Akhirnya Sutami di makamkan di Tanah Kusir, Jakarta Selatan, kemudian namanya diabadikan menjadi nama sebuah waduk di Kabupaten Malang, yakni Waduk Ir.Sutami.
Indonesia saat ini membutuhkan lebih banyak sosok Menteri seperti Sutami sebagai Menteri yang berprestasi dan rela hidup merakyat. Menteri yang menghindar dari kehidupan duniawi yang melenakan dan memilih hidup bersih hingga akhir hayatnya.
Hingga kini namanya tetap harum dan akan selalu dikenang oleh bangsa Indonesia yang merindukan sosok pemimpin hebat dan sederhana seperti beliau.
Terima Kasih, Pak Sutami!
(Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan)

Jumat, 09 Oktober 2020

็ปๆตŽๅ…จ็ƒๅŒ–

https://mp.weixin.qq.com/s/gyt-cdorkvmjgDW0XGtNBw
mp.weixin.qq.com 
ๅ…ฌไผ—ๅท:ไปทๅ€ผๆŠ•่ต„ValueInvesting(่ซ‹่จ˜ไฝ้€™ๆ˜ฏไป–ๅชฝ็š„ๆญชๅฟƒๆ€ๅ…ฌไผ—ๅท )
*ๅฑ€ๅŠฟ้€ๆธๅ‡็บง,็‰นๆœ—ๆ™ฎ่ฟ˜ๆœ‰ไป€ไนˆ็‰Œๅฏไปฅๆ‰“?(ๆทฑๅบฆๅฅฝๆ–‡)*
็™พๅง“่ง†ๅˆŠ 2020-10-09 
*ๅฏผ่ฏญ:*
*ๆœ€่ฟ‘ๅพˆๅคš่‡ชๅช’ไฝ“ๅ’ŒๅคงV็บท็บทๅ‡บๆฅๅ‘่ญฆๅ‘Š,่ฏดไป€ไนˆ็พŽๅ›ฝไผšๅ‘ๅŠจๆˆ˜ไบ‰,ไผšๅฏนไธญๅ›ฝไฝฟๅ‡บไป€ไนˆๆ€ๆ‰‹้”,ๆœ€ๅฑ้™ฉ็š„ๆ—ถๅˆปๅˆฐไบ†ไบ‘ไบ‘。็พŽๅ›ฝ็จๆœ‰ๅŠจไฝœ,ๅฐฑไธ€ๆƒŠไธ€ไน、่‰ๆœจ็š†ๅ…ต,ๆ•ฃๆ’ญ็„ฆ่™‘ๅ’Œๆ็พŽๆƒ…็ปช。*
*็œ‹ๅˆฐ่ฟ™ไบ›่ฎบ่ฐƒ,ๆˆ‘ๅช่ƒฝๅ‘ตๅ‘ต。ไธ€ๅฅ่ฏๆฆ‚ๆ‹ฌ,่ฟ˜ๅœจ่™šๅนป็พŽๅ›ฝๅผบๅคง,ๆฐธ่ฟœๅœจ่‡†ๆƒณ็พŽๆƒณๅนฒไป€ไนˆ,ๅฐฑๆ˜ฏไธๅŽปๅˆ†ๆž็พŽๅ›ฝ่ƒฝๅนฒไป€ไนˆ。*
*ไธ€ไฝๆœ‹ๅ‹่ฏด็š„ๅฅฝ,็พŽๅ›ฝๅฆ‚ๆžœๆœ‰่ƒฝๅŠ›ๅฏนไธญๅ›ฝๆ€Žๆ ทๆ€Žๆ ท,ๆ—ฉๅฐฑๆ€Žๆ ทๆ€Žๆ ทไบ†,่ฟ˜็”จๅพ—็€็ญ‰ๅˆฐไปŠๅคฉ,็ญ‰ๅˆฐๅฎƒๆœ€่™šๅผฑ็š„ๆ—ถๅ€™?!*
*้œžๅง่ฟ™็ฏ‡้•ฟๆ–‡,ไปŽๅไบ”ไธช้ข†ๅŸŸๅ…จ้ขๅˆ†ๆžไบ†็พŽๅ›ฝ่ฟ˜่ƒฝไป€ไนˆ、ไธ่ƒฝๅนฒไป€ไนˆ,็—›ๅฟซๆท‹ๆผ“ๅœฐๅ›žๅบ”ไบ†ๆ็พŽๆดพ็š„ๅ„็ง่ฎบ่ฐƒ。*
*่ฟ™็ฏ‡ๆ–‡็ซ 12000ๅคšๅญ—,ๅดๅฆ‚่กŒไบ‘ๆตๆฐด,ไธ€ๆฐ”ๅ‘ตๆˆ,ๅ ช็งฐ้ธฟ็ฏ‡ๅทจๅˆถ,็ปๅฏน็ปๅ…ธ,ๆ•…ๅ‘่ฏป่€…ๆœ‹ๅ‹ไปฌ้š†้‡ๆŽจ่!*
ๅŽŸๆ–‡็š„็ผ–่€…ๆŒ‰่ฏดๅพ—ๆ›ดๅˆฐไฝ、ๆ›ด็ฒพๅ‡†,ไนŸ้™„ๅœจๆ–‡็ซ ๅผ€ๅคด
*ไธ€、ๆธ…้™คๆ็พŽๆƒ…็ป“ๆ˜ฏๆœ‰ๆ•ˆๆ€่€ƒ็š„็ฌฌไธ€ๆญฅ*
ไธญๅ›ฝ่ฆๅด›่ตท,ๅฟ…้กปๅ…ˆๆธ…้™คๅคงๅฎถ่„‘ๅญ้‡Œ็š„ๆ็พŽๆƒ…็ป“。
ๅˆฐ็›ฎๅ‰ไธบๆญข,ๆˆ‘ๅšไบ†่ฟ‘80ๆœŸ้Ÿณ้ข‘、่ง†้ข‘่ฎฒๅบง,ๅนณๅฐ็•™่จ€็š„ๆ€€็–‘ๅฃฐ้ŸณๅŸบๆœฌๅฐฑๆ˜ฏๆ็พŽ,ๅพˆๅคšไบบ่ฏด:้ฉฌๅง,ไฝ ๅคชๅฐ็œ‹็พŽๅ›ฝไบ†,็พŽๅ›ฝๅ†›ไบ‹ๅฎžๅŠ›ๅพˆๅผบ็š„,่ดงๅธๆ˜ฏ่กจ่ฑก,็พŽๅ›ฝ็š„ๅ†›ไบ‹ๅฎžๅŠ›ๅ’Œ็ง‘ๆŠ€ๅฎžๅŠ›ๆ‰ๆ˜ฏ็พŽๅ…ƒๅผบๅคง็š„ๆ”ฏๆŸฑ……
ไปŠๅคฉ่ฟ™ไธ€่ฎฒ,ๆˆ‘ๅฐฑ้€ไธชๅˆ†ๆž็พŽๅ›ฝ็š„ๅฎžๅŠ›,ไนŸๅฐฑๆ˜ฏๅคงๅฎถ้€šๅธธๆœ€ๅ…ณๆณจ็š„็พŽๅ›ฝ็š„ๅ†›ไบ‹、็ง‘ๆŠ€、้‡‘่ž่ฟ™ๅ‡ ๆ–น้ข็š„ๅฎžๅŠ›,ไปฅๅŽๅคงๅฎถๅ†ๆ็ฑปไผผ็š„้—ฎ้ข˜,ๆˆ‘ๅฐฑๆŠŠ่ฟ™็ฏ‡ๆ–‡็ซ ่ฝฌ่ฟ‡ๅŽป。
็พŽๅ›ฝ็š„็ปๆตŽๅฎžๅŠ›ๅ’Œ็พŽๅ…ƒ้—ฎ้ข˜ๆ˜ฏๆ…ๅœจไธ€่ตท็š„,ๆˆ‘ไผš้‡็‚น่ฎฒ่ฟ™ไธช。่€Œๅคงๅฎถไธ€ๅ†ๅผบ่ฐƒ็พŽๅ›ฝๅ†›ไบ‹ๅฎžๅŠ›ๆ˜ฏ็พŽๅ…ƒ้œธๆƒ็š„ๆ”ฏๆŸฑ,ๆ‰€ไปฅ,ๆˆ‘ไผšๅœจๅˆ†ๆž็พŽๅ›ฝ็ปๆตŽๅ’Œ็พŽๅ…ƒ้—ฎ้ข˜็š„ๅŒๆ—ถ,็ฉฟๆ’็€่ฎฒ็พŽๅ›ฝ็š„ๅ†›ไบ‹ๅฎžๅŠ›ไธŽ็พŽๅ…ƒ้œธๆƒ็š„ๅ…ณ็ณป。ๆœ€ๅŽๆˆ‘ไผšๅˆ†ๆž็พŽๅ›ฝ็š„้ซ˜็ง‘ๆŠ€ๅฎžๅŠ›ๅˆฐๅบ•่ฟ˜่ƒฝไธ่ƒฝ็ปง็ปญ็ปดๆŒ็พŽๅ›ฝ็š„้œธๆƒ。
*ไบŒ、ไธญ็พŽ็ปๆตŽ่žๅˆ่ฟ›็จ‹ไธญ็š„ไธคไธช้˜ถๆฎต*
็ฝ‘ไธŠๅคงVๅ’Œๅญฆ้™ขๆดพไธ“ๅฎถไปฌ่ฐˆ็พŽๅ›ฝ้—ฎ้ข˜,้€šๅธธๅ–œๆฌข่ฎฒๆ•…ไบ‹,่€Œไธ”ๆฏไธชไบบ่ฎฒๆ•…ไบ‹็š„่ง’ๅบฆ้ƒฝไธไธ€ๆ ท。ๆœ‰ไบบๅ–œๆฌข้€š่ฟ‡ๅˆ†ๆž็พŽๅ›ฝๅކไปปๆ€ป็ปŸ็š„ๅ›ฝๅ†…ๅ›ฝ้™…ๆ”ฟ็ญ–,ๆฅๆŽข่ฎจ็พŽๅ›ฝๅฏนๅ†…ๅฏนๅค–ๆฒป็†ๆจกๅผ็š„ๅ˜่ฟ;ๆœ‰ไบบๅ–œๆฌข่ฎฒ็พŽๅ›ฝๅฆ‚ไฝ•ๅ‰ชๆ–ฐๅ…ดๅ›ฝๅฎถ็š„็พŠๆฏ›;่ฟ˜ๆœ‰ไบบๅ–œๆฌข่ฎฒ็Ÿณๆฒน็พŽๅ…ƒ็š„ๅކๅฒๆ•…ไบ‹็ญ‰็ญ‰,่ฏป่€…ไนŸๅ–œๆฌขๅฌๆ•…ไบ‹,ไฝ†ๆˆ‘ไธๅคช็ˆฑ่ฎฒๆ•…ไบ‹。ๆˆ‘ๆ€ปๆ˜ฏๅธŒๆœ›่ƒฝๅธฎๅŠฉๅคงๅฎถ้€่ฟ‡็Žฐ่ฑก็œ‹ๆœฌ่ดจ,ๅธŒๆœ›ๅคงๅฎถ่ƒฝ่ฎค่ฏ†ๅˆฐ็ปๆตŽๅ…จ็ƒๅŒ–่ƒŒๆ™ฏไธ‹็ปๆตŽ่ฟ่กŒ็š„ๅบ•ๅฑ‚้€ป่พ‘。
ไปŽๆ—ถ้—ด่ฝดไธŠ็œ‹,ไธญ็พŽ็ปๆตŽ่žๅˆๅคง่‡ดๅฏไปฅๅˆ†ไธบไธคไธช้˜ถๆฎต:ไปŽ1979ๅนดไธญ็พŽๅปบไบคๅˆฐ2000ๅนดไธญๅ›ฝๅŠ ๅ…ฅWTOไน‹ๅ‰ไธบ็ฌฌไธ€้˜ถๆฎต;่ฟ™ไธ€ๆ—ถๆœŸ,็พŽๅ›ฝ็ปๆตŽไปŽไธญๅ›ฝๆ”น้ฉๅผ€ๆ”พไธญๅพ—ๅˆฐไบ†ๅทจๅคงๅฅฝๅค„,ไธญๅ›ฝ็ปๆตŽไนŸๅ€ŸๅŠฉไธŽ็พŽๅ›ฝไบงไธš้“พ็š„่žๅˆ่ฟ…้€Ÿๆ‰ฉๅผ ๅนถๆๅ‡ไบ†่ดจ้‡;ๅฏไปฅ่ฏด,่ฟ™20ๅนด,ไธญ็พŽๅŒๆ–นๆ˜ฏๆ€ปไฝ“ๅ…ฑ่ตข็š„ๆจกๅผ。 *็œ‹็ปๆตŽๆ˜ฏไธๆ˜ฏ็น่ฃ,ๆ นๆœฌไธŠๆ˜ฏ่ฆ็œ‹ๅ…จ็ƒ็ปๆตŽๆœ‰ๆฒกๆœ‰ๆ–ฐ้œ€ๆฑ‚็š„ๅขž้•ฟ็‚น。* ๅคงๅฎถๆƒณๅƒไธ€ไธ‹,1980ๅนดไปฃไธญๅ›ฝๆ”น้ฉๅผ€ๆ”พๅŽ,ไธ€ไธชๅๅ‡ ไบฟไบบๅฃ็š„ๅคงๅ›ฝ็ช็„ถ้œ€ๆฑ‚ๆ€ป้‡ๅคง่ฟธๅ‘,่ฟ™ๅฏนๅ…จ็ƒ็ปๆตŽๅ‘ๅฑ•ๆ˜ฏๅคšๅคง็š„ๅˆฉๅฅฝๅ•Š!
็พŽๅ›ฝๅฝ“็„ถๆ˜ฏๆœ€ๅคง็š„ๅ—็›Š่€…。้‡Œๆ น็š„ไปปๆœŸๆ˜ฏ1981—1989,ๅ…‹ๆž—้กฟ็š„ไปปๆœŸๆ˜ฏ1993—2001;ๅˆšๅฅฝ่ฟ™ๆฎตๆ—ถ้—ดๆ˜ฏไธญ็พŽ็ปๆตŽไบ’่กฅ็š„“้ป„้‡‘ๆ—ถๆฎต”,ไนŸๆ˜ฏ็Žฐๅœจๅพˆๅคš็พŽๅ›ฝไบบๆœๆ€ๆšฎๆƒณ็š„“ๅพ€ๆ—ฅๅฅฝๆ—ถๅ…‰”。ๅœจๆˆ‘็œ‹ๆฅ,็พŽๅ›ฝ่ƒฝไบซๆœ‰20ๅนด็š„“็ปๆตŽ้ป„้‡‘ๆœŸ”,ไธๆ˜ฏ่ฏด่ฟ™ไธคไฝๆ€ป็ปŸ็š„ๆฒปๅ›ฝๆ–น็•ฅๆœ‰ๅคšไนˆ่‹ฑๆ˜Ž,ๆ›ดไธป่ฆ็š„ๆ˜ฏไป–ไปฌ่ฟๆฐ”ๅฅฝ,ๅ› ไธบ่ฟ™20ๅนดๅ…จ็ƒ็ปๆตŽ้œ€ๆฑ‚ๅคง็Žฏๅขƒ้žๅธธๅฅฝ,่€Œไธ”ไปŽๅœฐ็ผ˜ๆ”ฟๆฒป่ง’ๅบฆ่ฎฒ,่‹่”ๅธๅ›ฝ็š„ๅดฉๆบƒ็ป™็พŽๅ›ฝๅธฆๆฅไบ†ๅ†ทๆˆ˜ๅŽ็š„่ถ…ๅคง็บขๅˆฉ,่ฟ™ไธชๅคง็คผๅŒ…ๅคŸไป–ไปฌๅƒ10ๅนด,็พŽๅ›ฝไนŸ็œŸ็š„ๆŠŠ่ฟ™ไธชๅคง็คผๅŒ…ๅˆ†ๅนฒๅƒๅ‡€ไบ†。
ๆ‰€ไปฅ,ๅฆ‚ๆžœๆŠŠ้‡Œๆ นๅ’Œๅ…‹ๆž—้กฟ็š„ๆ”ฟ็ญ–ๆ‹ฟๅˆฐไปŠๅคฉๅคๅˆถไธ€้,ไนŸๆ นๆœฌๆ— ๆณ•ๆ”นๅ˜็พŽๅ›ฝไปŠๅคฉ็š„ๅ›ฐๅขƒ,ๅ› ไธบๅ…จ็ƒ็ปๆตŽๅคง็Žฏๅขƒๅ˜ไบ†,ๅœฐ็ผ˜ๆ”ฟๆฒปๅšๅผˆ็š„ๅŠ›้‡ๅฏนๆฏ”ไนŸๅ‘็”Ÿไบ†ๆ นๆœฌๅ˜ๅŒ–,็พŽๅ›ฝๅทฒ็ปไธฅ้‡้€ๆ”ฏไบ†่‡ชๅทฑ็š„ๅ›ฝๅŠ›,ๅทฒ็ป้”™่ฟ‡ไบ†“ๅ†ๆฌกไผŸๅคง”็š„็ช—ๅฃๆœŸ,ๅฏไปฅ่ฏด,็Žฐๅœจๅšไป€ไนˆ้ƒฝๆฅไธๅŠไบ†。้ฅๆƒณๅ…‹ๆž—้กฟๆ‰งๆ”ฟๆ—ถๆœŸ,็พŽๅ›ฝ่ดขๆ”ฟ้ข„็ฎ—่ฟ˜ๆ˜ฏ็›ˆไฝ™,ไปฅ่‡ณไบŽๅฝ“ๆ—ถ็š„่ˆ†่ฎบไธ€็‰‡ไน่ง‚,่ฏดๆœชๆฅๆ”ฟๅบœ็š„้’ฑไผšๅคšๅˆฐๆฒกๅ‡บๆ”พ,ๆฒกๅ›ฝๅ€บๅฏๅ–。ๅฏ่ฐๅˆ่ƒฝๆƒณๅˆฐ,้‚ฃไนˆๅฅฝ็š„ๅฎถๅบ•ไป…ไป…20ๅนดๅฐฑๅฝปๅบ•่ดฅๅ…‰ไบ†!
*ไธ‰、ไบงไธš็ฉบๅฟƒๅŒ–ๆ˜ฏ็พŽๅ›ฝ่ตฐๅ‘่กฐ่ดฅ็š„ไธๅฝ’่ทฏ*
ไปŽ2000ๅนดๅผ€ๅง‹,ไธญๅ›ฝๅทฅไธšๅŸบ็ก€้€ๆญฅๅˆๅ…ท่ง„ๆจก,่€Œ็พŽๅ›ฝๅคงไผไธšๅˆ™่ตฐๅ‘ไบ†“ๅพฎ็ฌ‘ๆ›ฒ็บฟ”็š„็ป่ฅๆจกๅผ,ไนŸๅฐฑๆ˜ฏ็พŽๅ›ฝๅชๅš่ฎพ่ฎก็ซฏๅ’Œ้”€ๅ”ฎ็ซฏ,ไธญ้—ด็”Ÿไบงๅˆถ้€ ่ฟ™ไธ€ๅ—็ป™ไบ†ไปฅไธญๅ›ฝไธบ้ฆ–็š„ๆ–ฐๅ…ดๅ›ฝๅฎถ。ๅพฎ็ฌ‘ๆ›ฒ็บฟๆจกๅผ็š„็กฎๆ้ซ˜ไบ†ไธŠๅธ‚ๅ…ฌๅธ็š„็›ˆๅˆฉ่ƒฝๅŠ›,ไผไธšๆœ‰ไบ†่‰ฏๅฅฝ็š„็Žฐ้‡‘ๆต,ๅฐฑๅฏไปฅๅœจ็ง‘ๆŠ€็ ”ๅ‘ไธŠๆœ‰ๆ›ดๅคš็š„ๆŠ•ๅ…ฅ。
ๅฏไปฅ่ฏด,2000~2016ๅนดๆ˜ฏๅ…จ็ƒ็ง‘ๆŠ€ๅ‘ๆ˜ŽไธŽๅบ”็”จ็ช้ฃž็Œ›่ฟ›็š„16ๅนด,ไนŸๆ˜ฏไธญๅ›ฝๆž„ๅปบๅฎŒๅค‡็š„ๅทฅไธšไบงไธš้“พ,ๅนถๆŠŠไธญๅ›ฝๅˆถ้€ ไปŽไฝŽ้™„ๅŠ ๅ€ผๆ‹‰ๅ‡ๅˆฐๅ…จๆ–นไฝๅ†ฒๅ‡ปไธญ้ซ˜็ซฏไบงไธš้“พ็š„16ๅนด。่ฟ™ๆœŸ้—ด,็พŽๅ›ฝไผไธšๆ‹ฟ่ตฐไบ†ๅˆฉๆถฆ็š„ๅคงๅคด,ไฝŽๅˆฉๆถฆ็š„่‹ฆๅทฎไบ‹้ƒฝๆ˜ฏไธญๅ›ฝไผไธšๆฅๅš。่€Œไธ”,็พŽๅ›ฝๅœจไธญๅ›ฝๅธƒๅฑ€ไบงไธš้“พ,ๆŠ•่ต„ไบบๆ˜ฏไธญๅ›ฝ็š„ไผไธšๅฎถ,่ฟ™ๅฏน่ต„ๆœฌๆฅ่ฏดๆ˜ฏ้กถ็บง็š„ๅˆฉๆถฆๆจกๅž‹,ไนŸๆˆๅฐฑไบ†็พŽ่‚ก20ๅนด็š„้•ฟ็‰›。ไฝ†ๆ˜ฏ,็”˜่”—ๆฒกๆœ‰ไธคๅคด็”œ。2000ๅนดไน‹ๅŽ,ๆ”พๅผƒไบ†ๅˆถ้€ ไธš็š„็พŽๅ›ฝไปŽๆญค่ตฐไธŠไบ†ๅทฅไธš็ฉบๅฟƒๅŒ–ไน‹่ทฏ,ไนŸๆ˜ฏ็พŽๅ›ฝ่ตฐๅ‘่กฐ่ดฅ็š„ไธๅฝ’่ทฏ。
่ฆ็Ÿฅ้“,ๅทฅไธš็ฉบๅฟƒๅŒ–ๅฏน็พŽๅ›ฝ็š„้œธไธปๅœฐไฝๅ’Œ็พŽๅ…ƒ็š„้œธๆƒๅœฐไฝ็š„ไผคๅฎณ้ƒฝๆ˜ฏ่‡ดๅ‘ฝ็š„。ๅคงๅฎถๆƒณไธ€ๆƒณ,้œธๆƒ้ ไป€ไนˆ็ปดๆŒ?ๅœจ็ปๆตŽๅ…จ็ƒๅŒ–็š„ๅคง่ƒŒๆ™ฏไธ‹,็พŽๅ›ฝ่ฆๅฝ“ๅ…จ็ƒ้œธไธป,ๆ— ้žๅฐฑๆ˜ฏไธคไธชๆ‰‹ๆฎต:่ƒก่ๅœๅŠ ๅคงๆฃ’。ๆ‰€่ฐ“่ƒก่ๅœ,้ฆ–ๅ…ˆๅฐฑๆ˜ฏไฝ ่ƒฝ็ป™ๅˆไฝœไผ™ไผดๆไพ›ไป€ไนˆๆ ท็š„็ปๆตŽๅˆฉ็›Šๆˆ–ๅ…ถไป–ๅˆฉ็›Š。ๅคงๆฃ’ๅˆ†็ปๆตŽๅคงๆฃ’ๅ’Œๅ†›ไบ‹ๅคงๆฃ’,ๆ‰€่ฐ“็ปๆตŽๅคงๆฃ’,่‡ช็„ถๅฐฑๆ˜ฏ็พŽๅ›ฝๆƒฏ็”จ็š„็ปๆตŽๅˆถ่ฃ。
ๅฝ“็พŽๅ›ฝๅคฑๅŽปไบ†ๅทฅไธšๅŒ–,็พŽๅ›ฝๅฐฑๆฒฆไธบไบ†ๅ†œไธšๅ’Œ่ƒฝๆบไบงๅ“ไพ›ๅบ”ๅ›ฝ,่ฟ™ไฝฟ็พŽๅ›ฝๅ’Œ่ฏธๅคš็›Ÿๅ‹้—ด็š„็ปๆตŽๅ…ณ็ณปไปŽ็ปๆตŽไบ’่กฅๅ˜ๆˆ็›ธไบ’็ซžไบ‰ไบ†;่ฟ™ๆ—ถ,็พŽๅ›ฝๅฏน็›Ÿๅ‹ๅฐฑไธงๅคฑไบ†็ปๆตŽ่ƒก่ๅœ็š„่ฏฑๆƒ‘;่€Œ่ฟ™ๅŒๆ ทๆ„ๅ‘ณ็€็พŽๅ›ฝ็š„็ปๆตŽๅคงๆฃ’ไนŸ่ถŠๆฅ่ถŠๆ— ๆ•ˆ,ๅ› ไธบๅ„ๅ›ฝ็ปๆตŽๆ˜ฏ็›ธไบ’ไพๅญ˜็š„,ๅฝ“ไฝ ๅคฑๅŽปไบ†ๅฏนๅˆซไบบ็š„็ปๆตŽ่ฏฑๆƒ‘ๅŠ›,ไฝ ๅฏนๅˆซไบบ็š„็ปๆตŽๅจๆ…‘ๅŠ›ไนŸๅฐฑๅคงๅคงๅ‰Šๅผฑ、็”š่‡ณๆถˆๅคฑไบ†。
*ๅ››、็พŽๅ›ฝๆ•ขๅฏนไธญๅ›ฝๅŠจๆญฆๅ—*
็ปๆตŽไธŠ็พŽๅ›ฝๅฏนไธญๅ›ฝๅทฒ็ปๆ— ่ƒฝไธบๅŠ›,้‚ฃ็พŽๅ›ฝ่ƒฝๆŒฅ่ˆžๅ†›ไบ‹ๅคงๆฃ’ๅ—?่ƒฝไธ่ƒฝๆŒฅ่ˆžๅ†›ไบ‹ๅคงๆฃ’,้ฆ–ๅ…ˆ่ฆ็œ‹ๅฏนๆ‰‹ๆ˜ฏ่ฐ。ไบŒๆˆ˜ๅŽ,็พŽๅ›ฝๅ‘ๅŠจไบ†่ฟ™ไนˆๅคšๆˆ˜ไบ‰,ๆ‰“็š„้ƒฝๆ˜ฏ่ฐๅ‘ข?้ƒฝๆ˜ฏไธๅœจๅŒไธ€ไธชๆ•ฐ้‡็บง็š„ๅฐๅ›ฝ、ๅผฑๅ›ฝ,่€Œๅฏนไธญๅ›ฝ่ฟ™ๆ ทไธ€ไธช่ถ…ๅผบๅ†›ไบ‹ๅคงๅ›ฝ,ๅฎƒๆ•ข่ฝปๆ˜“ๅŠจๆญฆๅ—?ๅพˆๅคš็ฝ‘ๅ‹่ฏด,ๅฆ‚ๆžœไธญๅ›ฝไธ็ปง็ปญไพ›ๅ…ป็พŽๅ›ฝ,็พŽๅ›ฝๅฐฑ่ฆๅ‘็–ฏ,ๅฐฑไผš็–ฏ็‹‚ๆ‰“ๅ‡ปไธญๅ›ฝ,่€Œ็พŽๅ›ฝๆฏ•็ซŸ่ฟ˜ๆ˜ฏไธ–็•Œๅคดๅทๅ†›ไบ‹ๅผบๅ›ฝ,็ปไธๅฏ่ฝป่ง†็พŽๅ›ฝ็š„ๅ†›ไบ‹ๅฎžๅŠ›,ไปฅๅŠๅฎƒๅ‘ๅŠจๆˆ˜ไบ‰็š„็–ฏ็‹‚ๅ’Œๅ†ณๅฟƒ。
ๆฒก้”™,็พŽๅ›ฝ่ฟ˜ๆ˜ฏๅฝ“ไปŠไธ–็•Œๅคดๅทๅ†›ไบ‹ๅผบๅ›ฝ,ไฝ†ไธญๅ›ฝ็š„ๅ†›ไบ‹ๆ–—ไบ‰ๅ‡†ๅค‡ๅฏไปฅ่ฏดๆ˜ฏไปฅ็™พ็ฑณๅ†ฒๅˆบ็š„้€ŸๅบฆๅœจๆŽจ่ฟ›,ๅŒ…ๆ‹ฌๆˆ‘ไปฌ็š„ๅŒ—ๆ–—,ไปฅๅŠๆˆ‘ไปฌ็š„้™†ๆตท็ฉบๅ†›ๅ’Œ็ซ็ฎญๅ†›็š„ๅปบ่ฎพ็ญ‰็ญ‰。ไธญๅ›ฝ็š„ๅ†›ไบ‹ๅฎžๅŠ›ไธŽ็พŽๅ›ฝ็š„ๅทฎ่ทๆญฃๅœจ่ฟ…้€Ÿ็ผฉๅฐ,ไธญๅ›ฝ็š„ๅ†›ไบ‹ๅฎžๅŠ›่ถณไปฅๆๅซๅ›ฝๅฎถๅˆฉ็›Š,ๅœจๆญค่ƒŒๆ™ฏไธ‹,็พŽๅ›ฝๆ•ขๅœจๅ—ๆตทๆˆ–ๅฐๆตทไธŽไธญๅ›ฝๆ‰“ไธ€ไป—ๅ—?ๆˆ‘่ฎคไธบๅฎƒ็ปๅฏนไธๆ•ข!
ๅฆ‚ๆžœไฝ ็œ‹ๅ…ฐๅพทๅ…ฌๅธ็š„ๅˆ†ๆžๆŠฅๅ‘Š,็ป™ไฝ ็ป˜ๅฃฐ็ป˜่‰ฒๅœฐๆ่ฟฐไธญ็พŽๅœจๅ—ๆตท、ๅฐๆตทๆ‰“ๅ„็ง็ƒˆๅบฆ、้•ฟๅบฆ็š„ๆˆ˜ไบ‰;ๅฆ‚ๆžœไฝ ็œŸไฟก้‚ฃไธช,็„ถๅŽๅผ€ๅง‹่ฎก็ฎ—ๆˆ˜ๆŸๆฏ”,่ฏ„ไผฐๅ„็งๅˆฉๅผŠๅพ—ๅคฑ,้‚ฃไฝ ๅฐฑไธญๆ‹›ไบ†。้‚ฃไบ›ๆŠฅๅ‘Šๆœฌ่ดจไธŠๅฐฑๆ˜ฏ้…ๅˆ็พŽๅ›ฝๆ”ฟๅบœๅ“ๅ”ฌไธญๅ›ฝ。ๅฝ“็„ถ,้‚ฃไนŸๆ˜ฏๅฏน็œŸๅฎžๅœบๆ™ฏ็š„ๅ…ตๆฃ‹ๆŽจๆผ”,ไนŸๆ˜ฏไบบๅฎถ็š„ๅ„็ง้ข„ๆกˆ,้‚ฃๆˆ‘ๅ†›ๅฐฑๆฒกๆœ‰่ฟ™ๆ ท็š„้ข„ๆกˆๅ—?ๅฝ“็„ถๆœ‰。ๆˆ‘ไปฌ่‚ฏๅฎšๆ—ฉๅฐฑๅšๅฅฝไบ†ๅ„็งๆœ€ๅ็š„ๅ‡†ๅค‡。่ฟ™ไนŸๆ˜ฏไธบไป€ไนˆๆˆ‘ไปฌ็š„้ข†ๅฏผไบบๆฏๆฌกๅฏนๅ†›้˜Ÿ่ฎฒ่ฏ้ƒฝๅผบ่ฐƒไธ€็‚น:ๅ‡†ๅค‡ๅ†›ไบ‹ๆ–—ไบ‰。
่ฏดๅˆฐๅบ•,่ฟ™ไบ›ๅ…ตๆฃ‹ๆŽจๆผ”ๅนถไธ้‡่ฆ,้‡่ฆ็š„ๆ˜ฏไธญ็พŽไธคๅ›ฝๆ˜ฏ็œŸๆญฃๆ„ไน‰ไธŠ็š„ๆ ธๅคงๅ›ฝ,้ƒฝๆœ‰่ถณๅคŸ็š„ๅŠ›้‡ๆฏ็ญๅฏนๆ‰‹。่ฟ™ๆ ทไธคไธชๆ ธๅคงๅ›ฝ,ๅฆ‚ๆžœ็œŸๆ‰“่ตทๆฅ,ๅˆนไธไฝ่ฝฆๆ€ŽไนˆๅŠž?็พŽๅ›ฝไบบๆฒกๆƒณ่ฟ‡่ฟ™ไธชๅ—?ๅฎƒๅฝ“็„ถๆƒณ่ฟ‡。่ฏด็พŽๅ›ฝ็ปŸๆฒป้›†ๅ›ขๆœ‰ๅ‘ๅŠจๆˆ˜ไบ‰็š„็–ฏ็‹‚ๅ’Œๅ†ณๅฟƒ,ๅ…ถๅฎž็พŽๅ›ฝ็š„ๅž„ๆ–ญ็ปŸๆฒป้˜ถ็บงๆœ€ๆ€•ๆญป。
็œ‹็œ‹ไบŒๆˆ˜ๅŽ็พŽๅ›ฝๅ‘ๅŠจ็š„ๆ‰€ๆœ‰ๆˆ˜ไบ‰,ๅ…จ้ƒจ้ƒฝๆ˜ฏ้’ˆๅฏนๅผฑๅ›ฝๅ’Œๅฐๅ›ฝ,่ฏด็ฉฟไบ†,้ƒฝๆ˜ฏๆ‰“ๆœ‰100%ๆŠŠๆก็š„ไป—。ๅคงๅฎถๅ›žๅฟ†ไธ€ไธ‹,ๅฝ“ๅนด็พŽๅ›ฝไธบไป€ไนˆ้‚ฃไนˆๅฟซๅฐฑไป‹ๅ…ฅไบ†ๆœ้ฒœๆˆ˜ไบ‰?ๅ› ไธบๅฎƒ้ข„ๅˆคไธญๅ›ฝไธไผšๅ‚ๆˆ˜,็ป“ๆžœๆœ้ฒœๆˆ˜ไบ‰ๆˆไบ†็พŽๅ›ฝๅปบๅ›ฝไปฅๆฅๆ ฝ็š„็ฌฌไธ€ไธชๅคง่ทŸๅคด。็Žฐๅœจ่ทŸไธญๅ›ฝๆ‰“,็พŽๅ›ฝๆœ‰่ƒœ็ฎ—ๅ—?ๅฆ‚ๆžœๅ†›ไบ‹ๆŒ‘่ก…ไธญๅ›ฝ้ญๅˆฐๆŒซ่ดฅ,็พŽๅ›ฝๅฐ†ไปŽไธ–็•Œ้œธไธป็š„ๅฎๅบงไธŠ็›ดๆŽฅๆ‘”ไธ‹ๆฅ,็พŽๅ›ฝๅ‡†ๅค‡ๅฅฝไบ†ๅ—?
ๆœ‰ไบบ่ฏด,็Žฐๅœจ็–ซๆƒ…้‡ๅŽ‹ไน‹ไธ‹,็พŽๅ›ฝๅ›ฝๅ†…็Ÿ›็›พๅฟซ่ฆๆฟ€ๅŒ–ๅˆฐๅคฑๆŽง็š„ๅœฐๆญฅไบ†,ๅ› ๆญค,็พŽๅ›ฝไธ€ๅฎšไผšๅฏนๅค–่ฝฌๅซ็Ÿ›็›พ、ๅ‘ๅŠจๆˆ˜ไบ‰。ๅŸบ่พ›ๆ ผ็”š่‡ณๅจ่ƒ่ฏด:“ไธญๅ›ฝ่ฆๅธฎๅŠฉ็พŽๅ›ฝ,ไปฅ้ฟๅ…ๆˆ˜ไบ‰。”ไธ€ๆ—ถ้—ด,ๅ„็งๆˆ˜ไบ‰้˜ดไบ‘่ฎบ็บท่ตท,ๅพˆๅคšไบบ่ฟ˜็œŸๆŠŠๅŸบ่พ›ๆ ผ็š„่™šๅฃฐๆซๅ“ๅฝ“็œŸไบ†。ๅฏ่ƒฝๅคงๅฎถ้ƒฝๅฟ˜ไบ†ๅ…ณ้”ฎ็š„ไธ€็‚น,ๅฏนๅค–่ฝฌๅซ็Ÿ›็›พ、ๅ‘ๅŠจๆˆ˜ไบ‰็š„ๆ นๆœฌๅ‰ๆๆ˜ฏ่ฆ่ƒฝๆ‰“ๅพ—่ตข、ๆžๅพ—ๅคŸ,่ฟ˜่ฆ่ƒฝๆŠŠๆกๆˆ˜ไบ‰็š„่ฟ›็จ‹ๅ’Œ่Š‚ๅฅ,ๆƒณๅœๅฐฑ่ƒฝๅœไธ‹ๆฅ,่€Œ็พŽๅ›ฝๅœจ่ฟ™ไธช้—ฎ้ข˜ไธŠๅทฒ็ปๅƒไบ†ๅคชๅคš็š„ไบ。
ๅฎƒๅ‘ๅŠจๆˆ˜ไบ‰ๅฎนๆ˜“,ไฝ†ๅ‘ๅŠจไน‹ๅŽ,ๆˆ˜ไบ‰่ฟ›็จ‹ๆ€Žไนˆ่ตฐ、่ƒฝไธ่ƒฝๅœไธ‹ๆฅๅฏๅฐฑ็”ฑไธๅพ—ๅฎƒไบ†。็พŽๅ›ฝ้™ทๅœจ้˜ฟๅฏŒๆฑ—、ไผŠๆ‹‰ๅ…‹、ๅ™ๅˆฉไบšๆˆ˜ๅœบ้‚ฃไนˆๅคšๅนด,ๅƒ็š„ไบๅทฒ็ปๅคŸๅคงไบ†。่ฟ™่ฟ˜ไธ็ฎ—ๅฎƒๅœจ่ถŠๅ—ๆˆ˜ๅœบๅ’Œๆœ้ฒœๆˆ˜ๅœบ้™ทๅ…ฅ็š„ๅ›ฐๅขƒ,ๆญฃๆ˜ฏ้‚ฃไธคๅœบๆˆ˜ไบ‰ๅฐ†็พŽๅ›ฝๆ‹–ๅ…ฅๅ…จ้ขๅ›ฐๅฑ€。็พŽๅ›ฝๅปบๅ›ฝไปฅๆฅ,ๅ”ฏไธ€่พ“ๆމ็š„ไธคๅœบๆˆ˜ไบ‰,้ƒฝๆ˜ฏ่ดฅ็ป™ไธญๅ›ฝ,ๆๆ€•ๆ—ถ่‡ณไปŠๆ—ฅ,ๅฎƒ็š„ๅฟƒ็†้˜ดๅฝฑ้ƒฝๆฒกๆœ‰ๆธ…็†ๅนฒๅ‡€。็œ‹็œ‹็พŽๅ›ฝ็š„ๅކๅฒๅฐฑๆ˜Ž็™ฝ,่ฟ™ไธชๅ›ฝๅฎถไปŽๆฅ้ƒฝๆ˜ฏๆฌบ่ฝฏๆ€•็กฌ。
ๅ›ฝๅฎถๅปบ่ฎพๅ†›ไบ‹ๅฎžๅŠ›็š„็›ฎ็š„้ฆ–ๅ…ˆๆ˜ฏๅจๆ…‘,ๅ…ถๆฌกๆ‰ๆ˜ฏ็œŸๆญฃๅŠจ็”จๆˆ˜ไบ‰ๆ‰‹ๆฎต,่€Œ็พŽๅ›ฝๅฏนไธญๅ›ฝ็š„ๅ†›ไบ‹ๆซๅ“ๆ นๆœฌๅฐฑไธ่ตทไฝœ็”จ。ๆ—ข็„ถๅ†›ไบ‹ไธŠๅ“ไธๅ€’ไธญๅ›ฝ,้‚ฃๅฐฑๆ‹‰็€ไธ€ไผ—ๅฐๅ–ฝ็ฝ—,ๆžๆ‰€่ฐ“็š„ๅ„็ง“ๆˆ˜็•ฅ”,ๆžๅฐ้”ๅ›ดๅ ตไธญๅ›ฝ็š„ๅ„็ง“้“พ”。็Žฐๅœจ็พŽๅ›ฝ็š„ๅฆ‚ๆ„็ฎ—็›˜ๅฐฑๆ˜ฏๆŠŠไธญๅ›ฝๆ‹–ๅ…ฅไธ€ๅœบๅœฐ็ผ˜ๆˆ˜ไบ‰,ๅฎƒ่บฒๅœจ่ƒŒๅŽๆ”ฏๆŒไปฃ็†ไบบ่ทŸไธญๅ›ฝๆ‰“,ๅๆ”ถๆธ”ๅˆฉ。ๅฐฑ้—ฎไธ€ๅฅ:ไธญๅ›ฝๅ‘จ่พนๆœ‰่ฟ™ๆ ท็š„็พŽๅ›ฝไปฃ็†ไบบๅ—?ๅฐๅบฆไผšๅŽปๆ›ฟ็พŽๅ›ฝ็ซไธญๅ–ๆ —ๅ—?่ฟ˜ๆ˜ฏ่ถŠๅ—ๆœ‰่ฟ™ไธช่ƒ†ๅญ?่ฟ™ๅฐฑๆ˜ฏ็พŽๅ›ฝๆ‰€่ฐ“็š„“ๅฐๅคชๆˆ˜็•ฅ”,ๅ„็ง่”ๅˆๅ†›ๆผ”,ๅฅฝไธๅจ้ฃŽ!ๅ…ถๅฎžๅฐฑๆ˜ฏๅšๅšๆ ทๅญ็ฝขไบ†!
ๆ—ข็„ถๆ˜Ž็Ÿฅๅ†›ไบ‹ๆซๅ“ไธญๅ›ฝๆฒกไป€ไนˆ็”จ,้‚ฃไธบไป€ไนˆ่ฟ˜่ฆๅคฉๅคฉ่ท‘ๅˆฐๅฐๆตทๆฅ็ขฐ็“ทๅ„ฟๅ‘ข?ๅฎƒๅฐฑๆ˜ฏ่ตŒ,ๅๆญฃไฝ ไธๆ•ขๅŠจๆˆ‘,ๅ› ไธบไฝ ๅŠจๆˆ‘,ๅฐฑๆ˜ฏไธญ็พŽ็›ดๆŽฅๅ†›ไบ‹ๅ†ฒ็ช;ไฝ ไธๆ•ขๅŠจๆˆ‘,ๆˆ‘ๅฐฑไธๆ–ญๅœฐ่ฏ•ๆŽข、่งฆ็ขฐไฝ ็š„ๅบ•็บฟ;ไฝ ไธๅๅ‡ป,ๆˆ‘ๅฐฑๆŠŠไฝ ็š„็บข็บฟไธ€็‚นไธ€็‚นๅพ€ๅŽๆŽจ;่ƒฝๅ ็‚นๅ„ฟไพฟๅฎœๅฐฑๅ ็‚นไพฟๅฎœ,ๅŒๆ—ถๅฏไปฅ็ผ“่งฃๅ›ฝๅ†…็š„ๅŽ‹ๅŠ›,ๆ˜พ็คบๆˆ‘่ฟ˜ๅพˆๅผบๅคง。่ฟ™ๆ ทๅšๆœ‰็”จๅ—?ๆฒกๆœ‰็”จ。
ๅ› ไธบ็พŽๅ†›่ท‘ๅˆฐๆˆ‘ไปฌๅฎถ้—จๅฃๆฅ็ขฐ็“ท,ๅฟ…็„ถ้ญๅˆฐ่งฃๆ”พๅ†›็š„ๅๅˆถ,้™คไบ†็ป™ๆˆ‘ๅ†›ๅฝ“้™ช็ปƒ,่ฟ˜่ƒฝๅนฒไป€ไนˆ?ๅ› ๆญค,่ฟ™ๆ›ดๅคš็š„ๅฐฑๆ˜ฏไธ€็งๆ”ฟๆฒปๅงฟๆ€,ๅฐฑๆ˜ฏๅ‘Š่ฏ‰ๅ‘จ่พนๅ›ฝๅฎถ,ๆˆ‘็พŽๅ›ฝๅฐฑๆ˜ฏ้“ไบ†ๅฟƒ่ฆ่ทŸไธญๅ›ฝไฝœๅฏนไบ†,ไฝ ไปฌๅช่ƒฝ้€‰ไธ€ไธช,่ฟ™ๅฐฑๆ˜ฏ็พŽๅ›ฝ็š„็›ฎ็š„。ไฝ†ๆ˜ฏ,็พŽๅ›ฝ่ฟ™ๆ ทๅšไบ†ๅˆๅฆ‚ไฝ•?่ฟ™ไบ›ๅ‘จ่พนๅ›ฝๅฎถไผš่ขซ็พŽๅ›ฝๅ“ๅพ—้ฉฌไธŠๅŽป็ซ™ๅœจๅฎƒ่บซ่พน,่ทŸไธญๅ›ฝไฝœๅฏนๅ—?็พŽๅ›ฝๅœจๅ—ๆตทไธŠ่นฟไธ‹่ทณๆœ‰็”จๅ—?ๅฎž้™…ๆƒ…ๅ†ตๅฅฝๅƒๆ˜ฏ“ๅ—ๆตท่กŒไธบๅ‡†ๅˆ™”ๅฟซ่ฆ่ฝๅฎžไบ†。
ๆ‰€ไปฅ่ฏด,ๅฏน็พŽๅ›ฝ่ฟ™็ง่™šๅผ ๅฃฐๅŠฟ,ๆˆ‘ไปฌๅคงๅฏไธๅฟ…ๅœจๆ„。ๅฏ่ƒฝๆˆ‘ไปฌ็œŸๆญฃ้œ€่ฆ้˜ฒ่Œƒ็š„ๆ˜ฏ็พŽๅ›ฝ็‹—ๆ€ฅ่ทณๅข™,ๅฏนไธญๅ›ฝๅ‘ๅŠจๅ…จ้ข็ฝ‘็ปœๆ”ปๅ‡ปๆˆ–็”Ÿ็‰ฉๆˆ˜,ๅŒ…ๆ‹ฌๅœจไธ€ไบ›ๅœฐ็†ๅ…ณ้”ฎ่Š‚็‚น,ๅ‘ๅŠจ้’ˆๅฏนไธญๅ›ฝ็š„ๆๆ€–่ขญๅ‡ป,้‚ฃไบ›ๅฏ่ƒฝๆ‰ๆ˜ฏ็œŸๆญฃ็š„ๅฑ้™ฉ。
ๅคชๅคš็š„ไบ‹ๅฎžๅทฒ็ป่กจๆ˜Ž,ๅฆ‚ๆžœ็พŽๅ›ฝๅฏนๅŽๆ”ฟ็ญ–ๆœ‰ๅ†›ไบ‹้€‰้กน,ๅฎƒๆ—ฉๅฐฑๅŠจๆ‰‹ไบ†。็Žฐๅœจ็พŽๅ›ฝ่ฟžไผŠๆœ—้ƒฝไธๆ•ขๆ‰“,่ฟ˜ๆ•ขๆ‰“ไธญๅ›ฝ!็พŽๅ›ฝๆ‰“ไผŠๆ‹‰ๅ…‹,่Šฑไบ†ไธŠไธ‡ไบฟ็พŽๅ…ƒ,่€Œไธ”ๆŒ‰็…ง็‰นๆœ—ๆ™ฎ็š„่ฏดๆณ•,็พŽๅ›ฝๅœจๅคงไธญไธœๅœฐๅŒบๅ‘ๅŠจ็š„ๆˆ˜ไบ‰ๆ€ปๅ…ฑ่€—่ดนไบ†7ไธ‡ไบฟ็พŽๅ…ƒ,ๅดๅชๆ”ถ่Žทไบ†ไธ€ๅœฐ้ธกๆฏ›。้™คไบ†ๅฐ‘ๆ•ฐๅ†›็ซๆ‰ฟๅŒ…ๅ•†ๅ’Œ็Ÿณๆฒน่ดขๅ›ขๅ‘ไบ†่ดข,็พŽๅ›ฝๅ›ฝๅฎถๅ’Œ็พŽๅ›ฝไบบๆฐ‘ๅพ—ๅˆฐไบ†ไป€ไนˆ?็พŽๅ›ฝไธไป…ๅœจๅคงไธญไธœๅœฐๅŒบๅฎŒๅ…จๅพ—ไธๅฟๅคฑ,่€Œไธ”่ฟ…้€ŸๆถๅŒ–ไบ†็พŽๅ›ฝ็š„ๅ€บๅŠกๅ›ฐๅขƒ,่‘ฌ้€ไบ†็พŽๅ›ฝ“ๅ†ๆฌกไผŸๅคง”็š„ๆœ€ๅŽๆœบ้‡ๆœŸ。
*ไบ”、ไปŠๅคฉ็š„็พŽๅ›ฝ่ƒฝ็ป„ๅปบไธ€ไธชๅๅŽ็ปๆตŽ่”็›Ÿๅ—*
็พŽๅ›ฝๅ†›ไบ‹ๅจ่ƒไธญๅ›ฝๆ— ๆ•ˆ,่‡ชๅทฑไนŸๆ— ๅŠ›ไธŽไธญๅ›ฝ็ปง็ปญๆ‰“็ปๆตŽๆˆ˜,้‚ฃ็พŽๅ›ฝๆœ‰่ƒฝๅŠ›ๅˆฉ็”จ็ปๆตŽๆ‰‹ๆฎต็ป„ๅปบไธ€ไธช็ปๆตŽ่”็›Ÿๆฅๅ›ดๅ ตไธญๅ›ฝๅ—?ไธŠ้ข่ฏดไบ†,ไปŠๅคฉ็š„็พŽๅ›ฝๅทฒ็ปๆฒฆไธบๅ†œไบงๅ“ๅ’Œ่ƒฝๆบๅŠๅŽŸๆๆ–™ไพ›ๅบ”ๅ›ฝ,ๅทฒ็ปๅ’Œๆ–ฐๅ…ดๅ›ฝๅฎถๅนถๆŽ’็ซ™ๅœจไธ€่ตท,ๆฅ็ซžไบ‰ไธญๅ›ฝ็š„็Ÿณๆฒนๅธ‚ๅœบ、ๅŽŸๆๆ–™ๅธ‚ๅœบ、ๅ†œไธšๅธ‚ๅœบ、้ฃžๆœบๅธ‚ๅœบ,ๅฆ‚ๆญค็ปๆตŽ็ป“ๆž„็š„็พŽๅ›ฝๆœ‰ไป€ไนˆๅบ•ๆฐ”ๅ’ŒๅฎžๅŠ›ๅœจ็ปๆตŽไธŠๅจๆ…‘ไธญๅ›ฝ?่ฟ™ๆ ท็š„็พŽๅ›ฝๅˆๅฆ‚ไฝ•็ปง็ปญๅฝ“ไธ–็•Œ้œธไธป?็พŽๅ›ฝ่ฏ•ๅ›พๅ‘ๅŠจๅคงๅฎถๅœจ็ปๆตŽไธŠๅ›ดๅ ตไธญๅ›ฝ,ๅฏๆ˜ฏ็พŽๅ›ฝ่‡ชๅทฑๅดๅ’Œ็›Ÿๅ‹ๅœจ็ซžไบ‰ไธญๅ›ฝๅธ‚ๅœบ,ๅคงๅฎถๅฏนไธญๅ›ฝ้ƒฝๆ˜ฏ้œ€ๆฑ‚ไพ่ต–,่ฐไผš็œŸ็š„่ทŸ็€ไฝ ๆฅๅ›ดๅ ตๅฐ้”ไธญๅ›ฝ?
ไบงไธš็ฉบๅฟƒๅŒ–ๅทฒ็ปๆŒ–ๆމไบ†็พŽๅ›ฝๅ’Œ็›Ÿๅ›ฝ็ปๆตŽๅˆฉ็›Šไบ’่กฅ็š„ๅœฐๅŸบ。ๆฏ”ๅฆ‚่ฏด,็พŽๅ›ฝ็Žฐๅœจๆ˜ฏ็Ÿณๆฒนๅ‡บๅฃๅ›ฝ,ไธŽไธญไธœ็Ÿณๆฒนๅ‡บๅฃๅ›ฝๅ…ฑๅŒ็ซžไบ‰ไธญๅ›ฝ็š„็Ÿณๆฒนๅธ‚ๅœบ;็ฒฎ้ฃŸๆ–น้ข,็พŽๅ›ฝๅ’Œๅ—็พŽ็ซžไบ‰ไธญๅ›ฝ็š„็ฒฎ้ฃŸๅธ‚ๅœบ;ๆฑฝ่ฝฆ้ข†ๅŸŸ,ๆฌง็พŽๆ—ฅๅœจไบ‰ไธญๅ›ฝๅธ‚ๅœบ็š„ไปฝ้ข;้ฃžๆœบๅธ‚ๅœบไธŠ,ๆณข้Ÿณๅ’Œ็ฉบๅฎขๆ‹ผๅ‘ฝๆŠขไธญๅ›ฝ็š„้ฃžๆœบ่ฎขๅ•。
่ฟ™ๆ ท็ปๆตŽ็ป“ๆž„็š„็พŽๅ›ฝ,ๆ‹ฟไป€ไนˆๅˆถ่ฃไธญๅ›ฝ?็œ‹็œ‹ไธญ็พŽ่ดธๆ˜“ๆˆ˜็š„็ป“ๆžœๅฐฑๆ˜Ž็™ฝไบ†,ไธญ็พŽไธ€ๆœŸ่ดธๆ˜“ๅๅฎšไธญ,็พŽๅ›ฝ้€ผไธญๅ›ฝไนฐ็š„ๅ…จๆ˜ฏๅ†œไธšๅ’Œ่ƒฝๆบ,่€Œไธญๅ›ฝไนฐ็พŽๅ›ฝ็š„็ฒฎ้ฃŸๅ’Œ็Ÿณๆฒน,ๅฐฑๆŒคๆމไบ†ๅ—็พŽ็š„ๅธ‚ๅœบไปฝ้ข。ๅฆ‚ไปŠ็š„็พŽๅ›ฝๅ’Œ็›Ÿๅ‹ไน‹้—ดๅ…จๆ˜ฏ็ปๆตŽ็ซžไบ‰,็พŽๅ›ฝ้ ไป€ไนˆ็ปดๆŒๅŒ็›Ÿๅ…ณ็ณป?ๅŒ็›Ÿๅ…ณ็ณป่ฆ้ ๅˆฉ็›Šไบ’่กฅๆฅ็ปด็ณป,็Žฐๅœจ็š„็พŽๅ›ฝไธŽ็›Ÿๅ‹ๆŠขไธญๅ›ฝๅธ‚ๅœบไปฝ้ข,่ฟ˜ๆ€Žไนˆ็ป“ๆˆๅŒ็›Ÿๆฅๅ…ฑๅŒๅฏนไป˜ไธญๅ›ฝ?
*ๅ…ญ、ไธญๅ›ฝ็ปๆตŽไปŽ“ๅคง”่ตฐๅ‘“ๅผบ”็š„้‡ๅ˜ๅˆฐ่ดจๅ˜*
ๆˆ‘็ ”็ฉถๅ„ๅ›ฝ็š„้ชจๅนฒๆŒ‡ๆ•ฐไผไธš,่ฏ•ๅ›พไปŽ่ฟ™ไบ›ๅคงไผไธš็š„ไธš็ปฉๅ’Œ็›ˆๅˆฉๆจกๅผไธญๆŽข็ฉถๅ„ๅ›ฝๅพฎ่ง‚็ปๆตŽ็š„ๅœฐๅŸบ。ๆˆ‘ไธ€็›ดๅฐฑๅพˆๅฅ‡ๆ€ช,ๅฎขๆœบๅธ‚ๅœบๅŸบๆœฌ่ขซๆณข้Ÿณๅ’Œ็ฉบๅฎขไธคๅฎถๅž„ๆ–ญไบ†,ไฝ†ๆ˜ฏ่ฟ™ไธคไธชไผไธš็š„ๅˆฉๆถฆ็އๅนถไธๅฅฝ。 *2019ๅนด,ๆณข้Ÿณๆฏ›ๅˆฉ็އ5.83%,ๅ‡€ๅˆฉ็އ-0.83%;็ฉบๅฎขๆฏ›ๅˆฉ็އ14.91%,ๅ‡€ ๅˆฉ็އ-1.93%;ๆตท่žบๆฐดๆณฅ็š„ๆฏ›ๅˆฉ็އ32.42%,ๅ‡€ๅˆฉ็އ21.42%;*
ๆฌง็พŽไธคๅคง้ฃžๆœบๅˆถ้€ ๅ•†็š„ๅˆฉๆถฆ็އ็ซŸ็„ถ่ฟ˜ๆฏ”ไธไธŠๆˆ‘ไปฌ็š„ๆฐดๆณฅ้พ™ๅคดไผไธš。
ๆˆ‘ไธ€็›ดๆฒกๆƒณๆ˜Ž็™ฝ่ฟ™ไปถไบ‹,ๆ˜ฏ็ŒŽ้นฐไธ€ๅฅ่ฏ็‚น้†’ไบ†ๆˆ‘。ไป–่ฏด่ฟ™ๆ˜ฏๅ› ไธบไธคไธช้ฃžๆœบๅŽ‚ๅ…ฑๅŒ็ซžไบ‰ไธญๅ›ฝ็š„่ฎขๅ•,็”Ÿไบงๅ•†ๆ˜ฏไธคๅฎถ,ๅคงไนฐๅฎถๅชๆœ‰ไธ€ไธช,ไธคๅฎถๅฝผๆญคๆ€ไปท,ๆˆ‘่ฟ™ๆ‰ๆ˜Ž็™ฝไธบไป€ไนˆ่ฅฟๆ–นๅˆถ้€ ้ฃžๆœบ็š„ๅˆฉๆถฆ็އ่ฟ˜ๆฏ”ไธไธŠๆˆ‘ไปฌ็š„ๆฐดๆณฅๅˆฉๆถฆ็އ。ๅฆ‚ๆžœๆฌง็พŽ่ƒฝๅŒ็›Ÿ,ไธบไป€ไนˆไธ่”ๆ‰‹ๆŠฌ้ซ˜้ฃžๆœบๅ”ฎไปท,่ฎฉไธญๅ›ฝไธบไป–ไปฌ็š„ๅž„ๆ–ญๅˆฉๆถฆไนฐๅ•ๅ‘ข?ๅ› ไธบไป–ไปฌๅšไธๅˆฐ。
่ฟ™ไธชๆ•…ไบ‹ๆ˜ฏไธๆ˜ฏๅ†ๆฌก่ฏๆ˜Žไบ†ไธญๅ›ฝๅคงๅธ‚ๅœบ็š„ๅทจๅคงๅจๅŠ›?ไนŸๅฐฑๆ˜ฏ็ŒŽ้นฐไธŠๆฌก่ฎฒ็š„้‡ๅ˜ๅˆฐ่ดจๅ˜。ไธญๅ›ฝ็ปๆตŽๅทจๅคง็š„ไฝ“้‡่ถณไปฅๆ”ฏๆŒๆˆ‘ไปฌไปŽ“ๅคง”่ตฐๅ‘“ๅผบ”,ๅฏนๆญค,ๆˆ‘ไปฌๅบ”่ฏฅๆœ‰่ถณๅคŸ็š„ไฟกๅฟƒ。
*ไธƒ、“ไบ”็œผ่”็›Ÿ”็ฎก็”จๅ—*
็Žฐๅœจๆฅ่ฏด่ฏดๅคงๅฎถๆดฅๆดฅไน้“็š„“ไบ”็œผ่”็›Ÿ”。2018~2019,ๆพณๅคงๅˆฉไบšๅ‡บๅฃๆ€ป้ข็š„36%้ƒฝๅˆฐไบ†ไธญๅ›ฝ;ๅชๆœ‰3.9%ๅˆฐไบ†็พŽๅ›ฝ;ๆพณๆดฒๅ‡บๅฃๅ•†ๅ“็š„64%ๆฅ่‡ช็Ÿฟไธš,่€Œไธญๅ›ฝ่ฟ›ๅฃ็š„้“็Ÿฟ็Ÿณ62%ๆฅ่‡ชๆพณๆดฒ。2018~2019,ๆพณๆดฒ่ดธๆ˜“้กบๅทฎ532.48ไบฟๆพณๅธ;ๅ…ถไธญๅฏนไธญๅ›ฝ้กบๅทฎ564.1ไบฟๆพณๅธ,ๅฏน็พŽๅ›ฝ้€†ๅทฎ192.64ไบฟๆพณๅธ;ๅฏไปฅ่ฏดๆพณๆดฒ็š„ๅ…จ้ƒจ่ดธๆ˜“้กบๅทฎ้ƒฝๆ˜ฏๅฏนไธญๅ›ฝ,่€Œๆพณๆดฒๆ˜ฏ็พŽๅ›ฝไป…ๆœ‰็š„ๅฏนๅค–่ดธๆ˜“้กบๅทฎๅ›ฝไน‹ไธ€。ๅฆ‚ๆญค็š„ไธญๆพณ、็พŽๆพณ็ปๆตŽไพๅญ˜ๅ…ณ็ณป,ๆพณๆดฒๆ€Žไนˆๅฏ่ƒฝ่ทŸ็€็พŽๅ›ฝ่ท‘?ๆพณๆดฒๅ’Œ็พŽๅ›ฝๅ›ข็ป“่ตทๆฅ่ทŸไธญๅ›ฝๅฏน็€ๅนฒ,ๆพณๆดฒไบบๆฐ‘ไธ่ฆๅƒ้ฅญไบ†ๅ—?ๅฐฑ่ฟžๆœ€็ˆฑ่ฏŸ็—…ๆ‰€่ฐ“ไธญๅ›ฝ“ไบบๆƒ้—ฎ้ข˜”็š„ๆพณๆดฒๅทฆๆดพ็ฒพ่‹ฑ้ƒฝ้ช‚ๆพณๆดฒๆ”ฟๅบœๆ„š่ ขไน‹ๆž。่ฟ™ไธ,ๆœ€็ปˆๆพณๆดฒไนŸๆฒกๆœ‰่ทŸ็€็พŽๅ›ฝๅˆถ่ฃ้ฆ™ๆธฏ。
ๅ†ๆฅ่ฏด่ฏดๆ–ฐ่ฅฟๅ…ฐ。ๆ–ฐ่ฅฟๅ…ฐๆ•ดไธชๅ›ฝๅฎถ็š„ๆ”ฏๆŸฑไบงไธšๅฐฑไธคไธช:ไธ€ๆ˜ฏ็•œ็‰งไธšๅ’Œไนณๅˆถๅ“ไธš,ไบŒๆ˜ฏไผๆœจไธš。ๆพณๆดฒๅ’Œๆ–ฐ่ฅฟๅ…ฐๅ‡ ไนŽๅƒไธ€ไธชๅ›ฝๅฎถไธ€ๆ ทๆœ‰็€ๅฏ†ๅˆ‡็š„ๅ•†ๅ“、้‡‘่žๅ’Œไบบๅ‘˜ๆตๅŠจ,ไฝ†ๆ˜ฏ,ไธญๅ›ฝๆ˜ฏๆŽ’ๅœจๆพณๆดฒไน‹ๅ‰็š„ๆ–ฐ่ฅฟๅ…ฐ็ฌฌไธ€ๅคงๅ‡บๅฃ็›ฎ็š„ๅœฐ,ๅฏนไธญๅ›ฝ็š„ๅ‡บๅฃๅ ๆ–ฐ่ฅฟๅ…ฐๆ€ปๅ‡บๅฃ็š„26.3%,่€Œๅ‡บๅฃๅˆฐๆพณๆดฒๆ‰ๅ 15%,ๅ‡บๅฃๅˆฐ็พŽๅ›ฝไป…ๅ 9.5%,ๆ–ฐ่ฅฟๅ…ฐๅฅถ็ฒ‰37%ๅ‡บๅฃๅˆฐไธญๅ›ฝ。่ฎฉๆ–ฐ่ฅฟๅ…ฐ่ทŸ็€่‹ฑ็พŽ่ท‘,ๆ”พๅผƒไธญๅ›ฝๅธ‚ๅœบ,่ฟ™ๆ˜ฏไธ€ไธชไธๅญ˜ๅœจ็š„้€‰้กน,ๅ› ไธบๆ–ฐ่ฅฟๅ…ฐๆ นๆœฌๆ‰พไธๅˆฐๅฆไธ€ไธชๅŒ็ญ‰ไฝ“้‡็š„็ปๆตŽไฝ“ๆฅๆŽฅ่ฟ™ไธช็›˜。่ทŸ็€่‹ฑ็พŽ่ท‘,ๆ–ฐ่ฅฟๅ…ฐๅ–่ฅฟๅŒ—้ฃŽๅ—?
่ฟ˜ๆœ‰่‹ฑๅ›ฝ,ๆˆ‘ไธŠไธ€่ฎฒๅˆš้ช‚ๅฎŒ่‹ฑๅ›ฝ่ทŸไธญๅ›ฝๅฏน็€ๅนฒๆ˜ฏ่„‘ๅญ่ขซ้ฉด่ธขไบ†,ๆœ€ๆ–ฐๆถˆๆฏ,่‹ฑๅ›ฝๅทฒ็ปๆœ‰ๅฎ˜ๅ‘˜่ฏดไบ†,ๅฆ‚ๆžœ็‰นๆœ—ๆ™ฎ่พ“ๆމๅคง้€‰,่‹ฑๅ›ฝๅฐ†้‡ๆ–ฐ่€ƒ่™‘ๅ…ณไบŽๅŽไธบ็š„ๅ†ณๅฎš。่ฟ™ๅ“ช้‡Œๆ˜ฏไป€ไนˆๅšๅฎš็š„็›Ÿๅ‹ๅ•Š?้ƒฝๆ˜ฏๅข™ๅคด่‰。ๅฎƒ็Žฐๅœจ่ฟซไบŽ็พŽๅ›ฝ็š„ๅŽ‹ๅŠ›,่™šๆ™ƒไธ€ๆžช,ๅบ”ไป˜ไธ€ไธ‹็พŽๅ›ฝ,ไนŸๆ˜ฏๆœ‰ๅฏ่ƒฝ็š„。ๅๆญฃ่ฟ˜ๆœ‰ๅ‡ ๅนด็š„็ผ“ๅ†ฒๆœŸๅ˜›,่ฟ™ๆœŸ้—ดไป€ไนˆไบ‹้ƒฝๆœ‰ๅฏ่ƒฝๅ‘็”Ÿ。
ๅŠ ๆ‹ฟๅคง็›ฎๅ‰็ปๆตŽไธŠ่ฟ‡้‡็š„ไพ่ต–็พŽๅ›ฝ,ๆ‰€ไปฅๅช่ƒฝ่ทŸ็€็พŽๅ›ฝ่ตฐ,ไฝ†ๆ˜ฏ,ๅฆ‚ๆžœ็พŽๅ…ƒๅดฉ็›˜ไบ†,็พŽๅ›ฝ็ปๆตŽๅžฎไบ†,ๅŠ ๆ‹ฟๅคง่ฟ˜ไผš่ทŸ็€็พŽๅ›ฝ่ตฐๅ—?ๅฎƒๅฐ†ๆฅ้ ่ฐๅƒ้ฅญ?ไนŸๅพ—้ ไธญๅ›ฝๅ‘€!่ฟ™ๅฐฑๆ˜ฏๆ‰€่ฐ“็š„“ไบ”็œผ่”็›Ÿ”,ๆœ‰ไป€ไนˆ็”จ!
ๆ‰€ไปฅ,่ฟ™ไธชๆ‰€่ฐ“็š„“ไบ”็œผ่”็›Ÿ”ๅฐฑๆ˜ฏไธ€ไธช่ฟ‡ไบ†ๆฐ”็š„ๆพๆ•ฃๅ…ณ็ณป,ๆ นๆœฌ็ปไธไฝ่€ƒ้ชŒ。ๅฏ่ƒฝๆ›ดๅคš็š„ๆ˜ฏๅ†›ไบ‹ๅ’Œๆƒ…ๆŠฅๆ–น้ข็š„ๅˆไฝœ,ไฝ†ๆ˜ฏ,ๅฝ“็ปๆตŽๅˆไฝœไบ’ๅˆฉ็š„ๅŸบ็ก€ไธๅœจไบ†,็”š่‡ณๅฝผๆญคๅ˜ๆˆไบ†็ซžไบ‰ๅ…ณ็ณป,ๅ…ถๅ†›ไบ‹、ๆƒ…ๆŠฅ、ๆ”ฟๆฒปไธŠ็š„่”็ณปไนŸไผš่ถŠๆฅ่ถŠๅผฑ,ๅ› ไธบๅœฐ็ผ˜ๆ”ฟๆฒป็š„ๅŸบ็ก€ๆ˜ฏๅœฐ็ผ˜็ปๆตŽ。ๅœจๅ›ฝ้™…ๅ…ณ็ณปไธญ,็ปๆตŽๅ…ณ็ณปๆ˜ฏๅŸบ็ก€,ๅœฐ็ผ˜็ปๆตŽๅพ€ๅพ€ๅ†ณๅฎšๅœฐ็ผ˜ๆ”ฟๆฒป。
ๅฎž้™…ไธŠ,“ไบ”็œผ่”็›Ÿ”่ฟ™ๅ‡ ไธชๅ›ฝๅฎถ,ๅนถไธๆ˜ฏ้ ไป€ไนˆๆ„่ฏ†ๅฝขๆ€่ฟžๅœจไธ€่ตท,ๆ›ดๆฒกๆœ‰็ปๆตŽไบ’่กฅๆ€ง,ไป–ไปฌไน‹้—ดๆ›ดๅคš็š„ๆ˜ฏๅŒๆ–‡ๅŒ็ง,ไนŸๅฐฑๆ˜ฏ่ก€็ผ˜、ๆ–‡ๅŒ–ๅ’Œๅކๅฒ็š„็บฝๅธฆ。ๅฐฑๅƒๆˆ‘ไปฌไธญๅ›ฝไบบไธ็ฎก่ตฐๅˆฐๅ“ช้‡Œ、ไฝๅœจๅ“ช้‡Œ,ๅคงๅฎถ้ƒฝๆ˜ฏไธญๅ›ฝไบบไธ€ๆ ท。ไป–ไปฌๆ˜ฏๅŒไธ€็งๆ—,ไนŸๆ›พ็ปๆ˜ฏๅ“ฅไปฌๅ„ฟ,ไธ‰ไธชๅฐไธชๅคด็š„ไธๅพ—ไธ่ทŸ็€ไธคไธชๅคงๅ—ๅคด็š„ๆทท;็Žฐๅœจไธญๅ›ฝไบบไธŠๆฅไบ†,ๅ‡ ไธชๅฐ็š„ๅˆไธๅพ—ไธๅ’Œไธญๅ›ฝไบบๅšๆœ‹ๅ‹,ไฝ†ๅ› ไธบๅކๅฒ็š„ๆ—ถ้—ดๆฒ‰ๆท€่ฟ˜ไธๅคŸ,ไป–ไปฌๅฟƒ็†ไธŠ่ฟ˜ๆœ‰็‚นๆŽฅๅ—ไธไบ†。
ๅฝ“็„ถ,่ฟ™ๅชๆ˜ฏไธ€้ข,ๅ…ถๅฎžๅŒไธ€ไธช็งๆ—ไนŸๆฒกไป€ไนˆ็”จ。็พŽๅ›ฝไบบๅ’Œ่‹ฑๅ›ฝไบบๆ˜ฏๅŒไธ€็งๆ—,่ฟ˜ไธๆ˜ฏ็…งๆ ทๆ‰“ๆ‰€่ฐ“็š„“็‹ฌ็ซ‹ๆˆ˜ไบ‰”,ไธบไป€ไนˆ?ไบ‰ๅคบๅˆฉ็›Š่€Œๅทฒ。่€Œๅˆฉ็›Šไน‹ไบ‰,้ฆ–ๅ…ˆไบ‰ๅคบ็š„ๅฐฑๆ˜ฏ็ปๆตŽๅˆฉ็›Š。
*ๅ…ซ、ๆฌง็พŽๆ—ฅ็ปๆตŽๅŒ็›Ÿ่”ๆ‰‹ๅ›ดๅ ตไธญๅ›ฝ,ๅฏ่ƒฝๅ—*
ๅ†ๆฅ็œ‹็œ‹ๆ‰€่ฐ“็š„ๆฌง็พŽๆ—ฅๅŒ็›Ÿ。ๆฌง็พŽๆ—ฅ้ƒฝๆ˜ฏ้ซ˜ๆ”ถๅ…ฅๅ›ฝๅฎถ,้ƒฝไพ่ต–ไธŽไธญๅ›ฝไบงไธš้“พ็š„ๆทฑๅบฆๅˆไฝœๆ‰่ƒฝ็ปดๆŒ้ซ˜ๆ”ถๅ…ฅๆฐดๅนณ。ๅฆ‚ๆžœไป–ไปฌ่”ๆ‰‹ๅฏนๆŠ—ไธญๅ›ฝ,ๅˆฐๅ“ช้‡ŒๅŽปๆ‰พๅฆ‚ๆญค้ซ˜ๆ•ˆ็އ็š„ไบงไธš้“พ,ไปŽๅ“ช้‡Œ่ฟ˜่ƒฝๅพ—ๅˆฐ่ฟ™ไนˆ็‰ฉ็พŽไปทๅป‰็š„ๆ—ฅ็”จๅ“,ๅˆๅˆฐๅ“ช้‡ŒๅŽป้”€ๅ”ฎไป–ไปฌๅบžๅคง็š„ๆฑฝ่ฝฆไบง้‡?ๅฝ“ๅ‰,ๆฌง็พŽๆ—ฅ่ฝฆไผ้ƒฝๆƒจๆทก็ป่ฅ,ๅ› ไธบๆ–ฐๆ—ถไปฃๆ˜ฏ็”ตๅŠจ่ฝฆ็š„ๆ—ถไปฃ,่€Œๆฌง็พŽๆ—ฅๆ นๆœฌๆ— ๆณ•ๅฟซ้€ŸๆŽจๅŠจ็”ตๅŠจ่ฝฆๅฎž็Žฐ้‡ไบง。
็‰นๆ–ฏๆ‹‰ๅœจไธญๅ›ฝๆŠ•่ต„ๅปบๅŽ‚,ไธญๅ›ฝๆ”ฟๅบœ็ป™ๅŽ‚ๆˆฟ、้“ถ่กŒ็ป™้…ๅฅ—ๆตๅŠจ่ต„้‡‘,ๆŠ•่ต„ไธๅˆฐไธ€ๅนดๅฐฑ่พพไบง;ๅ› ไธบๅœจไธญๅ›ฝ่พพไบง็š„้ข„ๆœŸ,็‰นๆ–ฏๆ‹‰็š„ไผฐๅ€ผๅทฒ็ปๆถจๅˆฐไบ†้ž็†ๆ€ง็š„ไปทๆ ผ。็Žฐๅœจ,ๆฌงๆดฒ็š„่ฝฆไผไนŸ็†ฌไธไฝไบ†,็บท็บท่ท‘ๅˆฐไธญๅ›ฝๆฅๅปบๅŽ‚。ไบงไธš้“พๆตๅ…ฅไธญๅ›ฝ,ๅฐฑๅœจไธญๅ›ฝๆ‰Žๆ นไบ†,ๆœชๆฅไธญๅ›ฝไธ€ๅฎšไผšๅ ้ข†็”ตๅŠจ่ฝฆ็š„ๅ…จไบงไธš้“พ。
ไฝ†ๆ˜ฏ,ๆฌงๆดฒ่ฝฆไผๆ˜Ž็Ÿฅๅœจไธญๅ›ฝๅปบๅŽ‚ๆ˜ฏๆฏ’้…’、ๆฏ’่ฏ,ไนŸๅพ—ๅ–ไธ‹ๅŽป,ๅ› ไธบ่ต„ๆœฌไธไป…่ฟฝๆฑ‚ๅˆฉๆถฆๆœ€ๅคงๅŒ–,่ฟ˜ๅพ—่ฎฉ่‡ชๅทฑๅ…ˆๆดปไธ‹ๆฅ。็Žฐๅœจๅ…จ็ƒๆฑฝ่ฝฆ้œ€ๆฑ‚่ทณๆฐด,ๅชๆœ‰ไธญๅ›ฝๅธ‚ๅœบ่ฟ˜ไฟๆŒๅนณ็จณๅขž้•ฟ,ๆฌง็พŽๆ›ฐ่ฝฆไผๅฟ…้กปๆŠ“ไฝ่ฟ™ๆ นๆ•‘ๅ‘ฝ็จป่‰,ๅ“ชไธชไผไธšๅฎถไผšๅ’Œไฝ ่ฎจ่ฎบๆ„่ฏ†ๅฝขๆ€ๆ˜ฏไธๆ˜ฏ็›ธๅŒ、่ฐ่ทŸ่ฐๆ˜ฏ็›Ÿๅ‹ๅ•Š!ๆ‰€ไปฅ,็พŽๅ›ฝไธปๅฏผ็š„“ๅ„็ง็›Ÿ”้ƒฝๆ˜ฏๅก‘ๆ–™่Šฑ็š„ๅ‹่ฐŠ,ไธ็”จๅคชๅฝ“็œŸ,ไป–ไปฌๆ นๆœฌๅฐฑๆ— ๆณ•ๅฝขๆˆ็œŸๆญฃ็š„ๅˆๅŠ›ๆฅๆœ‰ๆ•ˆ้ๅˆถไธญๅ›ฝ。
*ไน、ๅ†่ฏดไธ€้,ไบงไธš็ฉบๅฟƒๅŒ–ๆ˜ฏ้ธฆ็‰‡*
็พŽๅ›ฝ็š„ๆ นๆœฌ้—ฎ้ข˜ๅฐฑๆ˜ฏไบงไธš็ฉบๅฟƒๅŒ–。้‚ฃไนˆ,“่ฎฉ็พŽๅ›ฝๅ†ๆฌกไผŸๅคง”ๅฐฑ่ฆ้‡ๅปบๅทฅไธšไฝ“็ณป,่ฎฉๅทฅไธšไบงไธš้“พๅ›žๅˆฐ็พŽๅ›ฝ,็พŽๅ›ฝ่ƒฝๅšๅˆฐๅ—?ๅฝ“ๅนดไน”ๅธƒๆ–ฏๅฐฑๆ˜Ž็กฎๅœฐๅฏนๅฅฅๅทด้ฉฌ่ฏด:ๆ€ป็ปŸๅ…ˆ็”Ÿ,ๅทฒ็ปๆตๅ‡บๅŽป็š„ไบงไธš้“พๆฐธ่ฟœ้ƒฝๅ›žไธๆฅไบ†,ๅ› ไธบๅˆถ้€ ๅ•†ๆ˜ฏไธญๅ›ฝไผไธš,่€Œไธๆ˜ฏ็พŽๅ›ฝไผไธš;็พŽๅ›ฝไผไธšๆฒกๆœ‰ๅœจไธญๅ›ฝ่ฎพๅŽ‚,ๆˆ‘ไปฌๅชๆ˜ฏ็ป™ไธญๅ›ฝๅŽ‚ๅฎถไธ‹่ฎขๅ•。ไปŠๅคฉ,ๅบ“ๅ…‹ๅˆๅฏน็‰นๆœ—ๆ™ฎ้‡ๅคไบ†ๅŒๆ ท็š„่ฏ:ๅˆถ้€ ไธšไบงไธš้“พๆตๅ‡บๅŽปๅฐฑๆฐธ่ฟœๅ›žไธๆฅไบ†。้€ผๅˆถ้€ ไธšไบงไธš้“พๅ›žๅˆฐ็พŽๅ›ฝไธไผšๆˆๅŠŸ,ๅ› ไธบไผไธšๅ›žๅˆฐ็พŽๅ›ฝ,ๆ— ่ฎบๅฆ‚ไฝ•ไนŸ็ปดๆŒไธไบ†็Žฐๅœจ็š„็›ˆๅˆฉ่ƒฝๅŠ›,่ฟ™ๆ‰ๆ˜ฏ้—ฎ้ข˜็š„ๆ นๆœฌ。่ฟ™็ปไธๆ˜ฏๆž็‚นไป€ไนˆๅ‡็จŽ、็ป™็‚นๆฌ่ฟ่ดนๅฐฑ่ƒฝๆžๅฎš็š„。
*ๆ‰€ไปฅ,ๅœจๆˆ‘็œ‹ๆฅ,็พŽๅ›ฝ้—ฎ้ข˜ๆ— ่งฃ。ๅชๆœ‰ๅ†ๅทฅไธšๅŒ–ๆ‰่ƒฝ่งฃๅ†ณ้—ฎ้ข˜,่€Œๆญฃๅธธ็Žฏๅขƒไธ‹,็พŽๅ›ฝๅ†ๅทฅไธšๅŒ–ๆ นๆœฌๆฒกๆœ‰ๅฏ่ƒฝ。็พŽๅ›ฝไธ่ƒฝๅ†ๅทฅไธšๅŒ–,ๅด่ฟ˜่ฆ็ปดๆŒ้ซ˜ๅ€Ÿๅ€บ、้ซ˜ๆถˆ่ดน็š„ๅฅขไพˆ็”Ÿๆดป,ๅ› ๆญค,่ฟ™ไธชๅ›ฝๅฎถ้™คไบ†่ตฐๅ‘่กฐ่ฝ、่ตฐๅ‘ๅดฉ็›˜,ๆฒกๆœ‰็ฌฌไบŒ็ง็ป“ๅฑ€。*
*ๅ、็ปๆตŽๅ…จ็ƒๅŒ–็š„ๆœฌ่ดจๅฐฑๅ…ซไธชๅญ—*
ๆˆ‘ๅ–œๆฌขๆŠŠ ็ปๆตŽ้—ฎ้ข˜ๆ•ฐๅญฆๅŒ–。ๆˆ‘ๆ€ปๆ˜ฏ่ฏด่ฟ™ๅฅ่ฏ:ๆ‰€ๆœ‰็š„็ปๆตŽๆดปๅŠจ้ƒฝๆ˜ฏ้’ฑ็š„ๆตๅŠจ;ๆฒกๆœ‰ไผš่ฎกๆŠฅ่กจไธ่ƒฝๅๆ˜ ็š„็ปๆตŽ็ป“ๆžœ;ไผš่ฎกๆŠฅ่กจๅฐฑๆ˜ฏๆ•ฐๅญฆๅˆๅนถๅŒ็ฑป้กนไน‹ๅŽ้ซ˜ๅบฆๆŠฝ่ฑก็š„็ปๆตŽๆดปๅŠจ。GDPๅๆ˜ ไธ€ไธชๅ›ฝๅฎถ็š„ๅฎžๅŠ›,ๆŠŠGDP็š„ๆ‰€ๆœ‰่ฆ็ด ้ซ˜ๅบฆๅˆๅนถๅŒ็ฑป้กน,ๅฐฑๅ˜ๆˆไธ‹้ข่ฟ™ไธช็ญ‰ๅผ:
ๅ‚จ่“„—ๆŠ•่ต„=ๅ‡บๅฃ—่ฟ›ๅฃ
GDPๅ…ฌๅผ็š„ๆ•ฐๅญฆๆŽจๅฏผ่ฟ‡็จ‹ๅฆ‚ไธ‹:
GDP=ๆ€ปๆถˆ่ดน+ๆ€ปๆŠ•่ต„+ๆ”ฟๅบœ่ดญไนฐ+ๅ‡€ๅ‡บๅฃ
>>>ๆ€ปๆ”ถๅ…ฅ (GDP) -ๆ€ปๆถˆ่ดน-ๆ”ฟๅบœ่ดญไนฐ-ๆ€ปๆŠ•่ต„=ๅ‡บๅฃ-่ฟ›ๅฃ   
>>>ๆ€ปๆ”ถๅ…ฅ (GDP) -ๆ€ปๆถˆ่ดน-ๆ”ฟๅบœ่ดญไนฐ=ๅ‚จ่“„
>>>ๅ‚จ่“„-ๆŠ•่ต„=ๅ‡บๅฃ-่ฟ›ๅฃ
่Œƒๅ‹‡้นๆ•™ๆŽˆ่ฏด:“ๅ›ฝๅฎถ้—ด็š„็ซžไบ‰ๆ˜ฏ็”Ÿๅญ˜็ซžไบ‰”。่ฟ™ไธช็”Ÿๅญ˜็ซžไบ‰ๅฐฑไฝ“็Žฐๅœจ่ฟ™ๅ…ซไธชๅญ—ไธŠ。ๆ‹ฟ่ฟ™ๅ…ซไธชๅญ—ๅŽปๅฅ—ๅކๅฒไธŠไปปไฝ•ๆ—ถๆœŸ็š„็ปๆตŽๅ…ด่กฐ,้ƒฝ่ƒฝๅฅ—็š„่ฟ›ๅŽป,่ฟ™ๅฐฑๆ˜ฏ็ปๆตŽๆ•ฐๅญฆๅ’Œ้‡‘่žๆ•ฐๅญฆ็š„ๅจๅŠ›。
่ฏดๅˆฐ่ฟ™,ๆ‹ไธชๅผฏๅ„ฟ,่ฎฒไธชๅฐๆ•…ไบ‹。้ฃŽ้“ƒ็œ‹ๅˆฐๆˆ‘็š„่ง†้ข‘,ไธ€ไธ‹ๅญๅฐฑๆ‹ฅๆŠฑๆˆ‘็š„ๆ€ๆƒณ。ๆˆ‘ไปฌๆœ‰ๅพˆๅคšไบคๆต,่ฟ™ๆ˜ฏไธคไธช่ชๆ˜Žๅคง่„‘็š„็ตๆ„Ÿ็ขฐๆ’ž。ไฝ ไปฌๅฏไปฅ็œ‹ๅˆฐๆˆ‘็š„ๅ†™ไฝœๆฐดๅนณๅ’Œๆผ”่ฎฒๆฐดๅนณ้ƒฝๅœจๅฟซ้€Ÿๆ้ซ˜,ๅ› ไธบ็Žฐๅœจไธๆ˜ฏๆˆ‘ไธ€ไธชไบบๅœจๅˆ›ไฝœ,่€Œๆ˜ฏไธคไธชๅคง่„‘ๆ’žๅ‡บ็š„ๆ€ๆƒณ็ซ่Šฑ。้ฃŽ้“ƒๅฏน่ฅฟๆ–นๅ“ฒๅญฆๅ’Œไธญๅ›ฝๅ“ฒๅญฆ้ƒฝๆœ‰ๅพˆๆทฑ็š„็ ”็ฉถ,ๅฏนๅ…šๅฒ、ๅ†›ๅฒๆ›ดๆ˜ฏๅฆ‚ๆ•ฐๅฎถ็。้ฃŽ้“ƒๆœ€ๅคง็š„ไผ˜็‚นๆ˜ฏ่ฎฐๅฟ†ๅŠ›็›ธๅฝ“ๅฅฝ,่€Œ่ฟ™ๆญฃๆ˜ฏๆˆ‘็š„ๅผฑ็‚น。ๆˆ‘่ฎฐๅฟ†ไธๅฅฝ,ๅพˆ้šพๅคๅˆถๅˆซไบบ็š„่ฏ,ๆˆ‘่ฏปไนฆๅญฆไน ,็†่งฃไน‹ๅŽ้ƒฝๅ˜ๆˆ่‡ชๅทฑ็š„่ฏญ่จ€。ๆฏ”ๅฆ‚《ๆ˜“็ป》ๅ…ซๅ…ซๅ…ญๅๅ››ๅฆ,ๅˆฐไบ†ๆˆ‘็š„่„‘ๅญ้‡Œๅฐฑๅ˜ๆˆไธ‰ไธชๅญ—:ๆญฃ、ๆ—ถ、ๅบฆ;ๅ…จ็ƒ็ปๆตŽๅ’Œ้‡‘่žๆดปๅŠจ้”™็ปผๅคๆ‚,ๅˆฐไบ†ๆˆ‘็š„่„‘ๅญ้‡Œๅฐฑๅ˜ๆˆไธคไธชๅ…ฌๅผ、ๅ››ไธชๆŠฅ่กจ。่ฟ™ไนˆๅคšๅคงV็š„ๆ–‡็ซ ๅˆ†ๆžไธญ็พŽๅšๅผˆ,ๅฆ‚ๆžœๆ‹ฟ่ฟ™ไธคไธชๅ…ฌๅผ、ๅ››ไธชๆŠฅ่กจๅ„ฟไธ€ๅฅ—,ๅพˆๅคš่ฏ้ƒฝๆฒกไป€ไนˆ็”จ,่ฏดไบ†ๅŠๅคฉ้ƒฝๆ˜ฏๅœจ็Žฐ่ฑกไธญๅ…œๅœˆๅญ,ๆ— ๆณ•็ฉฟ้€ๆœฌ่ดจ。
ๆฏๅคฉๅ’Œ้ฃŽ้“ƒไธ€่ตทๅทฅไฝœ,ๆˆ‘ๅ’Œ้ฃŽ้“ƒไน‹้—ดๆœ‰ๅพˆๅคš้ป˜ๅฅ‘ๅ’Œๅ…ฑ้ธฃ。ไฝ†ๆ˜ฏ,ๅฝ“ๆˆ‘ๆ‹ฟ“ๅ‚จ่“„—ๆŠ•่ต„=ๅ‡บๅฃ—่ฟ›ๅฃ”่ฟ™ไธชๅ…ฌๅผๅŽปๅฅ—ๆ–ฐไธญๅ›ฝๅ‰30ๅนด็š„็ปๆตŽๆˆๆžœๆ—ถ,้ฃŽ้“ƒๅฐฑไธๆŽฅๅ—ไบ†。ๆˆ‘ไฟฉไบ‰่ฎบไบ†ๅ‡ ไธชๅฐๆ—ถ,ๅˆฐ็Žฐๅœจๆˆ‘้ƒฝๆฒก่ƒฝ่ฏดๆœไป–。้ฃŽ้“ƒ่ฏดไฝ ไธ่ƒฝ็”จ่ฟ™ไธช็ฎ€ๅ•็š„ๅ…ฌๅผๅŽป็œ‹ๆ–ฐไธญๅ›ฝๅ‰30ๅนด็š„็ปๆตŽๅปบ่ฎพๆˆๆžœ,ๅ› ไธบๅ‰30ๅนดๆ˜ฏๅ›ฝๅฎถไธบๅทฅไธšๅŒ–ๆ‰“ๅœฐๅŸบ,ๅ„็ง็”Ÿไบง่ฆ็ด ๆฑ‡่š่ตทๆฅไบง็”Ÿ็š„ๅŒ–ๅญฆๅๅบ”ๆ‰€ๅธฆๆฅ็š„็”ŸไบงๅŠจ่ƒฝๆ”พๅคงไบ†ๅ›ฝๅฎถ็š„ๆ•ดไฝ“็ปๆตŽๅŠ›้‡,ๅ› ๆญค่ฟ™ไธช่ฟ‡็จ‹ไธๆ˜ฏ็ฎ€ๅ•็š„2+2=4,่€Œๆ˜ฏ2+2>4。
ๆˆ‘ไธๅฆ่ฎคๆ–ฐไธญๅ›ฝๅ‰30ๅนดๆ˜ฏ็ป™ๅŸบ็ก€ๅทฅไธšๆ‰“ๅœฐๅŸบ,ๅฐฑๅƒๆˆ‘ไปฌๅˆ›ไธšๆฟ็š„ๅพˆๅคšไผไธš,ไผไธš้€š่ฟ‡ๆ‰ฉๅคงๆŠ•่ต„ๆฅไธŠ่ง„ๆจก,ๆ‰€ไปฅไผไธš็š„่‡ช็”ฑ็Žฐ้‡‘ๆต้ƒฝๆ˜ฏ่ดŸ็š„。ๅˆ›ไธšไผไธš็š„ๆ—ฉๆœŸๆ‰ฉๅผ ๆ€งๆŠ•่ต„ๅ’Œๆ–ฐไธญๅ›ฝ็š„ๅ‰30ๅนดๆ‰“ๅœฐๅŸบๆ˜ฏๅŒไธ€ไธช้“็†。่ฟ™ไธชๅ…ฌๅผๅฐฑไฝ“็Žฐไบ†ไธ€ไธชๅ›ฝๅฎถๆœ‰ๆฒกๆœ‰่‡ช็”ฑ็Žฐ้‡‘ๆต。ๆ—ฉๆœŸๆ‰“ๅŸบ็ก€ๆฒก้—ฎ้ข˜,ไฝ†ๆ‰“ๅฎŒๅŸบ็ก€ไน‹ๅŽ,ไธ€ๅฎš่ฆ้€ๆญฅ่ฝฌๅ‘็Žฐ้‡‘ๆญฃๆตๆฐด,ไธ่ƒฝๆฐธ่ฟœๆ˜ฏ่ต„้‡‘่ดŸๆตๆฐด。ไธญๅ›ฝๅ‰30ๅนดๆ˜ฏๆ‰“ๅœฐๅŸบ,ๅŽ40ๅนดๆ˜ฏๆŠ•่ต„ๅ˜็Žฐ,ๅ› ไธบๆˆ‘ไปฌๅฎž็Žฐไบ†ๆŒ็ปญ็š„่ดธๆ˜“้กบๅทฎ,ๆ‰€ไปฅๆ‹ฅๆœ‰ไบ†ๆญฃ็Žฐ้‡‘ๆต,่€Œ็พŽๅ›ฝๅˆ™่ตฐๅ‘ไบ†ๅ้ข。
*ๅไธ€、็พŽๅ…ƒๆ˜ฏ็บธ่€่™Ž*
ไปŽ2000ๅนดๅผ€ๅง‹,็พŽๅ›ฝๅฐฑ่ตฐไธŠไบ†ๅทฅไธš็ฉบๅฟƒๅŒ–ไน‹่ทฏ,็ป“ๆžœๅฐฑๆ˜ฏ่ดขๆ”ฟ่ตคๅญ—、่ดธๆ˜“่ตคๅญ—、็ปๅธธ้กน่ตคๅญ—,่ฟ™ไธ‰ๅคง่ตคๅญ—ๆŠŠ็พŽๅ›ฝๆŽจๅ‘ไบ†ๅ€บๅŠกๆทฑๆธŠ。็œ‹็พŽๅ›ฝ็š„ๅ€บๅŠก้—ฎ้ข˜,ๅŸบๆœฌไธ็”จ็œ‹2000ๅนดไน‹ๅ‰็š„ๆ•ฐๅญ—,็พŽๅ›ฝ่ดฅๅฎถ,2000ๅนดๆ˜ฏ่ฝฌๆŠ˜็‚น。ไปŽ2000ๅนดๅผ€ๅง‹,็พŽๅ›ฝๅฐฑ้ ไธๆ–ญๅœฐ็งฏ็ดฏๅ€บๅŠก、่†จ่ƒ€ๅ€บๅŠกๆฅ็”Ÿๅญ˜。 *ไปŽ็พŽๅ…ƒๅˆฐ็พŽๅ›ฝๆ”ฟๅบœ,ๅ†ๅˆฐ็พŽๅ›ฝไผไธšๅ’Œ็พŽๅ›ฝๅฎถๅบญ,้ƒฝๆ˜ฏ้ ่ฟฝๅŠ ๅ€บๅŠกๆฅๆ”ฏๆ’‘。่ฟ™ๆ ท็š„็ปๆตŽ็ป“ๆž„,ไธ€ๆ—ฆๅ€บๅŠก้“พๆ–ญไบ†,็ปๆตŽๅฐฑๅดฉๆบƒไบ†。*
้‰ดไบŽ็พŽๅ›ฝ็ปๆตŽ็š„่ถ…ๅคงไฝ“้‡,็ปๆตŽไธ€ๆ—ฆๅดฉ็›˜,่ฟ™ไธชๅ›ฝๅฎถๅฐฑๅฎŒไบ†,่ฟ™ๆ‰ๆ˜ฏ็พŽๅ›ฝๆ‰€ๆœ‰้—ฎ้ข˜็š„็—…ๆ นๅ’Œๆ€ป็ˆ†ๅ‘็‚น。็พŽๅ›ฝๆ‰€ๆœ‰ๅ ๅŠ ่ตทๆฅ็š„็Ÿ›็›พ:่ดซๅฏŒไธคๆžๅˆ†ๅŒ–、็งๆ—ๅ†ฒ็ช、่”้‚ฆๆ”ฟๅบœไธŽๅทžๆ”ฟๅบœไน‹้—ดไบ‰ๆƒๅคบๅˆฉ、ไธคๅ…šๆถๆ–—,ๆ‰€ๆœ‰่ฟ™ไบ›้—ฎ้ข˜้ƒฝ่ขซ็พŽๅ›ฝ็ปๆตŽ็š„่™šๅ‡็น่ฃๆŽฉ็›–็€。็Žฐๅœจ,็–ซๆƒ…ๆŠŠ่ฟ™ไธ€ๅˆ‡้ƒฝๅ‡ธๆ˜พๅ‡บๆฅ,ๅœจ็–ซๆƒ…็š„้‡ๅŽ‹ไธ‹,็พŽๅ›ฝ็ปๆตŽๅทฒ็ปๆ‘‡ๆ‘‡ๆฌฒๅ ;ไธ€ๆ—ฆ็ปๆตŽๅดฉๆบƒไบ†,ๆ‰€ๆœ‰่ฟ™ไบ›้—ฎ้ข˜ๅฐ†ไธ€่ตทๆ€ป็ˆ†ๅ‘,ๅˆฐๆ—ถ,็พŽๅ›ฝ็คพไผšๅฐ†ๅฝปๅบ•ๅคฑๆŽง。็Žฐๅœจๆ‰€ๆœ‰็š„่ฟน่ฑก้ƒฝๅทฒ่กจๆ˜Ž,็พŽๅ…ƒๅดฉ็›˜็š„ๆ—ฅๅญไธบๆœŸไธ่ฟœไบ†。
ไธ€ๆ—ฆ็œ‹ๆธ…ไบ†็พŽๅ›ฝ็ปๆตŽ็š„ๆœฌ่ดจ,ๅฎƒ็š„ๆ‰€่ฐ“ๅ†›ไบ‹ๅฎžๅŠ›,่ฟ˜ๆœ‰ๅ„็งๅฎžๅŠ›,้ƒฝๆ˜ฏ็ฉบไธญๆฅผ้˜。ๆˆ‘ไปฌ่ฟ™่พนๅพˆๅคšๅคงVๆ•ดๅคฉไธ€ๆƒŠไธ€ไน,ๅŠจไธๅŠจๅฐฑๆ˜ฏ:็พŽๅ›ฝๅˆ่ฆๆฅๆŒ‰ไฝไธญๅ›ฝ็š„ๆญป็ฉดไบ†!ไธญๅ›ฝๆœ‰ไป€ไนˆๆญป็ฉด่ฎฉ็พŽๅ›ฝๆŒ‰?ๆ‰“่ดธๆ˜“ๆˆ˜,็พŽๅ›ฝ่ตขไบ†ๅ—?ไน‹ๅŽๅœจ้ฆ™ๆธฏๆž้ขœ่‰ฒ้ฉๅ‘ฝ,็พŽๅ›ฝ่ตขไบ†ๅ—?็Žฐๅœจ่ฆๅˆถ่ฃ้ฆ™ๆธฏ,ๅฎƒๆ•ขๅˆถ่ฃไป€ไนˆ?
่ฟ˜ๆœ‰ไบบ่ฏด็พŽๅ›ฝ่ฆๆސๆމไธญๅ›ฝ็š„SWIFT,้‚ฃไธญๅ›ฝ็ปๆตŽๅฐ†้ญๅ—่‡ดๅ‘ฝๆ‰“ๅ‡ป。ไป–ไปฌๅฐฑไธๆ˜Ž็™ฝ,็พŽๅ›ฝๆސๆމไธญๅ›ฝ็š„SWIFT็ฎก้“,็พŽๅ…ƒ็ซ‹้ฉฌๅฐฑๅ€’,ๅ› ไธบ็Žฐๅœจ็š„็พŽๅ…ƒๆœฌ่ดจไธŠๆ˜ฏไบบๆฐ‘ๅธ็พŽๅ…ƒ,่€Œๆ นๆœฌไธๆ˜ฏไป€ไนˆ็Ÿณๆฒน็พŽๅ…ƒ;ๆ˜ฏไธญๅ›ฝ็ปๆตŽๅขž้•ฟ็š„ๅทจๅคง้œ€ๆฑ‚,ๅธฆๅŠจๅ…จ็ƒ็ปๆตŽๆˆ้•ฟๆ‰€ๅˆ›้€ ็š„ๅ…จ็ƒๅค–ๆฑ‡ๅ‚จๅค‡ๆ”ฏๆ’‘ไบ†็พŽๅ…ƒ็Žฐๅœจ็š„ๅœฐไฝ。่ฐๆ›ด็ฆปไธๅผ€่ฐๅ‘€?ๅฝ“็„ถๆ˜ฏ็พŽๅ›ฝ็ปๆตŽๆ›ด็ฆปไธๅผ€ไธญๅ›ฝ็ปๆตŽ,็พŽๅ…ƒๆ›ด็ฆปไธๅผ€ไบบๆฐ‘ๅธๅ•Š! *็ŒŽ้ทน่ฏด:“่ดงๅธ่ดงๅธ,่ดงๅœจไธญ,ๅธๅœจ็พŽ,็ฆปๅผ€ไบ†่ดง,ๅธๅฐฑไธ€ๆ–‡ไธๅ€ผ。”* ่ฟ™ๆ‰ๆ˜ฏ็œŸๅฎž็š„ไธญ็พŽ็ปๆตŽๅ…ณ็ณป็š„ๆœฌ่ดจ。
ไธŠ้ข็š„่ฎบ่ฐƒๆ˜ฏ่ฏด็พŽๅ›ฝไธ่ฎฉไธญๅ›ฝ็”จ็พŽๅ…ƒไบ†,ไธญๅ›ฝๅฐฑๆฒกๆณ•ๅŽป้‡‡่ดญไบ†,ๅœจๅ…จไธ–็•Œๅฐฑๆฒกๆณ•ๅš็”Ÿๆ„ไบ†。ๆœ‰่ฟ™็งไบ‹ๅ—?ไปŠๅคฉ็š„ไธญๅ›ฝๆ˜ฏไธ–็•ŒๅทฅๅŽ‚,ไธญๅ›ฝๅˆถ้€ ๆ‰“้ๅ…จ็ƒๆ— ๆ•Œๆ‰‹,็พŽๅ›ฝไธ่ฎฉไธญๅ›ฝ็”จ็พŽๅ…ƒ,้‚ฃไบ›้œ€่ฆไธญๅ›ฝไบงๅ“็š„ๅ›ฝๅฎถๅฐฑ่ทŸไธญๅ›ฝไธๅš็”Ÿๆ„ไบ†,ๅฐฑไธ้œ€่ฆไธญๅ›ฝไบงๅ“ไบ†ๅ—?ๅผ€ไป€ไนˆ็Žฉ็ฌ‘!่ฟ™ไบ›ๅ›ฝๅฎถ่ทŸไธญๅ›ฝ็š„็”Ÿๆ„ไผš็…งๅš,ๅชไธ่ฟ‡่ฟ™ไธ€ๅ›ž,ๆˆ‘ไปฌ่ฆ็”จไบบๆฐ‘ๅธๆฅ็ป“็ฎ—ไบ†。ไฝ ็พŽๅ›ฝไธ่ฎฉๆˆ‘ไธญๅ›ฝ็”จ็พŽๅ…ƒ,ๅคชๅฅฝไบ†!่ฟ™ๆ˜ฏไฝ ้€ผ็€ๆˆ‘่ตฐๅ‘็ฆปๅฒธไบบๆฐ‘ๅธ็‹ฌ็ซ‹็ป่ฅ,่ตฐๅ‘ไธ–็•Œๅ…ƒๅ•Š!่ฐข่ฐข็พŽๅ›ฝ!
็Žฐๅœจ็š„็พŽๅ›ฝ,่ฆ่ƒก่ๅœๆฒก่ƒก่ๅœ,่ฆๅคงๆฃ’,ๆฏไธชๅคงๆฃ’้ƒฝๆ‰“ๅœจ่‡ชๅทฑๅคดไธŠ。ไธญๅคฎๅฐฑๅ–œๆฌข็พŽๅ›ฝๆ‰“ๅŽ‹,็พŽๅ›ฝไธๆ‰“ๅŽ‹,ๆˆ‘ไปฌๅๅˆถ็พŽๅ›ฝ,ไธ€ๅคงๅ †็š„ไบบ่ฏๅฏๅคšไบ†,ไป€ไนˆไธญๅ›ฝไธŽไธ–็•ŒๆŽฅ่ฝจไธๅคŸๅ•ฆ,ๅผ€ๆ”พไธๅˆฐไฝๅ•ฆ,็ญ‰็ญ‰。็Žฐๅœจไฝ ๆ‰“ๅŽ‹ๆˆ‘,้‚ฃๆ˜ฏไฝ ้€ผๅพ—ๆˆ‘ๆฒกๆณ•่ทŸไฝ ็ปง็ปญๅˆไฝœๅ‘€。ไธญ็พŽไธๅˆไฝœไบ†,็œ‹็œ‹่ฐๆœ€็–ผ,็œ‹็œ‹่ฐๅ…ˆๅ€’ไธ‹!
*ๅไบŒ、ๅ…จไธ–็•Œ้ƒฝๅ…ปไธ่ตท็พŽๅ›ฝไบ†*
ๅ†ๆฅ่ฏด่ฏดไธŽ็พŽๅ›ฝ็š„ๅˆไฝœๅ‰ๆ™ฏ。ๅพˆๅคšไบบ่ฏดๆˆ‘ไปฌไธ่ƒฝไธ่ทŸ็พŽๅ›ฝๅˆไฝœ,ไธ่ทŸ็พŽๅ›ฝๅˆไฝœๆ˜ฏๅŒ่พ“,ๅˆไฝœๆ˜ฏๅŒ่ตข。ๅŸบ่พ›ๆ ผ่ฟ˜่ฏดไบ†:“ๅฆ‚ๆžœ็พŽๅ›ฝ่ดฅไบ†,่ฐไนŸๅˆซๆƒณๆœ‰ๅฅฝๆ—ฅๅญ่ฟ‡。”ไป–่ฟ™่ฏ่ฏด็š„ๆฒก้”™,็š„็กฎ,็พŽๅ…ƒๅ€’ไบ†,่ฐ้ƒฝๆฒกๆœ‰ๅฅฝๆ—ฅๅญ่ฟ‡。ไฝ†ๆ˜ฏ,ไธŽ็พŽๅ›ฝๅˆไฝœ็š„ไปฃไปทๆ˜ฏ่ฐไนŸๆ‰ฟๅ—ไธ่ตท็š„。
็–ซๆƒ…ไน‹ๅ‰,่ฆ็ปดๆŒ็พŽๅ…ƒไฝ“็ณป็š„็”Ÿๅญ˜,ๅ…จ็ƒไธ€ๅนด่ฆๅกซ่ฟ›ๅŽป6000ไบฟ็พŽๅ…ƒ;็Žฐๅœจ็–ซๆƒ…ๆฅไบ†,็พŽๅ›ฝไบบ่ฟžๆดปๅ„ฟ้ƒฝไธๅนฒไบ†,ๅๅƒๅฑฑ็ฉบ,้ ๆ”ฟๅบœๅ‘้’ฑ่ฟ‡ๆ›ฐๅญ;่ฟ™ๆ ท็š„่ฏ,็พŽๅ›ฝ็š„้€†ๅทฎๅฐฑไผš็ปง็ปญ่†จ่ƒ€;ไปŠๅŽๅ…จ็ƒๆฏๅนด่‡ณๅฐ‘่ฆๅกซ1ไธ‡ไบฟ็พŽๅ…ƒ,ๆ‰่ƒฝ็ปง็ปญๅ…ปๆดป็พŽๅ›ฝ่ฟ™ไธชๅฏ„็”Ÿ่™ซ。ไธๆ˜ฏๆˆ‘ไปฌไธๅ’Œ็พŽๅ›ฝๅˆไฝœ,่€Œๆ˜ฏ่ฟ™ไธชๅˆไฝœ็š„ๆˆๆœฌๅคชๅคงไบ†,่ฐไนŸ่ดŸๆ‹…ไธ่ตทไบ†,ๅฐฑ็ฎ—ๆœ‰ๅฟƒ,ไนŸๆ— ๅŠ›ไบ†。็Žฐๅœจ็พŽๅ›ฝๆฌ ๅ…จไธ–็•Œ12ไธ‡ไบฟ็พŽๅ…ƒ,ไผฐ่ฎกไปŠๅนดๆŠฅ่กจไธ‹ๆฅ,ๅพ—ๅฅ”็€13ไธ‡ไบฟ็พŽๅ…ƒๅŽปไบ†。ไธ€ๅนด1ไธ‡ๅคšไบฟ็พŽๅ…ƒๆฅๅกซ็พŽๅ›ฝ็š„ๅ€บๅŠก็ชŸ็ชฟ,ๅ…จไธ–็•Œ่ฐๆœ‰่ฟ™ไนˆๅคš็š„็ฆปๅฒธๆตๅŠจๆ€งๆฅๅ…ปๆดป็พŽๅ›ฝ?
ไธพไธชไพ‹ๅญ,็ปง็ปญไพ›ๅ…ป็พŽๅ›ฝๅƒไป€ไนˆ?ๅฐฑๅƒไธญๅ›ฝๆœ‰100ไธชไผไธš,80ไธช็›ˆๅˆฉ,20ไธชไบๆŸ;ไธบไบ†ไธ่ฎฉ่ฟ™20ไธชไบๆŸไผไธš็ ดไบง,ๆฏๅนดๅฐฑ่ฆๅกซ่ฟ›ๅŽปๅพˆๅคš้’ฑ,ๅฏผ่‡ด่ตš้’ฑ็š„80ไธชไผไธšๅ่€Œๅพ—ไธๅˆฐๆตๅŠจ่ต„้‡‘,ๆœ€ๅŽ,20ไธชไบๆŸไผไธšๆ‹–ๆญป80ไธช็›ˆๅˆฉไผไธš。่ฟ™20ไธชไบๆŸไผไธšๅฐฑๆ˜ฏ่‹ฑ็พŽไธคไธชๅฏ„็”Ÿ่™ซ;่ฟ™80ไธช็›ˆๅˆฉไผไธšๅฐฑๆ˜ฏไธ€ๅธฆไธ€่ทฏ็š„ๆŠ•่ต„้œ€ๆฑ‚。
*ๅไธ‰、็ปๆตŽ็ซžไบ‰้ฆ–ๅ…ˆๆ˜ฏๅ›ฝ้™…ๆ”ถๆ”ฏ็›ˆไฝ™่ƒฝๅŠ›็š„็ซžไบ‰*
ๆˆ‘ไธบไป€ไนˆไธ€ๅ†่ฎฒ็พŽๅ…ƒ้—ฎ้ข˜?ๆˆ‘ๅฐฑๆ˜ฏๅธŒๆœ›ๅ†ณ็ญ–ๅฑ‚่ƒฝ็œ‹ๆธ…็พŽๅ…ƒๅ…ถๅฎžๆ˜ฏไธช็บธ่€่™Ž。็พŽ่”ๅ‚จไธ่ƒฝๅฐ้’ž่ฟ˜ๅ€บ;ไธ่ƒฝๅฐ้’žไนฐไธ–็•Œ;็พŽๅ…ƒๅ’Œไบบๆฐ‘ๅธไธ€ๆ ท,ไนŸ่ฆ้€š่ฟ‡ๅ‡บๅฃๆขๆฑ‡ๆ‰่ƒฝๅ…ทๅค‡ๅ›ฝ้™…ๆ”ฏไป˜่ƒฝๅŠ›;ๆฒกๆœ‰ๅ‡บๅฃๆขๆฑ‡ๅฐฑ่ฆๅ€Ÿๅค–ๅ€บๆ‰่ƒฝๅŽป่ดญไนฐ็ฆปๅฒธ่ต„ไบงๅ’Œ็ฆปๅฒธๅ•†ๅ“;ๆฒกๆœ‰็ฆปๅฒธๆ”ถๅ…ฅๅฐฑๆฒกๅŠžๆณ•ๅš็ฆปๅฒธๆ”ฏๅ‡บ;็›ดๅˆฐๅคงๅฎถ็œ‹้€่ฟ™ไธ€็‚น,ๆ‰่ƒฝ็œŸ็š„็œ‹็ฉฟ็พŽๅ…ƒ้œธๆƒๅ’Œ็พŽๅ›ฝ้œธๆƒ็š„่™šๅผฑๆœฌ่ดจ。
็พŽๅ›ฝไธ่ƒฝๅฐ้’žไนฐไธ–็•Œ,่€Œๅฎƒ็š„ๆ‰€่ฐ“ๅ†›ไบ‹ๅจ่ƒๅชๆ˜ฏ่™šๅฃฐๆซๅ“่€Œๅทฒ,ๆ‰€ไปฅ,ๅฝ“็พŽๅ›ฝๅฏนไธญๅ›ฝ่ฟ›่กŒๅ†›ไบ‹ๅจ่ƒๆ—ถ,ๆˆ‘ไปฌๅฐฑๅ–็พŽๅ€บ,็œ‹ๅฎƒๆ€•ไธๆ€•!ไธบไป€ไนˆ็Žฐๅœจไธญๅ›ฝไธๆ•ข่ฏดๅ–็พŽๅ€บ,ๅฐฑๅ› ไธบๆˆ‘ไปฌ่ฎคไธบไธญๅ›ฝๅ–็พŽๅ€บ,็พŽ่”ๅ‚จๅฏไปฅๅฐ้’ž้กถไธŠ。ๅ›ฝ้™…ๆ”ถๆ”ฏๅนณ่กกๅŽŸ็†ๅœจ้‚ฃ้‡Œ็ฎก็€็พŽๅ…ƒ,็พŽๅ›ฝๆ นๆœฌไธๅฏ่ƒฝๅฐ้’ž้กถไธŠ。
็Žฐๅœจไบบๆฐ‘ๅธๅ›ฝ้™…ๅŒ–้‡ๅˆฐ็š„ๆœ€ๅคง็š„้—ฎ้ข˜ๆ˜ฏไป€ไนˆ?ๅฐฑๆ˜ฏๆˆ‘ไปฌ่ฟ˜ๆฒกๆœ‰ๆ‰พๅˆฐๅŽป็พŽๅ…ƒ็š„่ทฏ,่ฟ˜ๆฒกๆœ‰ๅšๅฅฝๆ–ฐ่ดงๅธไฝ“็ณป็š„้กถๅฑ‚่ฎพ่ฎก,่ฟ˜ไธ็Ÿฅ้“ๆ€Žๆ ทๆ‰่ƒฝไปŽ็พŽๅ…ƒ็š„้‡‘่žๆฐดๆฑ ๅญไธญ่ตฐๅ‡บๆฅ,่ฟ™ๆ˜ฏๆˆ‘ไปฌ้ขไธด็š„ๆœ€ๅคง็š„้—ฎ้ข˜。ไธๆ˜ฏ็พŽๅ…ƒๆœ‰ๅคšๅผบๅคง,่€Œๆ˜ฏๆˆ‘ไปฌ่ฟ˜ๆฒกๆœ‰ๆ‰พๅˆฐ่งฃๅ†ณ็พŽๅ…ƒ้œธๆƒ็š„้‚ฃๆŠŠ้’ฅๅŒ™。
่ฟ™ๅฐฑๆ˜ฏๆˆ‘ไธบไป€ไนˆไธไบซๅ—่กฃ้ฃŸๆ— ๅฟง็š„็”Ÿๆดป,ๅคฉๅคฉๅœจ่ฟ™ๅ„ฟ่ฎฒ็พŽๅ…ƒ,ๅ› ไธบๆˆ‘ไปฌ็š„้‡‘่ž็ฒพ่‹ฑไปฌ่ฟ˜ๆฒกๆœ‰็œ‹ๆธ…็พŽๅ…ƒ็š„่ฝฏ่‚‹、็พŽๅ›ฝ็š„่ฝฏ่‚‹。ๆ‰€ไปฅ,ๅคงๅฎถ่ฐˆ็พŽๅ…ƒ้œธๆƒๅ’Œ็พŽๅ›ฝๅฎžๅŠ›,ไธ€ๅฎš่ฆๅ›žๅˆฐๆˆ‘็š„ๆ•ฐๅญฆ้€ป่พ‘,ๅ›žๅˆฐ็ปๆตŽๆ•ฐๅญฆๅ’Œ้‡‘่žๆ•ฐๅญฆๆฅๆ€่€ƒ็พŽๅ…ƒ็š„ๅ›ฐๅฑ€。ๅ›ฝๅฎถ้—ด็š„็ซžไบ‰ๆ˜ฏ็”Ÿๅญ˜็ซžไบ‰,่€Œ็ปๆตŽๅฑ‚้ข็š„็”Ÿๅญ˜็ซžไบ‰้ฆ–ๅ…ˆๆ˜ฏๅ›ฝ้™…ๆ”ถๆ”ฏ็›ˆไฝ™่ƒฝๅŠ›็š„็ซžไบ‰。
*ๅๅ››、็พŽๅ›ฝ่ƒฝ็”จ้ซ˜็ง‘ๆŠ€ๅกไธญๅ›ฝ็š„่„–ๅญๅ—*
ๅ†ๆฅ่ฏด่ฏด็พŽๅ›ฝ็š„็ง‘ๆŠ€ๅฎžๅŠ›。ๆฒก้”™,็พŽๅ›ฝ็š„็ง‘ๆŠ€ๅฎžๅŠ›ๅพˆๅผบ,ไฝ†ๆ˜ฏ,็พŽๅ›ฝ็š„็ง‘ๆŠ€ๅฎžๅŠ›ๅฟ…้กปๅ˜็Žฐๆ‰่ƒฝไฝ“็Žฐๅœจไผไธš็š„ๅˆฉๆถฆไธญ。็Žฐๅœจ็พŽๅ›ฝๆ‰“ๅŽ‹ๅŽไธบๅ’Œไธญๅ›ฝๅพˆๅคšไผไธš,่ฟ™้ƒฝๆ˜ฏๅŒๅˆƒๅ‰‘。ไธ€ๆ–น้ข,่ฟ™ไผšๅˆบๆฟ€ไธญๅ›ฝ็š„็ง‘ๆŠ€ไบงไธš้“พๅŠ ้€Ÿ่‡ชไธปๅŒ–็š„่ฟ›็จ‹;ๅฆไธ€ๆ–น้ข,็”จ้ซ˜็ง‘ๆŠ€ไบงๅ“ๅฐ้”ไธญๅ›ฝ,ๆœ€ๅคง็š„ๅ—ๆŸ่€…ๆ˜ฏ็พŽๅ›ฝ่‡ชๅทฑ็š„ไธŠๅธ‚ๅ…ฌๅธ,ๅ› ไธบ่ฟ™ๅฐ†็›ดๆŽฅๆŸๅฎณ็พŽๅ›ฝไผไธš็š„็›ˆๅˆฉ่ƒฝๅŠ›,ๆ‰“ๅ‡ป็พŽ่‚กๅธ‚ๅœบ。
้ซ˜้€šไบงๅ“็š„88%้ƒฝ่ฆไพ่ต–ไบšๆดฒๅธ‚ๅœบ้œ€ๆฑ‚,ไฝ ๅŽ‹ๅˆถๅˆซไบบไฝฟ็”จไฝ ็š„็ง‘ๆŠ€ไบงๅ“,็ญ‰ไบŽๅๆ‰‹ๆ‰ผๆ€่‡ชๅทฑ็š„็ง‘ๆŠ€ๅฎžๅŠ›。ๅฏน้ซ˜็ง‘ๆŠ€ไผไธšๆฅ่ฏด,่ฟ™็ญ‰ไบŽ่‡ชๆ€。ๅก่„–ๅญๆ˜ฏ็›ธไบ’็š„,็พŽๅ›ฝไธ่ฎฉไธญๅ›ฝไฝฟ็”จ็พŽๅ›ฝ็š„้ซ˜็ง‘ๆŠ€ไบงๅ“,ๅฎƒ่‡ชๅทฑๅฐฑ่ตšไธๅˆฐ้’ฑไบ†;่ตšไธๅˆฐ้’ฑไบ†,ๅ“ชๆฅ็š„้ซ˜็ง‘ๆŠ€็ ”ๅ‘ๆŒ็ปญๆŠ•ๅ…ฅ?้“็†ๅฐฑ่ฟ™ไนˆ็ฎ€ๅ•。
็ฎ€่จ€ไน‹,ไธญๅ›ฝไธบ้ฆ–็š„ไบšๆดฒๆ˜ฏ็พŽๅ›ฝ้ซ˜็ง‘ๆŠ€ไบงๅ“ๆœ€ๅคง็š„ๅบ”็”จๅธ‚ๅœบ,ๆญฃๆ˜ฏ่ฟ™ไธชๅบžๅคง็š„ๅธ‚ๅœบไธบ็พŽๅ›ฝ้ซ˜็ง‘ๆŠ€็š„็ ”ๅ‘ๆไพ›ไบ†ๆบๆบไธ็ป็š„ๅŠจ่ƒฝ,็ฆปๅผ€ไบ†ไปฅไธญๅ›ฝไธบ้ฆ–็š„ไบšๆดฒๅคงๅธ‚ๅœบ,็พŽๅ›ฝ็š„้ซ˜็ง‘ๆŠ€ไนŸๅฐฑๅคฑๅŽปไบ†ๆŒ็ปญๅ‘ๅฑ•็š„ๅŠจๅŠ›。ๆ‰€ไปฅ,ๆˆ‘ๆ€ปๆ˜ฏ่ฏด,็Žฐๅœจ็พŽๅ›ฝไธพ่ตทๅคงๆฃ’,ๆฏๆฌก้ƒฝๆ‰“ๅœจ่‡ชๅทฑ่„ธไธŠ,ๅ› ไธบไปŽ2000ๅนดไปฅๆฅ,็พŽๅ›ฝ็ปๆตŽ็š„ๅ‘ๅฑ•ๆจกๅผๅฐฑๆ˜ฏๅฟซ้€ŸๆŽ็ฉบ่‡ชๅทฑ็š„ๆจกๅผ,ๅฐฑๆ˜ฏๅ‘ๅ€บๅŠกๅ›ฝๅฎถ้ฃžๅฅ”็š„ๆจกๅผ。
ไธŽๆญคๅŒๆ—ถ,ไธญๅ›ฝ็š„้ซ˜็ง‘ๆŠ€ๆญฃๅœจๅฟซ้€Ÿๅ‘ๅฑ•,ไธŽ็พŽๅ›ฝ็š„ๅทฎ่ทๆญฃๅœจ่ฟ…้€Ÿ็ผฉๅฐ,ๆ‰€ไปฅ,็พŽๅ›ฝ็š„ๆœ‰่ฏ†ไน‹ๅฃซ้ƒฝๆ„่ฏ†ๅˆฐ,็”จ้ซ˜็ง‘ๆŠ€ๅฐ้”ไธญๅ›ฝๆฒกๆœ‰ไปปไฝ•็”จๅค„,ๅ› ไธบไธญๅ›ฝไผš็ป•ๅผ€็พŽๅ›ฝ็š„้ซ˜็ง‘ๆŠ€,็‹ฌ็ซ‹ๅ‘ๅฑ•。ๅˆฐ้‚ฃไธชๆ—ถๅ€™,ไธญๅ›ฝๅฐ†ๅ ้ข†้ซ˜็ง‘ๆŠ€็š„ๅˆถ้ซ˜็‚น,่€Œ็พŽๅ›ฝๅดๆฐธ่ฟœๅคฑๅŽปไบ†ไธ–็•Œๅคดๅท้ซ˜็ง‘ๆŠ€ๅบ”็”จๅคงๅธ‚ๅœบ。ๅ…ณไบŽ่ฟ™ไธ€็‚น,ๅŽไธบๅทฒ็ป็ป™ๆˆ‘ไปฌๅšไบ†็ปๅ…ธๆผ”็คบ。
*ๅไบ”、็พŽๅ›ฝ่ฟ™ไธชๅ›ฝๅฎถๆœ‰ๅคงๆˆ˜็•ฅๅ—*
ๆˆ‘ไปฌๅพˆๅคš็ฒพ่‹ฑๅฏน็พŽๅ›ฝๆ‰€่ฐ“็š„Deep State,ไปฅๅŠ็พŽๅ›ฝ็š„็Šนๅคช่ดขๅ›ขๅฆ‚ไฝ•็ฅžๅฅ‡,้ƒฝๅด‡ๆ‹œ็š„ไธๅพ—ไบ†。ๆˆ‘ไธ€ไธ็‚น้ƒฝไธๅด‡ๆ‹œ!ๅฆ‚ๆžœ่ฏด็พŽๅ›ฝๆœ‰ๅคงๆˆ˜็•ฅ,ๆœ‰ไผŸๅคง็š„ๆˆ˜็•ฅๅฎถ,้‚ฃ่ฟ™ไบ›็ป้กถ่ชๆ˜Ž็š„ๅคง่„‘ๅฐฑๅบ”่ฏฅ็Ÿฅ้“ๅฆ‚ไฝ•ไฟๆŠคๅ›ฝๅฎถ็š„็ปๆตŽๅฎ‰ๅ…จๅ’Œ้‡‘่žๅฎ‰ๅ…จ,ๆ€Žไนˆๅฏ่ƒฝไปŽ2000ๅนดๅˆฐ็Žฐๅœจ,้ƒฝๆฒกไบบ่ญฆ้†’ๅทฅไธš็ฉบๅฟƒๅŒ–ๅทฒ็ปไผคๅˆฐไบ†็พŽๅ›ฝๅ›ฝๅŠ›็š„ๆ นๆœฌ?ไธบไป€ไนˆ็พŽๅ›ฝๆ”ฟๅ•†็ฒพ่‹ฑไปฌๆฒก่ƒฝๆ‰ญ่ฝฌ็พŽๅ›ฝ่‡ชๆˆ‘็ฉบๅฟƒๅŒ–ไน‹่ทฏๅ‘ข?
ไธๆ˜ฏๆฒกๆœ‰ไบบ็œ‹ๅˆฐ่ฟ™ไธช้—ฎ้ข˜,่€Œๆ˜ฏๅฎƒ่ฟ™ไธชๅˆถๅบฆ่ฎพ่ฎกๆณจๅฎšไบ†ๅฎƒๆ นๆœฌ่งฃๅ†ณไธไบ†่ฟ™ไธช้—ฎ้ข˜,ๅ› ไธบๅคงๅฎถ้ƒฝๆ˜ฏไธบ่‡ชๅทฑๅ’Œๅฐ้›†ๅ›ข่ฐ‹ๅˆฉ,ๆฒกไบบไธบๅ›ฝๅฎถ่ดŸ่ดฃ、ไธบๆฐ‘ๆ—่ดŸ่ดฃ、ไธบไบบๆฐ‘่ดŸ่ดฃ,่ฟ™ๆ‰ๆ˜ฏ็พŽๅ›ฝ้—ฎ้ข˜็š„็—‡็ป“ๆ‰€ๅœจ。ๆ‰€ไปฅ่ฏด,็พŽๅ›ฝๆฒกๆœ‰ไป€ไนˆ้ซ˜ๆ˜Ž็š„ๅคงๆˆ˜็•ฅ,ๆˆ‘ไปฌ็œŸ็š„ไธ่ฆ้ซ˜ไผฐๅฎƒ。
็พŽๅ›ฝ็œŸๆญฃ่ƒฝ้ๅˆถไธญๅ›ฝ็š„ๆ—ถๆœบๆญขไบŽ2006ๅนด;ๅฝ“ๆ—ถไธญๅ›ฝ็š„ๅค–ๆฑ‡ๅ‚จๅค‡ไธๅˆฐ8000ไบฟ็พŽๅ…ƒ,ไฝ†ไธญๅ›ฝ็ปๆตŽ่ฟ…้€Ÿๆˆ้•ฟ、ๅค–ๆฑ‡ๅ‚จๅค‡่ฟ…้€Ÿๆ‰ฉๅผ ็š„่‹—ๅคดๅทฒ็ปๅ‡บๆฅไบ†;้‚ฃๆ—ถ,ๅฆ‚ๆžœ็พŽๅ›ฝๅ…จๅŠ›ไปฅ่ตด้ๅˆถไธญๅ›ฝ,ๆˆ–่ฎธ่ฟ˜ๆฅๅพ—ๅŠ。ๆ—ถ่‡ณไปŠๆ—ฅ,ไธญๅ›ฝๆœ‰3ไธ‡ไบฟ็พŽๅ…ƒๅค–ๆฑ‡ๅ‚จๅค‡,ไธญๅ›ฝไผไธšๆ— ่ฎบๆ˜ฏๅ›ฝไผ่ฟ˜ๆ˜ฏๆฐ‘่ฅ,้ƒฝๆ˜พ็คบๅ‡บๆ— ๆ•Œ็š„็ซžไบ‰ๅŠ›,็พŽๅ›ฝ่ฟ˜่ฏดไป€ไนˆ้ๅˆถไธญๅ›ฝ,ๆขฆ่ฏ่€Œๅทฒ!ไธญๅ›ฝๅชๆฌ ไธ€ไธช็ง‘ๆŠ€ไบงไธš้“พ่‡ชไธปๅŒ–。ๆˆ‘่ง‰ๅพ—ไธๅ‡บ5ๅนด,่ฟ™ไธช้—ฎ้ข˜ๅฐฑ่ƒฝ่งฃๅ†ณ。่ฟ™ไบ›้—ฎ้ข˜ๅฐ†ๆฅๆˆ‘ไผš็”จไธ“้ข˜ๆฅ่ฎฒ。
*ๅๅ…ญ、็พŽๅ›ฝๆ‰‹ไธŠๅชๆœ‰ไธ€ไธช็ญน็ *
ๅœจๆˆ‘็œ‹ๆฅ,็พŽๅ›ฝๆ‰‹ไธŠๅชๆœ‰ไธ€ไธช็ญน็ ——ไธญๅ›ฝ็Šฏ้”™。ไป–ไปฌ็Žฐๅœจๅฐฑๆ˜ฏๆฏๅคฉๅๅœจ็™ฝๅฎซ็ฅˆ็ฅทไธญๅ›ฝ็Šฏ้”™。ๆœ‰ไธช็พคๅ‹่ฏด็š„ๅฅฝ:่ฆไธญๅ›ฝ็Šฏ้”™,่ฟ˜่ฆไธ€็›ด็Šฏ้”™,ไธๆ”น้”™,่ฟ™ๅคช้šพไบ†!ไธญๅ›ฝ็Šฏ้”™ๆ˜ฏ็พŽๅ›ฝๅ’ธ้ฑผ็ฟป่บซ็š„ๅ”ฏไธ€ๆœบไผš,ๆ‰€ไปฅ,ๆˆ‘ไปฌ็ปๅฏนไธ่ƒฝ็Šฏ้ข ่ฆ†ๆ€ง้”™่ฏฏ。
่ฟ™ๅฐฑๆ˜ฏๆˆ‘ไธบไป€ไนˆๅคฉๅคฉๅœจ่ฟ™ๅ„ฟๅ‘ผๅ,็ปๅฏนไธ่ƒฝๅผ€ๆ”พ่ต„ๆœฌ้กนไธ‹ๅฏๅ…‘ๆข!ๆˆ‘ไปฌไธ€ๅฎš่ฆๅฆ่พŸ่นŠๅพ„,ๅปบ็ซ‹่‡ชๅทฑไธปๅฏผ็š„ๆ–ฐ่ดงๅธไฝ“็ณป。ไธ€ๅฎš่ฆๅฅฝๅฅฝๅˆฉ็”จ่ฟ‡ๅŽป20ๅนด็งฏ็ดฏ่ตทๆฅ็š„ไผ˜ๅŠฟ,่ฟ™ไบ›ไผ˜ๅŠฟไฝฟๆˆ‘ไปฌๆœ‰่ƒฝๅŠ›่„ฑ็ฆป็พŽๅ…ƒไฝ“็ณป,่„ฑ็ฆปๆฌง็พŽ้‡‘่žไฝ“็ณป,ๅปบ็ซ‹ๅ…จๆ–ฐ็š„่ดงๅธไฝ“็ณป。ๅฝ“ๆˆ‘ไปฌ่ƒฝๅคŸไธปๅฎฐ่‡ชๅทฑ็š„็ฆปๅฒธ่ต„ไบงๆ—ถ,ไธญๅŽๆฐ‘ๆ—ๅฐฑๆตท้˜”ๅคฉ็ฉบ,ๆ›ดไธŠไธ€ๅฑ‚ๆฅผ。
*ๅไธƒ、ๅˆซ่ฎฉๆˆ‘ไปฌ็š„ๅค–ๆฑ‡ๅ‚จๅค‡ไป˜ไน‹ไธœๆต*
็Žฐๅœจ็พŽๅ…ƒๅผ€ๅง‹่ทŒไบ†,ๅธŒๆœ›่ฟ™ๆฌก็พŽๅ…ƒ็š„่ดฌๅ€ผ่ƒฝ่ฎฉๆˆ‘ไปฌ็š„็ฒพ่‹ฑไปฌ็œ‹็ฉฟ็พŽๅ…ƒ็š„ๅ€บๅŠก่ดงๅธๆœฌ่ดจ;็œ‹็ฉฟ็พŽๅ›ฝ็ปๆตŽ็š„่™šๅผฑ;็œ‹็ฉฟ็พŽๅ›ฝๆ‰€่ฐ“็š„่ถ…ๅผบๅ›ฝๅŠ›ๆœฌ่ดจไธŠ้ƒฝๆ˜ฏ้ ๅ€บๅŠกๅ †็งฏ่ตทๆฅ็š„;ไธ€ๆ—ฆๅ€บๅŠก้“พๆกๆ–ญไบ†,ๆ‰€ๆœ‰่ฟ™ไธ€ๅˆ‡้ƒฝๅฐ†็ƒŸๆถˆไบ‘ๆ•ฃ。็พŽๅ›ฝๅท็งฐไธ–็•Œๅคดๅทๅผบๅ›ฝ,ไธ€ๅœบ็–ซๆƒ…ๅฐฑๆžๆˆ่ฟ™ไธช็ƒ‚ๆ ทๅญ,่ฟ˜ไธ่ถณไปฅ่ฎฉๆˆ‘ไปฌ็œ‹ๆธ…ๅฎƒ็š„่™šๅผฑๆœฌ่ดจๅ—?
่ฏดๅฎž่ฏ,็Žฐๅœจ็พŽๅ…ƒ็š„่ดฌๅ€ผ่ถ‹ๅŠฟไธๆ˜ฏๅŽป็พŽๅ…ƒ็š„ๆœ€ไฝณๅบ”็”จๅœบๆ™ฏ。ไน‹ๅ‰็š„่ฎฒๅบงๆˆ‘่ฏด่ฟ‡,็ฆปๅฒธ็พŽๅ…ƒ็ดงๅผ 、็พŽ่‚กๅฑๆœบๆ‰ๆ˜ฏๆˆ‘ไปฌๅŽป็พŽๅ…ƒ็š„ๆœ€ไฝณๆ—ถๆœบ。็Žฐๅœจ็พŽๅ…ƒๅผ€ๅง‹่ทŒไบ†,่ฟ™ไธๆ˜ฏๅŽป็พŽๅ…ƒ็š„ๅฅฝๆœบไผš,ไฝ†ๆˆ‘ไปฌๅทฒ็ปๆฒกๆœ‰ๆ—ถ้—ดไบ†,ๅ†ๆ‹–ไธ‹ๅŽป,็พŽๅ…ƒๅฑๆœบไผšไฝฟๆˆ‘ไปฌ20ๅนด็š„ๅค–ๆฑ‡ๅ‚จ่“„ๆฏไบŽไธ€ๆ—ฆ。็Žฐๅœจไธ็€ๆ‰‹ๅŽป็พŽๅ…ƒ,็ญ‰็พŽๅ…ƒๅดฉ็›˜ไบ†,็ญ‰ไบŽๅ…จ็ƒ่ฆๆ‰ฟๅ—ไธ€ๆฌกไธ–็•Œๅคงๆˆ˜็š„ๆŸๅคฑ,ๅ„ๅ›ฝ็ปๆตŽ้ƒฝ่ฆไปŽๅคดๅ†ๆฅ,ๆˆ‘ไปฌ20ๅนด็š„ๅค–ๆฑ‡็งฏ็ดฏไนŸๅฐ†็ฐ้ฃž็ƒŸ็ญ。ๅฝ“็„ถ,ๅณไพฟไปŽๅคดๅ†ๆฅ,ๆˆ‘ไปฌ่ฟ˜ๆ˜ฏ่ตขๅฎถ,ไฝ†ๆˆ‘ๆ˜ฏ่ดขๅŠกๅ‡บ่บซ,่ˆไธๅพ—ๆˆ‘ไปฌ็š„ๅค–ๆฑ‡ๅ‚จๅค‡้ƒฝไป˜ไน‹ไธœๆต。
ๅธŒๆœ›ไธญๅคฎๆ—ฉไธ‹ๅ†ณๅฟƒ,่ตถ็ดงไปŽ็พŽๅ…ƒไฝ“็ณปไธญ่ตฐๅ‡บๆฅ,ๆŠ“็ดงๆ—ถ้—ดๅปบ็ซ‹ๆ–ฐ่ดงๅธไฝ“็ณป,ๅ› ไธบ่ฟ™ๆ˜ฏๆˆ‘ไปฌๆŽจๅŠจ็ปๆตŽๅ…จ็ƒๅŒ–、ๅปบ่ฎพไธ€ๅธฆไธ€่ทฏ็š„ๅ”ฏไธ€ๅ‡บ่ทฏ。
*ๅๅ…ซ、ๆ•ฒ้ป‘ๆฟ,็”ป้‡็‚น*
ไปŠๅคฉ่ฎฒไบ†ๅพˆๅคš,ๅšๅฎŒ่ฟ™ไธ€่ฎฒ,่ฐๅ†็”จๆๆƒง็พŽๅ›ฝ็š„ๅฟƒๆ€ๆฅๆ้—ฎ้ข˜,ๆˆ‘ๅฐฑๆŠŠ่ฟ™ไธ€็ฏ‡ๅ‘็ป™ไป–。
*่ฎฐไฝ่ฟ™ไธชๅ…ฌๅผ:*
ๅ‚จ่“„—ๆŠ•่ต„=ๅ‡บๅฃ—่ฟ›ๅฃ
่ฟ™ๅ…ซไธชๅญ—ๆ˜ฏไฝ“็Žฐไธ€ไธชๅ›ฝๅฎถๅฆ‚ไฝ•ๅœจ็ปๆตŽๅ…จ็ƒๅŒ–ไธญ็”Ÿๅญ˜็š„ๆœฌ่ดจ;ๆ˜ฏไฝ“็Žฐไธ€ไธชๅ›ฝๅฎถ็ปๆตŽๅฎžๅŠ›็š„ๆœฌ่ดจ;ไนŸๆ˜ฏๅ›ฝๅ†…ๅ›ฝ้™…ไธคไธช็ปๆตŽๅพช็Žฏไบ’ๅŠจๅ…ณ็ณป็š„ๆœฌ่ดจ;่ฟ˜ๅบ”่ฏฅๆ˜ฏๅ›ฝๅฎถๅ‚ไธŽๅ…จ็ƒๅŒ–็š„็š„็ปๆตŽๆ€ปๆ–น็•ฅ。ไธ€ๅฅ่ฏ,่ฟ™ๅ…ซไธชๅญ—ๆ˜ฏ็ปๆตŽๅ…จ็ƒๅŒ–็š„ๆœฌ่ดจ。
ๅฅฝ,ไปŠๅคฉๅฐฑๅ…ˆ่ฎฒๅˆฐ่ฟ™้‡Œ,่ฐข่ฐขๅคงๅฎถ!

Jumat, 02 Oktober 2020

Kerja Tiongkok

*China Berlari, Indonesia Bermimpi*
*Mengapa China Melaju Cepat Melebihi Bangsa-Bangsa Lain??*
_*Budiman Sujatmiko*_

Hanya 25 tahun Sejak Reformasi Deng, China Sudah Sejajar Dengan AS Dari Segi Kemakmuran.....
Kini, China sudah melewati Barat dari segi ilmu & teknologi. Ini terbukti dalam periode 10 tahun terakhir 60% lebih jumlah paten dunia berasal dari China
Mengapa? Karena negara berperan efektif, fokus dan profesional.

1. Seluruh pejabat dan presiden adalah karir profesional. Presiden diseleksi berdasar track record kerja di pemerintahan selama 30 tahun lebih.
Jadi tidak berdasarkan partai politik tetapi karir profesional. Para wakil rakyat yg jumlahnya lebih dari 1000 orang dipilih dan merupakan perwakilan daerah dalam proses pemilihan yg sederhana.

Jadi China tidak perlu ongkos untuk Pemilu dan repot membiayai wakil rakyat yang kerjanya nyinyir dan omong kosong belaka. Bayangkan saja biaya pemilu adalah 40 T hanya untuk memilih seorang presiden & wakil serta 500 wakil rakyat. Biaya yg sama cukup untuk biayai pembangunan Trans Sumatra.

2. Dalam segi hukum, China sangat sederhana dan murah.
- Mencuri dengan kekerasan, hukuman mati.
- Korupsi di atas Rp. 1 miliar, hukuman mati,
- Mencuri ringan tanpa kekerasan, hukumannya kerja paksa.
- Korupsi di bawah Rp. 1 miliar kerja paksa. 
- Kejahatan sosial seperti PSK, berjudi secara ilegal, berdagang di tempat terlarang, hukumannya kerja paksa.

Lama kerja paksa tergantung kadar hukumannya. Proses peradilan di China juga sederhana dan murah. Makanya China tidak butuh banyak pengacara dan penjara. Bayangkan jika 1,3 miliar penduduk menerapkan hukum seperti Indonesia, berapa banyak penjara harus disediakan dan pengacara harus dibiayai negara. 

Selain itu kerja paksa selalu diarahkan negara utk menyelesaikan proyek-proyek pembangunan, misalnya pembuatan jalan, saluran air dsb maka para tahanan dipekerjakan secara produktif.

3. Semua orang bisa pinjam uang ke bank tanpa jaminan karena semua asset milik negara dengan bunga yang sangat murah sekitar 3% per tahun dan 0% jika di investasikan di luar negeri.

Semua bank milik negara jadi ngemplang hutang = korupsi,
di atas Rp. 1 miliar hukuman mati.
Di bawah Rp. 1 miliar kena hukuman kerja paksa.
Semua boleh berdagang di tempat yang disediakan pemerintah. Apabila dagangan tidak laku karena pemerintah salah menempatkan, maka kerugian di tanggung negara tapi kalau kerugian karena malas, maka di black list untuk berdagang, di China tidak ada tempat untuk orang malas.


4. Agama tidak dilarang untuk dianut oleh siapapun namun dilarang mengorganisir orang banyak untuk kepentingan politik atas nama agama.

Pengalaman berbangsa beribu-ribu tahun mengajarkan kepada mereka bahwa hidup damai itu adalah berkah yang luar biasa dan bukan pemberian gratis tapi harus diperjuangkan ❗

Kehidupan masyarakat yang damai, politik yg stabil, hukum yg tegas tapi sederhana dan murah serta akses kredit perbankan yg terbuka bagi semua orang
menggerakkan seluruh rakyat China untuk fokus membangun.... Enerji pembangunan dari 1.3 M rakyat inilah yang membuat China terus berlari.
Bagaimana dengan Indonesia ❓❓ 
Terus sibuk berpolitik dan rakyatpun dibuai berbagai janji-janji yang membuat mereka sibuk bermimpi.

Sebagian rakyat Indonesia di buat mabok agama, diancam neraka dan di iming-iming  surga, jadi lupa berkarya.....

Deng Xiao Ping bilang :

_*Tidak perduli warna bulu kucing hitam atau putih, Asal bisa menangkap tikus....*_


Berkarya -berkarya - berkarya 
Bekerja - bekerja - berkerja 
Lalu jadi kaya raya .
dalam beberapa tahun ke depan.


Oooo itu rupanya rahasia Sukses orang China ya, ayo ini Peringatan bagi Para Pejabat NKRI, bagi para Pemuka Agama dan bagi semua rakyat kita, ayo bergandeng tangan, rukun dan bangun Negeri ini ber sama-sama, Jangan Hanya Bisa Nyinyir aja Komplain ini itu, Tunjukkan bahwa kita Bisa Melakukan yg Lebih Baik.

Salam Perdamaian dan Tetap

Senin, 07 September 2020

้˜ฟ้‡Œๅทดๅทด

ๆˆ‘ๆ˜ฏ้ฉฌไบ‘ๅคชๅคช〜ๅผ ็‘›

ๆˆ‘ๅ’Œ้ฉฌไบ‘ๆ˜ฏๅคงๅญฆๅŒๅญฆ,ๆฏ•ไธšๅฐฑๆ‹ฟไบ†็ป“ๅฉš่ฏ。้ฉฌไบ‘ไธๆ˜ฏไธชๅธ…็”ทไบบ,ๆˆ‘็œ‹ไธญ็š„ๆ˜ฏไป–่ƒฝๅšๅพˆๅคšๅธ…็”ทไบบๅšไธไบ†็š„ไบ‹ๆƒ…:็ป„ๅปบๆญๅทž็ฌฌไธ€ไธช่‹ฑ่ฏญ่ง’、ไธบๅค–ๅ›ฝๆธธๅฎขๆ‹…ไปปๅฏผๆธธ่ตšๅค–ๆฑ‡、ๅ››ๅค„ๆŽฅ่ฏพๅšๅ…ผ่Œ、ๅŒๆ—ถ่ฟ˜่ƒฝๆˆไธบๆญๅทžๅๅคงๆฐๅ‡บ้’ๅนดๆ•™ๅธˆ……็„ถ่€Œ,ๅฉšๅŽๅพˆ้•ฟไธ€ๆฎตๆ—ถ้—ดๆˆ‘้ƒฝๅค„ๅœจไธ€็งๆƒถๆไธญ,ๅ› ไธบไป–็š„ๆ„ๅค–็Šถๅ†ตๅฑ‚ๅ‡บไธ็ฉท——

  ไป–ๅฟฝ็„ถๅฐฑ่พž่Œไบ†,่ฏด่ฆๅš่‡ชๅทฑ็š„ไบ‹ไธš,็„ถๅŽๅฐฑๅœจๆญๅทžๅผ€ไบ†ไธ€ๅฎถๅซๆตทๅš็š„็ฟป่ฏ‘็คพ。็ฟป่ฏ‘็คพไธ€ไธชๆœˆ็š„ๅˆฉๆถฆ200ๅ—้’ฑ,ไฝ†ๆˆฟ็งŸๅฐฑๅพ—700。ไธบไบ†็ปดๆŒไธ‹ๅŽป,้ฉฌไบ‘่ƒŒ็€้บป่ข‹ๅŽปไน‰ไนŒ、ๅนฟๅทž่ฟ›่ดง,่ดฉๅ–้ฒœ่Šฑ、็คผๅ“、ๆœ่ฃ…,ๅšไบ†3ๅนด็š„ๅฐๅ•†ๅฐ่ดฉ,ๅ…ปไบ†็ฟป่ฏ‘็คพ3ๅนด,่ฟ™ๆ‰ๆ’‘ไบ†ไธ‹ๆฅ。ๅŽๆฅไป–ๅˆๅš่ฟ‡《ไธญๅ›ฝ้ป„้กต》,็ป“ๆžœ่ขซไบบๅฝ“้ช—ๅญ่ฝฐ……

  ่ฟ™็งๆƒ…ๅ†ตไธ‹,ไป–ๅฟฝ็„ถ่ทŸๆˆ‘่ฏดๆƒณๅ‡‘50ไธ‡ๅš็”ตๅญๅ•†ๅŠก็ฝ‘็ซ™。ไป–ๅพˆๅฟซๅฐฑๆ‰พไบ†16ไธชไบบๆŠฑๆˆไบ†ๅ›ข,ๅ…ถไธญๆœ‰ไป–็š„ๅŒไบ‹、ๅญฆ็”Ÿ、ๆœ‹ๅ‹。้ฉฌไบ‘ๅ‘Š่ฏ‰ๅคงๅฎถ,ๆŠŠๆ‰€ๆœ‰็š„้—ฒ้’ฑ้ƒฝๅ‡‘่ตทๆฅ,่ฟ™ๅพˆๅฏ่ƒฝๅคฑ่ดฅ,ไฝ†ๅฆ‚ๆžœๆˆๅŠŸไบ†,ๅ›žๆŠฅๅฐ†ๆ˜ฏๆ— ๆณ•ๆƒณ่ฑก็š„。ไป–้กบไพฟๅŠๆˆ‘,่ฏดไป–ไปฌๅฆ‚ๆžœๆ˜ฏไธ€ๆ”ฏๅ†›้˜Ÿ,ๆˆ‘ๅฐฑๆ˜ฏๆ”ฟๅง”,ๆœ‰ๆˆ‘ๅœจ,ๅคงๅฎถๆ‰ไผš่ง‰ๅพ—็จณๅฆฅ。ๅฐฑ่ฟ™ไนˆ็€,ๆˆ‘ไนŸ่พž่Œไบ†,18ไธชไบบ่ธไธŠไบ†ไธ€ๆก่ˆน———้˜ฟ้‡Œๅทดๅทด。

  ่‰ๅˆ›ๆ—ถๆœŸ็š„ๅทฅไฝœๆ˜ฏไธๅˆ†ๆ—ฅๅคœ็š„,้ฉฌไบ‘ๆœ‰ไบ†ไป€ไนˆ็‚นๅญ,ไธ€้€š็”ต่ฏ,10ๅˆ†้’ŸๅŽๅฐฑๅœจๅฎถๅผ€ไผš。ไป–ๆปกๅ˜ด็š„B2B、C2C、ๆœ็ดข、็คพๅŒบไน‹็ฑป็š„ไธ“ไธšๆœฏ่ฏญๆˆ‘ๆ˜ฏๅฌไธๆ‡‚็š„,ไฝ†ไป–ไปฌๅผ€ไผšๆˆ‘ไผšๅพˆๅฟ™。ไป–ไปฌ็™ฝๅคฉๅผ€ไผš,ๆˆ‘ๅœจๅŽจๆˆฟๅš้ฅญ;ไป–ไปฌๅŠๅคœๅผ€ไผš,ๆˆ‘ๅœจๅŽจๆˆฟๅšๅคœๅฎต,ๆˆ‘้กถ็€ๆ”ฟๅง”็š„่™š่Œ,ๅนฒ็€ๅ‹คๆ‚ๅทฅ็š„ไบ‹。ๅœจๆฒกๆœ‰็›ˆๅˆฉๅ‰,ๆฏไบบๆฏๆœˆ500ๅ—่–ชๆฐด,่ฟ™็‚น้’ฑไนฐ่œ้ƒฝไธๅคŸ,ๅฎถ้‡Œ็š„“้ฃŸๅ ‚”่ฆไฟ่ฏๅผ€ไผ™,ๅŠ ็ญๅผ€ไผš็š„ๅคœๅฎตๅ“่ดจๅฟ…้กปไฟ่ฏ。ๆˆ‘ๆœฌๆฅๅฝ“่€ๅธˆๅฝ“ๅพ—ๅฅฝๅฅฝ็š„,ไธบไป€ไนˆๅฐฑๆˆไบ†ไธ€ไธชๅ€’่ดดไผ™้ฃŸ่ดน็š„่€ๅฆˆๅญไบ†?

  ็…Ž็†ฌไบ†ไธ€ๅนดๅคš,ๆˆ‘้—ฎไป–ๆˆ‘ไปฌ็Žฐๅœจๅˆฐๅบ•่ตšไบ†ๅคšๅฐ‘้’ฑ,ไป–ไผธๅ‡บไธ€ๆ นๆ‰‹ๆŒ‡ๅคด็ป™ๆˆ‘็œ‹。“1000ไธ‡?”ไป–ๆ‘‡ๅคด:“1ไบฟ?”ไป–่ฟ˜ๆ˜ฏๆ‘‡ๅคด,ๅ‘Š่ฏ‰ๆˆ‘:“100ไธ‡。”“่ฟ™ไนˆๅฐ‘?”“ๆฏๅคฉ。็Žฐๅœจๆ˜ฏไธ€ๅคฉๅˆฉๆถฆ100ไธ‡,ๅฐ†ๆฅ,ไผšๅ˜ๆˆไธ€ๅคฉ็บณ็จŽ100ไธ‡。”

“ๅ„ฟๅญ่ทŸ้’ฑ,ๆŒ‘ไธ€ๆ ท,ไฝ ่ฆๅ“ชไธช?”
  ๅฆ‚ๆžœ่ฏดๅฝ“ๅˆไป–่ฏด็š„ๅ›žๆŠฅๆ˜ฏๆŒ‡็Žฐๅœจ็š„่ดขๅฏŒ็š„่ฏ,่ฟ™ไธชๅ›žๆŠฅ็š„็กฎๅพˆๆƒŠไบบ。่€Œๆˆ‘ๅพ—ๅˆฐ็š„ๅ›žๆŠฅๆ˜ฏ,ๆˆ‘ๆˆไธบไบ†้˜ฟ้‡Œๅทดๅทดไธญๅ›ฝไบ‹ไธš้ƒจๆ€ป็ป็†。ๆญฃๅœจ่ฟ™ไธชๆ—ถๅ€™,ๅฎถ้‡ŒๅˆๅŽ้™ข่ตท็ซ———ๆˆ‘ไปฌๅผ€ๅง‹็ฎกไธไฝๅ„ฟๅญไบ†。
ๅ„ฟๅญ,ๅบ”่ฏฅไนŸ็ฎ—ๆ˜ฏ้˜ฟ้‡Œๅทดๅทด็š„“็‰บ็‰ฒๅ“”。ไป–1992ๅนดๅ‡บ็”Ÿ,่ทŸๆˆ‘ไปฌ็š„ไบ‹ไธšๅŒ้พ„。้‚ฃๆ—ถ,ๆˆ‘ไปฌๅฎถไธ€ๆŒคๅฐฑๆ˜ฏ30ๅคšๅทไบบๅผ€ไผš,ๆปกๅฑ‹ๅญ็ƒŸ้›พ็ผญ็ป•ๅƒไธชๆฏ’ๆฐ”ๅฎค,ๅ„ฟๅญๅ…ณๅœจๆˆฟ้‡Œไธ่ƒฝๅ‡บๆฅ。ๅƒ้ฅญ็š„ๆ—ถๅ€™่ทŸๆˆ‘ไปฌไธ€่ตทๅƒๅทฅไฝœ้ค,่ฟ™ๆ ทไธ€ๆฅ,ๅ„ฟๅญๅฐฑ้•ฟๅพ—่ถŠๆฅ่ถŠๅƒไป–็ˆธ็ˆธ,็˜ฆ้ชจไผถไปƒ,ๅƒๆ น็ซๆŸดๆฃๆ”ฏ่ตทไธ€ไธชๅคง่„‘่ข‹。ๅŽๆฅๆˆ‘ไปฌ่ถŠๆฅ่ถŠๅฟ™,ๅ„ฟๅญ4ๅฒๅ…ฅๆ‰˜,ไธ€ๆ‰”ๅฐฑๆ˜ฏ5ๅคฉ,ๅ‘จๆœซๆ‰ๆŽฅๅ›žๅฎถๆฅ。
 
  ๅฆ‚ไปŠ็ปˆไบŽ็ฎ—ๆ˜ฏๅคงๅŠŸๅ‘Šๆˆไบ†,ๅ„ฟๅญไนŸ10ๆฅๅฒไบ†。ๆˆ–่ฎธๆ˜ฏๅ—ไบ†้ฉฌไบ‘็š„็†้™ถ,ไป–ๅฏน็ฝ‘็ปœๆ ผๅค–ๆœ‰ๅ…ด่ถฃ,ๅพˆๅฟซๅฐฑๅญฆไผšไบ†็Žฉ็ฝ‘็ปœๆธธๆˆ,ไธŠ็˜พไบ†,่ทŸ็€ๅŒๅญฆๆณกๅœจ็ฝ‘ๅง่ˆไธๅพ—ๅ›žๅฎถ。้ฉฌไบ‘ๅฏนๅ„ฟๅญๅฑ•ๅผ€ไบ†่ฏดๆœๆ•™่‚ฒ,ๅฏๅœจ12ๅฒ็š„ๅ„ฟๅญ้ขๅ‰,่ƒฝ่จ€ๅ–„่พฉ็š„ไป–่ดฅไธ‹้˜ตๆฅ。ๅ„ฟๅญๅชๅ›žไบ†ไธ€ๅฅ่ฏ:“ไฝ ไปฌ้ƒฝไธๅœจๅฎถ,ๆˆ‘ๅ›žๆฅไบ†ไนŸๆ˜ฏไธ€ไธชไบบๆ— ่Š,่ฟ˜ไธๅฆ‚ๅ‘†ๅœจ็ฝ‘ๅง้‡Œ!”

้ฉฌไบ‘่ฟ™ๆฌก็œŸๆ€ฅไบ†,ๅฝ“ๅคฉๆ™šไธŠๅฐฑ่ทŸๆˆ‘ๅ•†้‡:“ไฝ ่พž่Œๅง,ๆˆ‘ไปฌๅฎถ็Žฐๅœจๆฏ”้˜ฟ้‡Œๅทดๅทดๆ›ด้œ€่ฆไฝ 。ไฝ ็ฆปๅผ€้˜ฟ้‡Œๅทดๅทด,ๅฐ‘็š„ๅชๆ˜ฏไธ€ไปฝ่–ชๆฐด;ๅฏไฝ ไธๅ›žๅฎถ,ๅ„ฟๅญๅฐ†ๆฅๅ˜ๅไบ†,ๅคšๅฐ‘้’ฑ้ƒฝๆ‹‰ไธๅ›žๆฅ。ๅ„ฟๅญ่ทŸ้’ฑ,ๆŒ‘ไธ€ๆ ท,ไฝ ่ฆๅ“ชไธช?”็œ‹ๅ„ฟๅญๅ˜ๆˆ่ฟ™ๆ ท,ๆˆ‘ไนŸ็€ๆ€ฅ,ไฝ†ๆ˜ฏๆˆ‘ๅฟƒ้‡Œๅดไธๅนณ่กก:ๅˆš็ป“ๅฉš็š„ๆ—ถๅ€™ๆˆ‘ๆœฌๆฅๅฐฑๆ˜ฏๆ‰“็ฎ—ๅšไธช่ดคๅฆป่‰ฏๆฏ็š„,็ป“ๆžœ่ขซไป–“้ช—”่ฟ›ไบ†้˜ฟ้‡Œๅทดๅทด;ๅฅฝไธๅฎนๆ˜“็ŽฐๅœจๅŠŸๆˆๅๅฐฑไบ†,ๅˆ่ฎฉๆˆ‘่พž่Œๅ›žๅฎถๅšๅ…จ่Œๅคชๅคช。ไป–ๆ‹ฟๆˆ‘ๅฝ“ไป€ไนˆ?ไธ€้ข—ๆฃ‹ๅญ!

  ๆˆ‘่พž่ŒไปฅๅŽ,ๅฏนๅ„ฟๅญ็š„ๆธธๆˆๆฒ‰่ฟท้˜ปๅ‡ปๆญฃๅผๆ‹‰ๅผ€,็ฌฌไธ€ๆžชๆ˜ฏ้ฉฌไบ‘ๆ‰“ๅ“็š„。้‚ฃๆ—ถๆญฃๆ˜ฏๆš‘ๅ‡,ไป–็ป™ๅ„ฟๅญ200ๅ—้’ฑ,่ฎฉไป–ๅŽปๅ’ŒๅŒๅญฆ็Žฉ็”ต่„‘ๆธธๆˆ,็ŽฉไธŠไธ‰ๅคฉไธ‰ๅคœๅ†ๅ›žๆฅ,ไฝ†ๅ›žๆฅ็š„ๆ—ถๅ€™ๅฟ…้กปๅ›ž็ญ”ไธ€ไธช้—ฎ้ข˜———ๆ‰พๅ‡บไธ€ไธช็Žฉๆธธๆˆ็š„ๅฅฝๅค„。่ฟ‡ไบ†ไธ‰ๅคฉ,ๅ„ฟๅญๅ›žๆฅไบ†,ๅ…ˆ็Œ›ๅƒไบ†ไธ€้กฟๅˆๅคง็กไบ†ไธ€่ง‰,่ฟ™ๆ‰ๅŽปๆฑ‡ๆŠฅๅฟƒๅพ—:“ๅˆ็ดฏๅˆๅ›ฐๅˆ้ฅฟ,่บซไธŠๅ“ชๅ„ฟ้ƒฝไธ่ˆ’ๆœ,้’ฑ่Šฑๅ…‰ไบ†,ไฝ†ๆ˜ฏๆฒกๆƒณๅˆฐไป€ไนˆๅฅฝๅค„。”“้‚ฃไฝ ่ฟ˜็Žฉ?่ฟ˜็Žฉๅพ—่ˆไธๅพ—ๅ›žๅฎถ?”ๅ„ฟๅญๆฒก่ฏ่ฏดไบ†。ๅŠ ไธŠๆˆ‘็š„็œ‹็ฎก,ๅ„ฟๅญไบŽๆ˜ฏๆ…ขๆ…ขๅฐฑๆทกๅ‡บไบ†็ฝ‘็ปœๆธธๆˆ。

้‚ฃๆ—ถๆญฃๆ˜ฏ็ฝ‘็ปœๆธธๆˆๅœˆ้’ฑ็š„ๆ—ถๅ€™,็››ๅคง、็ฝ‘ๆ˜“้ƒฝๆŽจๅ‡บไบ†ๆ–ฐๆธธๆˆ,ๆŒ‰็…ง้ฉฌไบ‘็š„ไฝœ้ฃŽ,ไป–ๆ˜ฏไธไผšๆ”พ่ฟ‡ไปปไฝ•่ตš้’ฑ็š„ๆœบไผš็š„。ไฝ†ๆ˜ฏไป–็กฌๆ˜ฏๆฒกๆœ‰ๅŽปๅš็ฝ‘็ปœๆธธๆˆ,ไป–ๅœจ่‘ฃไบ‹ไผšไธŠ่ฟ™ไนˆ่ฏด:“ๆˆ‘ไธไผšๅœจ็ฝ‘็ปœๆธธๆˆๆŠ•ไธ€ๅˆ†้’ฑ,ๆˆ‘ไธๆƒณ็œ‹ๅˆฐๆˆ‘็š„ๅ„ฟๅญๅœจๆˆ‘ๅš็š„ๆธธๆˆ้‡Œ้ขๆฒ‰่ฟท!”
 
ๅšไธชๅนธ็ฆๆผ‚ไบฎ็š„ๅฑ…ๅฎถๅฅณไบบ
  ๅ„ฟๅญไปŽๅฐๅญฆๅˆฐๅˆไธญ,ๆˆ‘ๆฒกๆŽฅ้€่ฟ‡ไป–,้ƒฝๆ˜ฏ่‡ชๅทฑ่ƒŒไธชไนฆๅŒ…ๅŽปๆŒคๅ…ฌๅ…ฑๆฑฝ่ฝฆ。็Žฐๅœจ,่พž่Œๅ›žๅฎถ็š„ๆˆ‘ๆฏๅคฉๆ—ฉไธŠๅšๅฅฝๆ—ฉ้ฅญ,ๅ’Œๅ„ฟๅญไธ€่ตทๅƒ,ๅ†ๅผ€่ฝฆ้€ไป–ๅŽปๅญฆๆ ก。ๆŽฅ็€,ๆˆ‘้ฉฌไธŠๅŽปๅ†œ่ดธๅธ‚ๅœบไนฐ่œ,ๅ›žๅฎถไปฅๅŽไธค่คไธ€็ด ไธ€ๆฑคๅœฐๆญ้…ๅฅฝ,้…ไธŠ้คๅŽๆฐดๆžœ,็”จไธ€ไธชๅˆ†ๆˆไธ‰ๅฑ‚็š„ๅฐ้ฃŸ็›’่ฃ…็€,็„ถๅŽๅŽปๅ„ฟๅญ็š„ๅญฆๆ ก้—จๅฃ็ญ‰ไป–ไธญๅˆๆ”พๅญฆ。

  ๆˆ‘่พž่Œๅ›žๅฎถๅŠๅนดๅŽ,ๅ„ฟๅญ็š„ๆˆ็ปฉๅœจ็ญไธŠๅ‡ไบ†17ไธชไฝ็ฝฎ。็ญไธปไปปไนŸ่ฏดไป–ไธไป…ๅญฆไน ๆ้ซ˜ไบ†,ๅฐฑ่ฟžๅœจ็ญไธŠ็š„ไบบ็ผ˜้ƒฝๅ˜ๅฅฝไบ†,ไป–่ถŠๆฅ่ถŠๅผ€ๆœ—、็ˆฑ็ฌ‘、ๅฎฝๅฎน,ไปŽไปฅๅ‰็š„ๅ†…ๅ‘ๅญฆ็”Ÿๅ˜ๆˆไบ†ไธ€ไธช้˜ณๅ…‰ๅฐ‘ๅนด!

  ๆˆ‘ๆ”นๅ˜ไบ†ๅ„ฟๅญ,ๅ„ฟๅญไนŸๅœจๆ”นๅ˜ๆˆ‘。ๅ‘จๆœซ็š„ๆ—ถๅ€™,ไป–ไผšๆŒฝ็€ๆˆ‘ไธ€่ตทๅ‡บๅŽป้€›่ก—。่ทฏ่ฟ‡ไธดๆตท่ทฏ็š„ๆ—ถๅ€™,็ป™ๆˆ‘ๆŽจ่ไธ€ๅฎถๅซ“ๅ››ๅญฃ้ฃŽๆต”็š„้•ฟ่ฃ™ไธ“ๅ–ๅบ—。ๅœจๆˆ‘ๅฐ่ฑกไธญ,่‡ชไปŽๆˆ‘่ฟ›ไบ†้˜ฟ้‡ŒๅทดๅทดๅŽ,ๆˆ‘ๅฐฑๆฒก็ฉฟ่ฟ‡้•ฟ่ฃ™ไบ†,ๆˆ‘็š„่กฃๆฉฑ้‡Œๅ…จ้ƒฝๆ˜ฏ็™ฝ่‰ฒ、้“ถ็ฐๆˆ–่€…้ป‘่‰ฒ็š„่Œไธšๅฅ—่ฃ…,้‡Œ้ข็š„่ฃ™ๅญไนŸ้ƒฝๆ˜ฏ็›ด็ญ’ๅฅ—่ฃ™,้‚ฃๆ ท็š„่ฃ™ๅญๆ‰็ฌฆๅˆๆˆ‘็š„่บซไปฝ。็Žฐๅœจ,ๆˆ‘ไธๅฟ…ๅœจไนŽ่ฟ™ไบ›ไบ†,ๆˆ‘ๅฐฑๆ˜ฏไธชๅฑ…ๅฎถ็š„ๅฅณไบบ,ๆˆ‘ๅฏไปฅ็ฉฟไปปไฝ•ๆˆ‘ๆƒณ็ฉฟ็š„่กฃๆœ。ๅ„ฟๅญ็ป™ๆˆ‘ๆŽจ่ไบ†ไธ€ๆก็Žซ็‘ฐ็บข็š„ไธ็ป’้•ฟ่ฃ™,ไธŠ้ขๆ–œๆ–œๅœฐ็ผ€็€ไธ€ๅœˆ้‡‘่‰ฒ็š„ๆต่‹,ไธ€็œ‹ๅฐฑ่ฎฉไบบๅ–œๆฌข。

  ๆˆ‘็š„่กฃ็€้ฃŽๆ ผๅฐฑๆญคๆ”นๅ˜。ๆœ‰็ฉบ็š„ๆ—ถๅ€™,ๆˆ‘ไผšๅŽป้˜ฟ้‡Œๅทดๅทด็œ‹ไปฅๅ‰็š„ๅŒไบ‹,ๅคงๅฎถ็œ‹ๆˆ‘็š„็œผ็ฅž้ƒฝๅ……ๆปกๆƒŠ่ฎถ,่ฏดๆˆ‘็Žฐๅœจๅ……ๆปกไบ†ๅฅณไบบๅ‘ณ,ๆ˜พๅพ—ๆฏ”ไปฅๅ‰ๆผ‚ไบฎไบ†่ฎธๅคš。

  ้ฉฌไบ‘ๆœ‰ไธ€ๆฌก่ทŸ้›…่™Žๅ…ฌๅธCEOๆจ่‡ด่ฟœ้—ฒ่Š,ๆจ่‡ด่ฟœ้—ฎ่ตทไบ†ๆˆ‘,้ฉฌไบ‘่ฟ™ไนˆๅ‘Š่ฏ‰ไป–:“ๅผ ็‘›ไปฅๅ‰ๆ˜ฏๆˆ‘ไบ‹ไธšไธŠ็š„ๆญๆกฃ,ๆˆ‘ๆœ‰ไปŠๅคฉ,ๅฅนๆฒกๆœ‰ๅŠŸๅŠณไนŸๆœ‰่‹ฆๅŠณ,ๆˆ‘ไนŸไธ€็›ดๆŠŠๅฅนๅฝ“ไฝœ็”Ÿไบง่ต„ๆ–™。ไฝ†็Žฐๅœจๆˆ‘่ง‰ๅพ—,ไฝœไธบๅคชๅคช,ๅฅนๆ›ด้€‚ๅˆๅš็”Ÿๆดป่ต„ๆ–™……”่ฟ™่ฏๅŽๆฅไผ ๅˆฐไบ†ๆˆ‘่€ณๆœต้‡Œ,่ฟ™่ฏ็ปๅฏนไธๆ˜ฏๆœๆ’ฐ———ไนŸๅชๆœ‰ๅƒไป–่ฟ™ๆ ทๆปก่„‘ๅญ้ƒฝๆ˜ฏไบ‹ไธš็š„็”ทไบบ,ๆ‰ไผšๆŠŠ่‡ชๅทฑ็š„ๅคชๅคชไนŸๅฝ“ไฝœ่ต„ๆ–™。ไธ่ฟ‡,ๅฝ“็”Ÿๆดป่ต„ๆ–™็š„ๆ—ฅๅญๅนถไธๅ,ๅœจๅฎถ็š„ๆ—ฅๅญ่™ฝ็„ถๅนณๆทก,ไฝ†ๆ˜ฏๆฏไธชๆ”ถ่Žท้ƒฝๅ€ผๅพ—่ฎฉๆˆ‘ๅ†ไธ‰ๅ“ๅ‘ณ。
   ไธ€ไธชๅฅ‡ไบบไธถไผŸไบบ่ƒŒๅŽ็š„ๅฅณไบบ。

Kamis, 27 Agustus 2020

Matakin

SEJARAH MATAKIN 

MATAKIN adalah singkatan dari Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Yinni Kongjiao Zonghui). Lembaga MATAKIN adalah lembaga Umat Khonghucu satu-satunya yang diakui Pemerintah Republik Indonesia. Mayoritas pemeluk agama Khonghucu berasal dari keturunan Tionghoa, namun agama Khonghucu tidak eksklusif dan bukan hanya diperuntukkan untuk kalangan masyarakat Tionghoa saja. Agama Khonghucu tersebar di seluruh dunia dan dipeluk oleh mereka yang menyakininya apapun latar belakang etnis, ras dan dari penduduk negara manapun di muka bumi ini.

Kedatangan orang-orang dari Tiongkok ke Nusantara berabad-abad yang lalu, telah memperkaya agama dan budaya di Indonesia hingga saat ini. Terdapat banyak Klenteng tua sebagai rumah ibadat Khonghucu di seluruh Indonesia diantaranya di pulau Jawa terdapat di Ancol Jakarta, Semarang, Rembang, Lasem, Tuban dan sebagainya. Di luar pulau Jawa terdapat banyak Klenteng tua ratusan tahun diantaranya di Makasar dan Manado. 

Pada tahun 1729 di Batavia (Jakarta) telah berdiri Shu Yuan, semacam ‘pesantren’ Khonghucu, yang memberikan pendidikan tentang Ru Jiao (Agama Khonghucu) yang bernama Ming Ceng Shu Yuan (artinya Taman Kitab / akademi pendidikan menggemilangkan iman). Pada tanggal 17 Maret 1900, di Batavia (Jakarta) berdiri sebuah lembaga yang bernama Zhonghua Hui Guan (Tionghoa Hwee Kwan) yang dipelopori tokoh-tokoh Khonghucu, dengan Presiden THHK pertama bernama Pan Jing He (Phoa Keng Hek) dan sekretarisnya Chen Qin Shan (Tan Kim San). Tujuan berdirinya Tionghoa Hwee Kwan adalah ingin memurnikan kehidupan keagamaan Khonghucu dan menghapus sinkretisme serta membangun lembaga pendidikan bagi anak-anak keturunan Tionghoa melawan diskriminasi pemerintah kolonial Belanda.

Pada tahun 1918 berdiri Lembaga keagamaan Khonghucu yang bernama Khong Khauw Hwee (Kongjiao Hui) di kota Solo. Kemudian menyusul beberapa tempat lainnya berdiri Khong Khauw Hwee (Kongjiao Hui) diantaranya di Bandung, Cirebon, Surabaya, Makasar, Malang, Semarang dan lain-lain. Pada tahun 1923 diselenggarakan Kongres pertama kalinya di Jokyakarta dan terbentuklah Khong Khauw Tjong Hwee (Kongjiao Zonghui) Majelis Pusat Agama Khonghucu dengan ketua pertama Fang Guo Yuan (Poey Kok Gwan). Pada tanggal 25 September 1924 di Bandung diselenggarakan Kongres lanjutan Khong Khauw Tjong Hwee (Kongjiao Zonghui / Majelis Pusat Agama Khonghucu) dengan tujuan merumuskan Tata Agama Khonghucu agar seragam di seluruh Nusantara. Kongres berikutnya diselenggarakan di kota Solo pada tahun 1938 dan di kota Surabaya pada tahun 1940, yang merumuskan banyak keputusan diantaranya di sekolah khusus Khong Khauw Hwee diberi pelajaran agama Khonghucu demikian pula diatur kembali tata upacara pernikahan dan kematian serta perayaan tahun baru Imlek (Yinli). 

Pada tahun 1942, masuknya tentara Jepang ke Nusantara dan pecahnya perang dunia kedua maka otomatis aktivitas kelembagaan agama Khonghucu Khong Khauw Hwee tidak bisa berjalan alias terhenti dan dibekukan. Setelah Indonesia Merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, perlahan aktivitas kelembagaan Khonghucu mulai berjalan namun belum maksimal karena situasi dan kondisi perang kemerdekaan saat itu. 

Satu tahun setelah Indonesia Merdeka, tepatnya pada tahun 1946, Pemerintah Indonesia melalui Presiden Soekarno menerbitkan Penetapan Pemerintah tentang hari raya Nomor 02/OEM-1946. Khusus bagi kalangan Tionghoa yang mayoritas pemeluk agama Khonghucu ditetapkan 4 (empat) hari raya yakni Perayaan tahun baru Imlek, Hari Lahir Nabi Khongcu (Kongzi), Cheng Beng (Qing Ming) dan Hari Wafat Nabi Khongcu (Kongzi). 

Pada tahun 1948-1949, Khong Khauw Hwee / Majelis Agama Khonghucu diberbagai daerah mulai aktif kembali membina kegiatan peribadahan dan lembaganya. Tanggal 11-12 Desember 1954, di Kota Solo diadakan Konferensi antar tokoh-tokoh agama Khonghucu yang membahas ditegakkannya kembali Majelis Pusat Agama Khonghucu / Khong Khauw Tjong Hwee (Kongjiao Zonghui). Pada tanggal 15-16 April 1955 kembali diadakan Konferensi lembaga tertinggi agama Khonghucu di Indonesia dan lembaga ini kemudian berganti nama menjadi Perserikatan K’ung Chiao Hui Indonesia disingkat PKCHI dengan ketua dr. Kwik Tjie Tiok dan sekretaris Oei Kok Dhan. Keputusan Kongres tanggal 16 April 1955 menjadi cikal bakal ditetapkannya Hari Ulang Tahun MATAKIN. 

Setelah beberapa kali adakan Kongres, akhirnya PKCHI berganti nama menjadi Lembaga Agama Sang Khongcu Indonesia disingkat LASKI pada Kongres IV di Solo tahun 1961. Pada tahun 1963 ketika diadakan Konferensi LASKI di Solo, salah satu keputusan adalah merubah nama LASKI menjadi GAPAKSI (Gabungan Perkumpulan Agama Khonghucu se Indonesia). Saat diadakan Kongres V GAPAKSI di Tasikmalaya pada tanggal 5-6 Desember 1964 nama lembaga ini kemudian berubah menjadi Perhimpunan Agama Khonghucu se-Indonesia dengan tetap disingkat GAPAKSI. 

Pada tahun 1965, Presiden Soekarno mengeluarkan Penetapan Presiden No. 1/ Pn.Ps/1965 tentang pencegahan penyalahgunaan dan atau penodaan agama. Dalam penjelasannya disebutkan bahwa agama-agama yang dipeluk penduduk Indonesia berdasarkan sejarahnya ada 6 (enam) yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Khonghucu (Confucius). Pada tahun 1969, berdasarkan UU No. 5 tahun 1969, Penetapan Presiden ini kemudian menjadi Undang-Undang dan disebut UU No. 1 / PnPs/1965. 

Pada tanggal 23-27 Agustus 1967 saat diselenggarakan Kongres VI GAPAKSI, salah satu keputusan Kongres adalah nama lembaga ini berubah menjadi MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia) Yinni Kongjiao Zonghui.                

Saat rezim Orde Baru berkuasa, umat Khonghucu mengalami diskriminasi panjang dimulai dari Terbitnya Instruksi Presiden Nomor 14 tahun 1967 yang ditandatangani Presiden Soeharto. Terbitnya berbagai aturan hukum sangat memojokkan umat Khonghucu dan lembaga MATAKIN, terlebih Keputusan Menteri yang menyebut Indonesia hanya mengakui lima agama tanpa Khonghucu, dan mengalahkan Undang-Undang, memberikan bukti noda hitam sejarah yakni betapa hukum dikalahkan oleh kebijakan politik. 

Eksistensi MATAKIN sebagai lembaga keagamaan tetap berjalan aktif walau banyak aturan hukum diskrimintif dan umat Khonghucu Indonesia dicabut hak-hak sipilnya. Berkurangnya jumlah umat Khonghucu saat rezim orde baru sangatlah merugikan, yang bertahan hanya sedikit tapi tetap tekun beribadah seraya berjuang tiada henti. Tidak bisa dicantumkan agama Khonghucu di Kartu Tanda Penduduk, pernikahan pasangan Khonghucu tidak dicatat negara melalui Catatan Sipil,  murid-murid dan Mahasiswa Khonghucu tidak bisa mendapatkan pendidikan agama Khonghucu, tidak dilayani Departemen / Kementrian Agama serta banyaknya aturan diskriminatif membuat hilangnya satu generasi umat Khonghucu. Menjadi pemimpin MATAKIN dimasa sulit tersebut membutuhkan keberanian, keteguhan iman bahkan siap dipenjara. Saya sendiri mengalaminya, saat remaja duduk dibangku SMA, sebagai pimpinan pemuda Khonghucu Manado merencanakan pameran foto dalam rangka peringatan Hari Lahir Nabi Khongcu, namun saya harus berhadapan dengan hukum ketika diciduk pihak intelejen dan diinterogasi. Saya kemudian dilepaskan setelah diperiksa selama satu hari dan beradu argumentasi soal adanya larangan terhadap agama Khonghucu. 

Pada tahun 2000, saat KH. Abdurrahman Wahid menjadi Presiden, atas usaha pimpinan MATAKIN maka terbitlah Keputusan Presiden No. 6 tahun 2000 yang mencabut Inpres No. 14 tahun 1967. Hak-hak sipil umat Khonghucu mulai dibuka kembali atas jasa seorang Gus Dur, MATAKIN mulai melaksanakan Perayaan Tahun baru Imlek Nasional (Imleknas) dan dihadiri Presiden Gus Dur hingga Kepala Negara berikutnya. Presiden Megawati Soekrno Putri saat menghadiri Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional yang diselenggarakan MATAKIN kemudian dalam sambutannya mengatakan memberikan kado bagi umat Khonghucu dengan menerbitkan Keputusan Presiden yang menetapkan perayaan tahun baru Imlek sebagai Hari Libur Nasional. 

Puncak dipulihkannya hak sipil umat Khonghucu terjadi saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerbitkan banyak aturan hukum dan regulasi di tahun 2006 yang membuat setiap umat Khonghucu bisa mencantumkan agama Khonghucu di KTP, pernikahan Khonghucu tidak dianggap kumpul kebo dan dicatat Negara melalui Catatan Sipil, Mahasiswa dan murid-murid yang beragama Khonghucu mulai mendapatkan pendidikan agama Khonghucu, Kementrian agama mulai melayani umat Khonghucu, tokoh-tokoh agama Khonghucu di seluruh Indonesia aktif bersama para tokoh agama lainnya dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), tersedianya guru-guru dan dosen agama Khonghucu, dan masih banyak lagi kebijakan yang membuat umat Khonghucu setara dengan agama lain dan eksistensi MATAKIN semakin diakui pemerintah sebagaimana amanat Konstitusi dan Perundang-undangan. 

Di Manado, Klenteng pertama sekaligus tertua yang dibangun di masa kolonial Belanda adalah Klenteng Ban Hing Kiong. Berdiri sejak ratusan tahun lalu dan tercatat mengalami beberapa kali renovasi hingga renovasi tahun 1819 disebut sebagai tahun berdirinya Klenteng tersebut namun sesungguhnya jauh sebelumnya ratusan tahun Klenteng ini sudah berdiri. Beberapa penulis bangsa Eropa menceritakan kisah perjalanannya di tanah Minahasa, diantaranya N. Graafland (Belanda) pada tahun 1850, termasuk perjalanannya di kampung Cina Manado yang mayoritas penduduknya beragama Khonghucu. Demikian pula, Sidney John Hickson, ahli Zoologi dari Inggris dalam buku lapoan perjalanannya di tanah Minahasa yang terbit tahun 1889, salah satu kisah perjalanannya di Kampung Cina Manado pada tahun 1885 dimana mayoritas penduduk di kampung Cina Manado beragama Khonghucu dan maraknya perayaan tahun baru Imlek dan capgomeh di Kampung Cina Manado. Penulis Belanda H. Van Kol menganalisa kehidupan orang-orang Cina di Tanah Minahasa dalam bukunya “Uit once Kolonien” (Leiden, 1903). 

Pada tahun 1902, di Manado berdiri badan hukum yang bernafaskan Khonghucu dan bernama Kong Djoe Sin Tong dimana badan hukum perkumpulan ini mengelola aset masyarakat Tionghoa salah satunya tanah pekuburan Tionghoa di kampung Cina Manado yang pertama di gunung wenang sejak tahun 1825 dan dipindahkan ke daerah Teling. Lembaga MATAKIN secara resmi eksistensinya di Manado Sulawesi Utara baru mulai berdiri tahun 1971 saat utusan MATAKIN berkunjung ke Manado, seluruh Klenteng di Manado Sulawesi Utara bernaung dibawah MATAKIN namun sejak diskriminasi orde baru, Klenteng-Klenteng ini banyak yang bernaung dibawah TITD (Tridharma) yang lebih berafiliasi ke lembaga agama Buddha (Walubi). Eksistensi MATAKIN ditandai dengan berdirinya Majelis agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Manado dan Amurang sejak tahun 1972. Namun, jejak umat Khonghucu di Manado khususnya di Kampung Cina jauh ratusan tahun telah ada dan eksis sebagaimana catatan sejarah.            

Pada tanggal 20-22 Desember 2018, diadakan Munas MATAKIN ke XVIII di Jakarta. Saya yang hadir dalam Munas sebagai Dewan Pengurus MATAKIN Ketua bidang hukum kemudian terpilih sebagai ketua Komisi A yang membahas Anggaran Dasar & Anggaran Rumah Tangga MATAKIN serta Tatacara pemilihan ketua Umum MATAKIN. Pada saat itulah saya memberikan usul saran mengenai eksistensi kelembagaan agama Khonghucu di Indonesia dimana selama ini penghitungan sejarah MATAKIN berasal dari Kongres di Solo pada tanggal 16 April 1955. Usia MATAKIN selama ini mengacu sejak tahun 1955. Menurut saya dalam argumentasi saat Munas MATAKIN di Jakarta, 20-22 Desember 2018, ada kesalahkaprahan sejarah, karena sesungguhnya penghitungan tahun kelahiran MATAKIN harus dihitung sejak Kongres Khong Khauw Tjong Hwee (Kongjiao Zonghui) di Jokyakarta tahun 1923. Karena, kalau dihitung sejak Kongres tahun 1955, maka ada ‘kekosongan” sejarah dengan mengabaikan Kongres Majelis agama Khonghucu di Nusantara / Hindia Belanda sebelum Indonesia merdeka di tahun 1945. Selain itu, ada ‘kekosongan’ lainnya yakni tahun 1946, Presiden Soekarno menerbitkan Penetapan Pemerintah tentang hari raya termasuk Khonghucu, dan menjadi janggal jika MATAKIN baru ada tahun 1955. Saya telah melakukan penelitian selama bertahun-tahun dan berdiskusi dengan banyak pakar Khonghucu Indonesia, dan Munas MATAKIN 2018 adalah wadah tertinggi yang bisa merubah sejarah.  

Setelah perdebatan panjang di Komisi A dan saya mempertahankan putusan Komisi A yang saya pimpin dalam sidang Pleno Munas MATAKIN akhirnya untuk pertama kalinya, sejarah MATAKIN dirubah melalui Putusan Munas MATAKIN No. 006/MUNAS XVIII/MATAKIN/2018 dan dicantumkan dalam Anggaran Dasar MATAKIN Bab I Pasal 1 : “Majelis ini bernama Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia atau The Supreme Council for Confucian Religion In Indonesia atau “Yinni Kongjiao Zonghui (ๅฐๅฐผๅญ”ๆ•™ๆ€ปไผš)” dan disingkat MATAKIN. Spirit Majelis ini berawal dari berdirinya Ming Cheng Shu Yuan tahun 1729 dan Tionghoa Hwee Kwan tahun 1900, Majelis ini mula-mula mengadakan kongres nasional pertama kali di Jogjakarta pada tahun 1923. Setelah kemerdekaan,  Majelis ini mengadakan kongres kembali di Solo Jawa Tengah, Indonesia, pada tanggal 16 April 1955 (sebelumnya disebut Perserikatan Khung Chiau Hui Indonesia), untuk jangka waktu yang tidak terbatas”.

Dalam berbagai Putusan Munas MATAKIN 20-22 Desember 2018, akhirnya menempatkan saya sebagai salah satu pimpinan tertinggi MATAKIN dari 9 (sembilan) orang yang disebut Dewan Rohaniwan MATAKIN seluruh Indonesia. Dari 9 (sembilan) anggota Dewan Rohaniwan MATAKIN, 3 orang berdomisili di DKI Jakarta yakni Xueshi (Xs) Djaengrana Ongawijaya & Xueshi (Xs) Ir. Budi Santoso Tanuwibowo, MM. & Wenshi (Ws) Dr. Drs. Chandra Setiawan, PhD. yang saat ini menjadi Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Republik Indonesia, serta 3 orang dari Jawa Barat yakni Wenshi (Ws) Ir. Wawan Wiratma & Wenshi (Ws) Sunarta Hidayat & Jiaosheng (Js) Dede Hasan Senjaya, 1 orang dari Jawa Tengah yakni Wenshi (Ws) Budi Suniarto, MBA, serta 1 orang dari Jambi yakni Js. Darman Wijaya dan saya dari Sulawesi Utara. Saya diminta merangkap jabatan sebagai Ketua Tim Hukum & Advokasi MATAKIN seluruh Indonesia. Masa jabatan pengabdian kami dihitung sejak 2018 dan baru akan berakhir tahun 2022.  

Terpilih sebagai ketua umum Dewan Rohaniwan / Pimpinan Pusat MATAKIN Xueshi (Xs) Ir. Budi Santoso Tanuwibowo, MM. dan Wenshi (Ws) Budi Suniarto, MBA. sebagai ketua Harian Dewan Rohaniwan / Pimpinan Pusat MATAKIN. Dengan dua orang Sekretaris yakni Dq. Peter Lesmana sebagai sekretaris bidang organisasi dan Js. Wang Urip Saputra sebagai sekretaris bidang rohaniwan. 

MATAKIN dihitung sejak Kongres tahun 1923 di Jokyakarta, saat ini berusia 96 tahun. Hari ulang tahun MATAKIN tetap dihitung sejak tanggal 16 April mengacu kepada Kongres di Solo tahun 1955. Demikian benang merah sejarah dan perubahan penting berdasarkan putusan Munas MATAKIN 20-22 Desember 2018 dan telah dituangkan dalam Anggaran Dasar MATAKIN. 

Dirgahayu MATAKIN ke 96 tahun (16 April 2019). 
Viva MATAKIN Jayalah MATAKIN
Salam hormat bagi para sesepuh & para pejuang Khonghucu di seluruh tanah air, terlebih bagi para pemimpin, rohaniwan & pejuang yang telah Pei Tian, abadi bersama Sang Khalik Tuhan Yang Maha Kuasa. Salah satu pejuang, pemimpin & rohaniwan yang sangat berjasa bagi umat Khonghucu Indonesia adalah Mahaguru Alm. Daxueshi Tjhie Tjay Ing. 

Saudara seiman dimanapun berada, Perjuangan belum selesai. 
Bai ...

Wenshi (Ws) Sofyan Jimmy Yosadi, SH. 
Anggota Dewan Rohaniwan MATAKIN dan Ketua Tim Hukum & Advokasi MATAKIN

Minggu, 23 Agustus 2020

Marga Tionghoa

Ini link marga2 di china, kita klik marga kita nanti keluar video mengenai sejarah asal usul marga kita... bagus skl ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘ krn informatif sekali.

 http://ppt.cc/ggdf

*URUTAN MARGA TIONGHOA DARI YANG PALING BANYAK HINGGA KE YANG PALING LANGKA.*

1 ๆŽ lว. Lie. Lee
2 ็Ž‹ wรกng. Ong
3 ๅผ  zhฤng. Thio. Chang
4 ๅˆ˜ liรบ. Lao
5 ้™ˆ chรฉn. Tan
6 ๆจ yรกng. Nyoo. Yo
7 ้ป„ huรกng. Oey. Wong
8 ่ตต zhร o. Tjao
9 ๅ‘จ zhลu. Cho
10 ๅด wรบ. Go
11 ๅพ xรบ. Tjie.
12 ๅญ™ sลซn. Sun
13 ๆœฑ zhลซ. Tju
14 ้ฉฌ mวŽ. Bhe
15 ่ƒก hรบ. Hu
16 ้ƒญ guล. Kwee. Kwek
17 ๆž— lรญn. Liem
18 ไฝ• hรฉ. Hoo
19 ้ซ˜ gฤo. Khao
20 ๆข liรกng. Nio. Liong
21 ้ƒ‘ zhรจng. The. Tjen
22 ็ฝ— luรณ. Loo
23 ๅฎ‹ sรฒng. Soong
24 ่ฐข xiรจ. Tjia
25 ๅ” tรกng. Tong
26 ้Ÿฉ hรกn. Han
27 ๆ›น cรกo. Chao
28 ่ฎธ xว”. Hui
29 ้‚“ dรจng. Teng
30 ่ง xiฤo. Siao
31 ๅ†ฏ fรฉng. Bang
32 ๆ›พ zฤ“ng. Tjan
33 ็จ‹ chรฉng. ?
34 ่”ก cร i. Tjoa
35 ๅฝญ pรฉng
36 ๆฝ˜ pฤn. Phoa
37 ่ข yuรกn. Yen?
38 ไบŽ yรบ
39 ่‘ฃ dว’ng. Tung
40 ไฝ™ yรบ. 
41 ่‹ sลซ.
42 ๅถ yรจ. Yap
43 ๅ• lวš. Lu
44 ้ญ wรจi. Goei
45 ่’‹ jiวŽng. Tjio
46 ็”ฐ tiรกn. Thien 
47 ๆœ dรน. Toe
48 ไธ dฤซng. Ting
49 ๆฒˆ shฤ›n. Siem
50 ๅงœ jiฤng. Tjiang
51 ่Œƒ fร n. Fan 
52 ๆฑŸ jiฤng. Kang
53 ๅ‚… fรน. 
54 ้’Ÿ zhลng
55 ๅข lรบ
56 ๆฑช wฤng
57 ๆˆด dร i
58 ๅด” cuฤซ
59 ไปป rรจn
60 ้™† lรน
61 ๅป– liร o
62 ๅงš yรกo
63 ๆ–น fฤng
64 ้‡‘ jฤซn
65 ้‚ฑ qiลซ
66 ๅค xiร 
67 ่ฐญ tรกn
68 ้Ÿฆ wรฉi
69 ่ดพ jiวŽ
70 ้‚น zลu
71 ็Ÿณ shรญ
72 ็†Š xiรณng
73 ๅญŸ mรจng
74 ็งฆ qรญn
75 ้˜Ž yรกn
76 ่–› xuฤ“
77 ไพฏ hรณu
78 ้›ท lรฉi
79 ็™ฝ bรกi
80 ้พ™ lรณng
81 ๆฎต duร n
82 ้ƒ hวŽo
83 ๅญ” kว’ng
84 ้‚ต shร o
85 ๅฒ shว
86 ๆฏ› mรกo
87 ๅธธ chรกng
88 ไธ‡ wร n
89 ้กพ gรน
90 ่ต– lร i
91 ๆญฆ wว”
92 ๅบท kฤng
93 ่ดบ hรจ
94 ไธฅ yรกn
95 ๅฐน yวn
96 ้’ฑ qiรกn
97 *ๆ–ฝ shฤซ*
98 ็‰› niรบ
99 ๆดช hรณng
100 ้พš gลng
101 ๅฎ‰ ฤn
102 ่ฏธ zhลซ
103 ๅซ wรจi
104 ๅฐค yรณu
103 ๅŽ huรก
106 ้™ถ tรกo
107 ๆˆš qฤซ
108 ๅ–ป yรน
109 ๆŸ bวŽi
110 ๆฐด shuว
111 ็ชฆ dรฒu
112 ็ซ  zhฤng
113 ไบ‘ yรบn
114 ่‘› gรฉ
115 ๅฅš xฤซ
116 ้ƒŽ lรกng
117 ้ฒ lว”
118 ๆ˜Œ chฤng
119 ่‹— miรกo
120 ๅ‡ค fรจng
121 ่Šฑ huฤ
122 ไฟž yรบ
123 ๆŸณ liว”
124 ้…† fฤ“ng
125 ้ฒ bร o
126 ่ดน fรจi
127 ๅป‰ liรกn
128 ๅฒ‘ cรฉn
129 ๅ€ช nรญ
130 ๆฑค tฤng
131 ๆป• tรฉng
132 ๆฎท yฤซn
133 ๆฏ• bรฌ
134 ้‚ฌ wลซ
135 ไน lรจ
136 ๆ—ถ shรญ
137 ็šฎ pรญ
138 ๅž biร n
139 ้ฝ qรญ
140 ไผ wว”
141 ๅ…ƒ yuรกn
142 ๅœ bว”
143 ๅนณ pรญng
144 ๅ’Œ hรฉ
145 ็ฉ† mรน
146 ๅ ช kฤn
147 ็ฅ qรญ
148 ็ฆน yว”
149 ็‹„ dรญ
150 ็ฑณ mว
151 ่ด bรจi
152 ๆ˜Ž mรญng
153 ่‡ง zฤng
154 ่ฎก jรฌ
155 ไผ fรบ
156 ๆˆ chรฉng
157 ่ฐˆ tรกn
158 ่Œ… mรกo
159 ๅบž pรกng
160 ็บช jรฌ
161 shลซ
162 ๅฑˆ qลซ
163 ้กน xiร ng
164 ็ฅ zhรน
165 ็ฒฑ liรกng
166 ้˜ฎ ruวŽn
167 ่“ lรกn
168 ้—ต mวn
169 ๅธญ xรญ
170 ๅญฃ jรฌ
171 ้บป mรก
172 ๅผบ qiรกng
173 ่ทฏ lรน174 ๅจ„ lวš
175 ๅฑ wรฉi
176 ็ซฅ tรณng
177 ้ขœ yรกn
178 ๆข… mรฉi
179 ็›› shรจng
180 ๅˆ diฤo
181 ้ช† luรฒ
182 ๆจŠ fรกn
183 ๅ‡Œ lรญng
184 ้œ huรฒ
185 ่™ž yรบ
186 ๆ”ฏ zhฤซ
187 ๆŸฏ kฤ“
188 ๅ’Ž jiรน
189 ็ฎก guวŽn
190 ่Žซ mรฒ
191 ็ป jฤซng
192 ๆˆฟ fรกng
193 ่ฃ˜ qiรบ
194 ็ผช miร o
195 ๅนฒ gฤn
196 ่งฃ jiฤ›
197 ๅบ” yรฌng
198 ๅฎ— zลng
199 ๅฎฃ xuฤn
200 ่ดฒ bรฌ
201 ้ƒ yรน
202 ๅ• dฤn
203 ๆญ hรกng
204 ๅŒ… bฤo
205 ่ฏธ zhลซ
206 ๅทฆ zuว’
207 ๅ‰ jรญ
208 ้’ฎ niว”
209 ๅต‡ jฤซ
210 ้‚ข xรญng
211 ๆป‘ huรก
212 ่ฃด pรฉi
213 ่ฃ rรณng
214 ็ฟ *wฤ“ng
* 215 ่€ xรบn
216 ็พŠ yรกng
217 ๆ–ผ yรบ
218 ๆƒ  huรฌ
219 ็”„้ญ zhฤ“n wรจi
220 ๅฎถๅฐ jiฤ fฤ“ng
221 ่Šฎ ruรฌ
222 ็พฟ yรฌ
223 ๅ‚จ chรบ
224 ้ณ jรฌn
225 ๆฑฒ jรญ
226 ้‚ด bวng
227 ็ณœ mรญ
228 ๆพ sลng
229 ไบ• jวng
230 ๅฏŒ fรน
231 ๅทซ wลซ
232 ไนŒ wลซ
233 ็„ฆ jiฤo
234 ๅทด bฤ
235 ๅผ“ gลng
236 ็‰ง mรน
237 ้š— wฤ›i
238 ๅฑฑ่ฐท shฤn gว”
239 ่ฝฆ chฤ“
240 ๅฎ“ mรฌ
241 ่“ฌ pรฉng
242 ๅ…จ quรกn
243 ้ƒ— chฤซ
244 ็ญ bฤn
245 ไปฐ yวŽng
246 ็ง‹ qiลซ
247 ไปฒ zhรฒng
248 ไผŠ yฤซ
249 ๅฎซ gลng
250 ๅฎ zhรน
251 ไป‡ chรณu
252 ๆ พ luรกn
253 ๆšด bร o
254 ็”˜ gฤn
255 ้’ญ tว’u
256 ๅމ lรฌ
257 ๆˆŽ rรณng
258 ็ฅ– zว”
259 ็ฌฆ fรบ
260 ๆ™ฏ jวng
261่ฉน zhฤn
262 ๆŸ shรน
263 ๅนธ xรฌng
264 ๅธ sฤซ
265 ้Ÿถ shรกo
266 ้ƒœ gร o
267 ้ปŽ lรญ
268 ่“Ÿ jรฌ
269 ่–„ bรณ
270 ๅฐ yรฌn
271 ๅฎฟ sรน
272 ๆ€€ huรกi
273 ่’ฒ pรบ
274 ๅฐ tรกi
275 ไปŽ cรณng
276 ้„‚ รจ
277 ็ดข suว’
278 ๅ’ธ xiรกn
279 ็ฑ jรญ
280 ๅ“ zhuรณ
281 ่”บ lรฌn
282 ๅฑ  tรบ
283 ่’™ mรฉng
284 ๆฑ  chรญ
285 ไน” qiรกo
286 ้˜ด้ƒ yฤซn yรน
287 ่ƒฅ xลซ
288 ่ƒฝ nรฉng
289 ่‹ cฤng
290 ๅŒ shuฤng
291 ้—ป wรฉn
292 ่Ž˜ xฤซn
293 ๅ…š็ฟŸ dวŽng zhรกi
294 ่ดก gรฒng
295 ๅŠณ lรกo
296 ้€„ pรกng
297 ๅงฌ jฤซ
298 ็”ณ shฤ“n
299 ๆ‰ถ fรบ
300 ๅ ต dว”
301 ๅ†‰ rวŽn
302 ๅฎฐ zวŽi
303 ้ƒฆ lรฌ
304 ้› yลng
305 ๅป quรจ
306 ็’ฉ qรบ
307 ๆก‘ sฤng
308 ๆก‚ guรฌ
309 ๆฟฎ pรบ
310 ๅฏฟ shรฒu
311 ้€š tลng
312 ่พน biฤn
313 ๆ‰ˆ hรน
314 ็‡• yร n
315 ๅ†€ jรฌ
316 ้ƒ jiรก
317 ๆตฆ pว”
318 ๅฐš shร ng
319 ๅ†œ nรณng
320 ๆธฉ wฤ“n
321 ๅˆซ biรฉ
322 ๅบ„ zhuฤng
323 ๆ™ yร n
324 ๆŸด chรกi
325 ็ฟŸ zhรกi
326 ๅ…… chลng
327 ๆ…• mรน
328 ่ฟž liรกn
329 ่Œน rรบ
330 ไน  xรญ
331 ๅฎฆ huร n
332 ่‰พ ร i
333 ้ฑผ yรบ
334 ๅฎน rรณng
335 ๅ‘ xiร ng
336 ๅค gว”
337 ๆ˜“ yรฌ
338 ๆ…Ž shรจn
339 ๆˆˆ gฤ“
340 ๅบš gฤ“ng
341 ็ปˆ zhลng
342 ๆšจ jรฌ
343 ๅฑ… jลซ
344 ่กก hรฉng
345 ๆญฅ bรน
346 ้ƒฝ dลu
347 ่€ฟ gฤ›ng
348 ๆปก mวŽn
349 ๅผ˜ hรณng
350 ๅŒก kuฤng
351 ๅ›ฝ guรณ
352 ๆ–‡ wรฉn
353 ๅฏ‡ kรฒu
354 ๅนฟ guวŽng
355 ็ฆ„ lรน
356 ้˜™ quฤ“
357 ไธœ dลng
358 ๆฎด ลu
359 ๆฎณ shลซ
360 ๆฒƒ wรฒ
361 ๅˆฉ lรฌ
362 ่”š wรจi
363 ่ถŠ yuรจ
364 ๅค” kuรญ
365 ้š† lรณng
366 ๅธˆ shฤซ
367 ๅทฉ gว’ng
368 ๅŽ shรจ
367 ่‚ niรจ
370 ๆ™ chรกo
371 ๅ‹พ gลu
372 ๆ•– รกo
373 ่ž rรณng
374 ๅ†ท lฤ›ng
375 ่จพ zว
376 ่พ› xฤซn
377 ้˜š kร n
378 ้‚ฃ na
379 ็ฎ€ jiวŽn
380 ้ฅถ rรกo
381 ็ฉบ kลng
382 ๆฏ‹ wรบ
383 ๆฒ™ shฤ
384 ไนœ miฤ“
385 ๅ…ป yang
386 ้ž  jรบ
387 ้กป xลซ
388 ไธฐ fฤ“ng
389 ๅทข chรกo
390 ๅ…ณ guฤn
391 ่’ฏ kuวŽi
392 ็›ธ xiฤng
393 ๆŸฅ chรก
394 ๅŽ hรฒu
395 ่† jฤซng
396 ็บข hรณng
397 ๆธธ yรณu
398 ็ซบ zhรบ
399 ๆƒ quรกn
400 ้€ฏ lรน
401 ็›– gร i
402 ๅพŒ hรฒu
403 ๆก“ๅ…ฌ huรกn gลng
404 ไธ‡ไฟŸ wร n sรฌ
405 ๅธ้ฉฌ sฤซ mวŽ
406 ไธŠๅฎ˜ shร ng guฤn
407 ๆฌง้˜ณ ลu yรกng
408 ๅคไพฏ xiร  hรณu
409 ่ฏธ่‘› zhลซ gรฉ
410 ้—ปไบบ wรฉn rรฉn
411 ไธœๆ–น dลng fฤng
412 ่ตซ่ฟž hรจ liรกn
413 ็š‡็”ซ huรกng fว”
414 ๅฐ‰่ฟŸ wรจi chรญ
415 ๅ…ฌ็พŠ gลng yรกng
416 ๆพนๅฐ dร n tรกi
417 ๅ…ฌๅ†ถ gลng yฤ›
418 ๅฎ—ๆ”ฟ zลng zhรจng
419 ๆฟฎ้˜ณ pรบ yรกng
420 ๆทณไบŽ chรบn yรบ
421 ๅ•ไบŽ dฤn yรบ
422 ๅคชๅ” tร i shรบ
423 ็”ณๅฑ  shฤ“n tรบ
424 ๅ…ฌๅญ™ gลng sลซn
425 ไปฒๅญ™ zhรฒng sลซn
426 ่ฝฉ่พ• xuฤn yuรกn
427 ไปค็‹ lรฌng hรบ
428 ้’Ÿ็ฆป zhลng lรญ
429 ๅฎ‡ๆ–‡ yว” wรฉn
430 ้•ฟๅญ™ zhวŽng sลซn
431 ๆ…•ๅฎน mรน rรณng
432 ้ฒœไบŽ xiฤn yรบ
433 ้—พไธ˜ lว˜ qiลซ
434 ๅธๅพ’ sฤซ tรบ
435 ๅธ็ฉบ sฤซ kลng
436 ไบ“ qรญ
437 ๅฎ˜ guฤn
438 ๅธๅฏ‡ sฤซ kรฒu
439 ไป‰ zhวŽng
440 ็ฃ dลซ
441 ๅญ zi
442 ่ฝฆ chฤ“
443 ้ข›ๅญ™ zhuฤn sลซn
444 ็ซฏๆœจ duฤn mรน
445ๅทซ้ฉฌ wลซ mวŽ
446 ๅ…ฌ่ฅฟ gลng xฤซ
447 ๆผ†้›• qฤซ diฤo
448 ไนๆญฃ lรจ zhรจng
449 ๅฃค rวŽng
450 ้ฉท sรฌ
451 ๅ…ฌ่‰ฏ gลng liรกng
452 ๆ‹“ tuรฒ
453 ๆ‹” bรก
454 ๅคน jiรก
455 ่ฐท gว”
456 ๅฎฐ็ˆถ zวŽi fรน
457 ่ฐท็ฒฑ gว” liรกng
458 ๆ™‹ jรฌn
459 ๆฅš chว”
460 ้—ซ yร n
461 ๆณ• fวŽ
462 ๆฑ rว”
463 ้„ข yฤn
464 ๆถ‚ tรบ
465 ้’ฆ qฤซn
466 ๆฎตๅนฒ duร n gฤn
467 ็™พ้‡Œ bวŽi lว
468 ไธœ้ƒญ dลng guล
469 ๅ—้—จ nรกn mรฉn
470 ๅ‘ผๅปถ hลซ yรกn
471 ๅฝ’ guฤซ
472 ๆตท hวŽi
473 ็พŠ่ˆŒ yรกng shรฉ
474 ๅพฎ wรฉi
475 ็”Ÿ shฤ“ng
476 ๅฒณ yuรจ
477 ๅธ… shuร i
478 ็ผ‘ gลu
479 ไบข kร ng
480 ๅ†ตๅŽ kuร ng hรฒu
481 ๆœ‰็ด yว’u qรญn
482 ไธ˜ qiลซ
483 ๅทฆไธ˜ zuว’ qiลซ
484 ไธœ้—จ dลng mรฉn
485 ่ฅฟ้—จ xฤซ mรฉn
486 ๅ•† shฤng
487 ็‰Ÿ mรณu
488 ไฝ˜ shรฉ
489 ไฝด รจr
490 ไผฏ bรณ
491 ่ต shวŽng
492 ๅ—ๅฎซ nรกn gลng
493 ๅขจ mรฒ
494 ๅ“ˆ hฤ
495 ่ฐฏ qiรกo
496 ็ฌช dรก
497 ๅนด niรกn
498 ็ˆฑ ร i
499 ้˜ณ yรกng
500 ไฝŸ tรณng
501 ๆฌง ลu
502 ้ป‘ hฤ“i
503 ๅŠฑ lรฌ
504 ๆฅผ lรณu
505 ้บฆ mร i
506 ่Žฝ mวŽng
507 ๅ— nรก
508 ่ต› sร i
509 ๅฑฑ shฤn

Marga Anda urutan ke berapa ? Silahkan dicermati๐Ÿ™

Jumat, 24 Juli 2020

Bakti dan Hormat dalam Katolik

Bagus dan bermanfaat untuk dibaca 
Untuk kita sebagai orang Tionghoa
Semalam (21 Juli 2020) saya mengikuti ‘Kuliah MBA University’ yang disampaikan oleh Romo J.A. Hendra Suteja, S.J. (RHS) melalui channel Zoom di atas ๐Ÿ‘†. 

Sebagai orang Tionghoa Katolik, perasaan saya campur aduk ketika mengikuti materi kuliah itu. Ada rasa bangga, ada rasa terharu tetapi juga ada rasa malu. Betapa tidak? Sebagai keturunan Tionghoa, saya tidak memahami akar budaya leluhur sendiri. Bahkan, seringkali ikut larut dan tidak terpanggil untuk mempelajari akar budaya Tionghoa walaupun ada yang sinis dan mencemooh pada satu-dua ritual Tionghoa. Misalnya, menengok kuburan leluhur pada hari Cengbeng 5 April. Atau bahkan turut menganggap itu sebagai peristiwa tahayul yang berada di luar keimanan Kristen. Kuliah satu jam tadi malam benar-benar membuka mata saya dari pandangan kelam pada Budaya Tionghoa. 

Gereja Katolik (GK), rupanya, memandang perlu mempelajari Budaya Tionghoa sehingga menugaskan RHS untuk studi bahasa, budaya dan pemikiran Tionghoa pada 1978-1981 di Taiwan. Studinya dilanjutkan di Faculty of theology, Fujen Catholic University juga di Taiwan pada 1982-1985. Jadi total, RHS belajar 7 tahun di Taiwan. Setelah 1988-1991 mengambil S2 di Roma, RHS menerima gelar Doktor dan dari 2016 sampai sekarang mengajar (dosen) ‘Filsafat Tionghoa’ di STF (Sekolah Tinggi Filsafat) Driyarkara, Jakarta.

Walaupun tidak dijelaskan secara langsung, saya yakin beliau adalah salah satu referensi GK ketika akan mengadakan *inkulturisasi Budaya Tionghoa*.

Semalam, RHS menjelaskan konsep berfikir peradaban Tionghoa *Ben-mo*. Setiap benda punya pangkal dan ujung, setiap peristiwa punya awal dan akhir. Dalam kehidupan, budaya Tionghoa mengajarkan bahwa fajar akan selalu muncul kembali. Dari gelap akan selalu terbit terang. Dan dalam hidup, kita tidak perlu ekstrim baik dalam gelap maupun dalam terang.

RHS juga menjelaskan tata susunan hirarki keluarga Tionghoa yang menganut garis ayah (patriarkhat). Yang kemudian berkembang menjadi lima relasi, yaitu Raja-Menteri, ayah-anak, suami-isteri, kakak-adik dan teman-teman. Ayah harus murah hati dan kasih pada anak, anak harus berbakti pada ayah; suami mengurus bagian luar dan isteri bagian dalam; kakak melindungi adik dan adik menghormati kakak; antar teman saling menjaga kepercayaan. Semuanya berakar pada keutamaan yang disebut ‘Xiaoti’ yaitu bakti dan hormat. Apakah perbedaan antara bakti dan hormat menurut falsafah Tionghoa?

Xiao adalah ungkapan hormat pada orang tua. Selagi ayah masih hidup memperhatikan kehendaknya, setelah ayah wafat meneladani kebaikannya dan jika setelah tiga tahun tetap mengikuti jalan teladan ayah maka anak itu boleh disebut BERBAKTI. Jadi bakti bukan sekedar hormat dan patuh tapi juga mengikuti teladan ayah - pun setelah beliau tiada. *BAKTI inilah urat nadi dari peradaban Tionghoa.*

Siapakah leluhur menurut budaya Tionghoa? Leluhur adalah orang pertama yang membangun keluarga di suatu tempat. Dari garis ibu, leluhur saya adalah kakek yang masih lahir di daratan ๐Ÿ‡จ๐Ÿ‡ณ dan dari garis ayah leluhur saya adalah ayah kakek yang pertama kali datang dari daratan๐Ÿ‡จ๐Ÿ‡ณ. Selain ikatan darah, leluhur juga merupakan kekuatan yang menanamkan kebaikan dan menjaga keturunannya. Jadi leluhur dalam budaya Tionghoa bukan sekedar kenangan masa lalu dan berakhir ketika mereka telah tiada. Leluhur turut mewariskan nilai-nilai kebaikan dalam keluarga dan untuk itu keturunannya perlu tetap berbakti kepada mereka.

Dalam budaya Tionghoa, penghormatan terhadap leluhur bukan suatu kepercayaan agamis melainkan suatu keniscayaan norma hidup yang harus dilakukan sehari-hari. Salah satu bentuk penghormatan pada leluhur adalah dengan membersihkan dan memperbaiki makam mereka, juga membakar kertas uang seakan mengantar almarhum pada tata kehidupan di tempat lain. Tindakan ini dikategorikan sebagai ritual penghormatan terhadap leluhur. Budaya Tionghoa memiliki banyak sekali ritual. Kuliah semalam fokus pada ritual dalam kaitannya dengan penghormatan pada leluhur. Dari gagasan leluhur lahirlah penghormatan, dan dari penghormatan lahirlah Bakti dan Ritual. Itulah dasar budaya Tionghoa.

Anak berbakti kepada orang tua semasa hidupnya dengan melaksanakan ritual dalam bentuk merawat dan melayani orang tua. Saat orang tua meninggal melakukan ritual pernghormatan pada jenazah dan melanjutkan ritual dengan melakukan kebaikan dan teladan yang telah diwariskan oleh orang tua. Ritual tidak muncul karena apakah roh-roh benar ada atau tidak. Penghormatan dan persembahan kepada leluhur adalah ungkapan hormat dan bakti yang muncul dari rasa kasih. Maka dalam budaya Tionghoa, *ritual adalah ungkapan puitis bukan agamis*.

Jadi pengiriman uang, rumah-rumahan, pakaian-pakaian kepada leluhur itu bukanlah ungkapan keagamaan melainkan ujud BAKTI anak terhadap orang tua dan leluhurnya. GK mengadopsi sebagian yang memang sejalan dengan iman dan ajaran Katolik, tapi GK mengajak umatnya untuk tidak menyalahkan, meremehkan apalagi mengolok-olok tradisi yang ada dalam budaya Tionghoa yang sekiranya tidak sejalan dengan ajaran gereja. Tidak semua isi kuliah bisa dituangkan di sini, bagi yang tertarik silahkan klik link berikut ini.
 https://www.youtube.com/watch?v=2fbIWC2agPc&feature=youtu.be 

Frans Gunterus, 22 Juli 2020

Kamis, 16 April 2020

kisah Perampok inspiratif

PERAMPOK CERDAS

Perampok berteriak kepada semua orang di bank :

” Jangan bergerak! Uang ini semua milik Negara. Hidup Anda adalah milik Anda ..”

Semua orang di bank kemudian tiarap.

Hal ini disebut “Mind changing concept – merubah cara berpikir“.

Semua orang berhasil merubah cara berpikir dari cara yang bisa menjadi cara yang kreatif.

Salah satu nasabah yang sexy mencoba merayu perampok. Tetapi malah membuat perampok marah dan berteriak, ” Yang sopan mbak! Ini perampokan bukan perkosaan!”

Hal ini disebut ” Being professional – bertindak professional“. Fokus hanya pada pekerjaan sesuai prosedur yang diberikan.

Setelah selesai merampok bank dan kembali ke rumah, perampok muda yang lulusan MBA dari universitas terkenal berkata kepada perampok tua yang hanya lulusan SD ” Bang, sekarang kita hitung hasil rampokan kita”.

Perampok tua menjawab. ” Dasar bodoh, Uang yang kita rampok banyak, repot menghitungnya. Kita tunggu saja berita TV, pasti ada berita mengenai jumlah uang yang kita rampok.”

Hal ini disebut “Experience – Pengalaman“. Pengalaman lebih penting daripada selembar kertas dari universitas.

Sementara di bank yang dirampok, si manajer berkata kepada kepala cabangnya untuk segera lapor ke polisi. Tapi kepala cabang berkata, ” Tunggu dulu, kita ambil dulu 10 milliar untuk kita bagi dua. Nanti totalnya kita laporkan sebagai uang yang dirampok.”

Hal ini disebut “Swim with the tide – ikuti arus“. Mengubah situasi yang sulit menjadi keuntungan pribadi.

Kemudian kepala cabangnya berkata,” Alangkah indahnya jika terjadi perampokan tiap bulan.”

Hal ini disebut “Killing boredom – menghilangkan kebosanan“. Kebahagiaan pribadi jauh lebih penting dari pekerjaan Anda.

Keesokan harinya berita di TV melaporkan uang 100 milliar dirampok dari bank. Perampok menghitung uang hasil perampokan dan perampok sangat murka. “Kita susah payah merampok cuma dapat 20 milliar,orang bank tanpa usaha dapat 80 milliar. Lebih enak jadi perampok yang berpendidikan rupanya.”

Hal ini disebut sebagai “Knowledge is worth as much as gold – pengetahuan lebih berharga daripada emas“.

Dan di tempat lain manajer dan kepala cabang bank tersenyum bahagia karena mendapat keuntungan dari perampokan yang dilakukan orang lain.

Hal ini disebut sebagai “seizing opportunity – berani mengambil risiko“.

Selamat mencermati kisah diatas. Meski  mengandung humor namun ada point-point yang bisa kita tangkap dari humor bisnis di atas... 

Apakah anda bisa melihat, mengapa bangsa ini selalu ada keributan ?

Kisah Perampokan diatas, adalah representing segala sesuatu yg terjadi di Negara ini.

Jumat, 03 April 2020

pembelajaran dari Covid-19

27 things that covid-19 virus made:

1. USA is no longer the world's leading country.
2. China won the 3rd world war without firing a missile and no one could handle it.
3. Vladimir Putin is a visionary.
4. Prevention saves more lives than acting at the last moment.
5. Health professional are worth more than football players.
6. Europeans are not as educated as they appear.
7. We are not mistaken when we ask for more hospitals "and less war".
8. Children occupy a privileged place in nature.
9. Oil is worthless in a society without consumption.
10. Death doest not distinguish race, colour, or social strata.
11. Human being are opportunistic and despicable, no matter their socioeconomic position when raising prices.
12. Toilet paper is more important than food.
13. Social networks bring us closer, but it is also the means to create panic.
14. Now we know how animals feel in zoos.
15. Today's children no longer know how to play without internet or TV.
16. There are those who earn millions and do not server humanity.
17. Computer engineers are important, they already know where the internet fell.
18. Health care workers are alone, abandoned and forgotten. Even so, they never give up.
19. Children are now educated as free thinkers by their parents.
20. Does aid favour the wealthy, and the needy? Those who live day-by-day are disoriented.
21. Not pastor save the coronavirus patients.
22. We started to appreciate the great gesture of trust, that also means shaking hands.
23. Humans are the real viruses on this planet.
24. The planet regenerates quickly without humans.
25. We are not prepared for a pandemic.
26. Politicians take the opportunity to pull the rug from the rival.
27. More should be invested in health rather than festivals.

-- Ramkumar Pachaiyapan